JAKARTA - Melihat bayi atau balita memasukkan aneka benda ke mulut kerap menjadi pemandangan harian bagi setiap orang tua.
Mainan, ujung kain, jari tangan, hingga benda yang tercecer di lantai bisa seketika dicoba dengan mulut. Kebiasaan ini sebenarnya merupakan bagian alami dari proses anak mengenali lingkungan di sekitarnya.
Oleh sebab itu, orang tua tidak perlu langsung cemas atau terus-menerus melarang anak setiap kali memasukkan sesuatu ke mulut. Hal yang jauh lebih krusial adalah memastikan benda maupun lingkungan di sekitar anak aman untuk dieksplorasi.
Terdapat beberapa langkah efektif yang dapat dilakukan orang tua untuk menjaga anak tetap aman saat bermain:
Jauhkan benda kecil dari jangkauan Langkah paling mendasar adalah memastikan barang-barang berukuran kecil tidak mudah digapai oleh anak. Melansir rujukan American Academy of Pediatrics (AAP), anak kecil memiliki risiko tersedak lebih tinggi lantaran masih gemar mengeksplorasi benda lewat mulut.
Saluran pernapasan mereka juga masih berukuran sangat kecil sehingga benda yang terkesan sepele bagi orang dewasa dapat berbahaya bagi anak. Selalu periksa barang kecil yang mungkin tercecer di lantai, bawah furnitur, atau sela-sela sofa.
Baterai, kancing, serta magnet berukuran kecil butuh perhatian khusus. Bila sampai tertelan, benda-benda tersebut dapat mengakibatkan cedera organ dalam yang serius pada tubuh anak.
Pilih mainan sesuai kelompok usia Tidak semua jenis mainan cocok untuk segala usia anak. Cermati label batas usia pada kemasan dan pilih mainan yang tidak memiliki komponen kecil yang rentan terlepas.
Pihak AAP juga menyarankan agar bagian mainan yang diberikan kepada anak kecil berukuran lebih besar ketimbang rongga mulutnya. Cek kondisi mainan secara berkala guna memastikan tidak ada komponen yang retak, patah, atau longgar.
Jangan sekadar melarang, coba alihkan Kala anak memasukkan benda ke mulut, repons spontan orang tua umumnya berupa teguran keras. Mengingatkan sesekali tentu wajar, namun kemampuan bayi dan balita dalam mengendalikan perilaku masih terus berkembang.
Ketimbang terus melarang, orang tua dapat mengambil benda yang berbahaya lalu menggantinya dengan benda lain yang aman. Metode ini sekaligus membantu anak belajar membedakan mana benda yang boleh dan tidak boleh dimasukkan ke mulut.
Sediakan benda yang aman untuk digigit Saat memasuki fase tumbuh gigi, anak biasanya makin sering memasukkan benda ke mulut. Orang tua bisa menyediakan teether atau mainan yang dirancang khusus untuk digigit sesuai usia anak.
Pastikan benda tersebut bebas dari komponen kecil yang mudah lepas. Kondisinya pun perlu dicegah dari kerusakan. Jika sudah retak, robek, atau rusak, segera tarik dan jangan diberikan lagi kepada anak.
Tetap awasi saat bermain dan makan Pendampingan tetap memegang peranan penting, khususnya saat anak sedang dikelilingi banyak benda atau ketika makan. Orang tua tidak harus memegangi anak terus-menerus, tetapi cukup berada dekat sehingga bisa sigap mengamankan benda berbahaya.
Perhatikan pula bentuk dan ukuran makanan yang disajikan. Potongan makanan tertentu dapat meningkatkan potensi tersedak. Oleh karena itu, olahan makanan wajib disiapkan dalam bentuk yang sesuai dengan kemampuan kunyah anak.
Penanganan jika benda sudah masuk ke mulut Apabila anak baru saja memasukkan benda ke mulut namun belum menelannya, keluarkan benda tersebut secara tenang selama masih mudah dijangkau. Hindari tindakan yang membuat anak panik atau terkejut.
Jika anak menangis atau bergerak mendadak, benda tersebut justru berisiko terdorong masuk lebih dalam dan memperbesar ancaman tersedak.
Bila anak tampak kesulitan bernapas, tidak sanggup menangis atau batuk secara efektif, serta menunjukkan tanda tersedak, segera berikan pertolongan pertama yang sesuai dan hubungi bantuan medis.
Perilaku Normal Perkembangan Anak
Memasukkan benda ke dalam mulut pada dasarnya merupakan bagian alami dari tahapan tumbuh kembang bayi dan balita. Merujuk riset di jurnal Pediatrics, aktivitas mouthing merupakan perilaku yang normal pada anak usia dini.
Lewat sensorik mulut, anak belajar mengenali tekstur, bentuk, serta karakteristik objek di sekitarnya. Jadi, hal yang perlu dicegah bukanlah melarang total aktivitas mulut anak, melainkan membatasi masuknya benda berbahaya yang berpotensi memicu tersedak dan cedera.
Orang tua dapat merancang area bermain menjadi jauh lebih aman tanpa mengurangi ruang bagi anak untuk bereksplorasi secara bebas.