JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto membahas penguatan sektor otomotif dan elektronik nasional melalui pengembangan teknologi semikonduktor. Rapat terbatas itu digelar bersama jajaran Kabinet Merah Putih di kediaman pribadinya, Hambalang, Minggu, 11 Januari 2026.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyatakan pembahasan tersebut bertujuan membangun fondasi industri masa depan Indonesia. “Hal ini ditujukan untuk membangun industri chip [semikonduktor] masa depan Indonesia yang akan dimanfaatkan untuk industri otomotif, digital, dan elektronik,” ujar Teddy, Senin, 12 Januari 2026.
Pemerintah menilai sektor otomotif dan elektronik semakin bergantung pada chip dan komponen semikonduktor. Dengan investasi dan penguatan ekosistem semikonduktor, Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga pusat produksi dan inovasi teknologi global.
Strategi Pemerintah Memperkuat Kemandirian Industri Nasional
Pengembangan industri semikonduktor merupakan langkah strategis memperkuat kemandirian industri nasional. Hal ini sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia dalam rantai pasok global teknologi tinggi.
Pemerintah menargetkan sektor otomotif, kendaraan listrik, dan perangkat elektronik cerdas dapat memanfaatkan semikonduktor lokal. Dengan demikian, ketergantungan impor chip dapat ditekan secara bertahap, mendorong ekosistem industri yang berkelanjutan.
Kemenko Bidang Perekonomian mengungkap minat internasional terhadap pengembangan industri semikonduktor di Indonesia. Menteri Airlangga Hartarto menyatakan Amerika Serikat menunjukkan ketertarikan melalui perjanjian perdagangan bilateral yang mendorong hilirisasi industri.
“Melanjutkan hilirisasi industri, dengan ditandatangani perjanjian perdagangan Amerika sudah mulai tertarik untuk mendorong semikonduktor di Indonesia, ini yang sekarang juga sedang dipersiapkan ekosistemnya,” kata Airlangga dalam konferensi pers RAPBN dan Nota Keuangan 2026, Jumat, 15 Agustus 2025.
Potensi Sumber Daya Alam dan Tantangan SDM
Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan semikonduktor karena bahan bakunya tersedia di Tanah Air. Pasir kuarsa SiO2 dengan potensi 27 miliar ton dan cadangan 330 juta ton tersebar di 23 provinsi, bisa diolah menjadi silikon untuk chip semikonduktor.
Selain pasir kuarsa, negara ini juga memiliki tembaga, bauksit, dan emas yang menjadi bahan pendukung industri chip. Namun, tantangan utama tetap ada pada keterbatasan sumber daya manusia, teknologi, dan infrastruktur yang belum memadai.
Semikonduktor bahkan disebut sebagai 'minyak bumi' baru dengan nilai pasar global mencapai US$592 miliar. Potensi ekonomi besar ini mendorong pemerintah untuk menyiapkan ekosistem industri chip domestik agar Indonesia ikut ambil bagian dalam pasar teknologi global.
Target Indonesia di Industri Semikonduktor Global
Melalui pengembangan industri semikonduktor, Indonesia menargetkan menjadi bagian dari rantai pasok global teknologi tinggi. Industri otomotif dan elektronik diharapkan memanfaatkan chip lokal untuk kendaraan listrik, perangkat digital, dan produk elektronik cerdas.
Investasi di sektor ini diharapkan memperkuat ekosistem riset, produksi, hingga distribusi komponen chip. Langkah ini sekaligus membuka peluang lapangan kerja baru dan meningkatkan kapasitas SDM di sektor teknologi tinggi nasional.
Pemerintah juga menekankan pentingnya kolaborasi antara sektor publik dan swasta. Dengan dukungan investasi, regulasi, dan fasilitas penelitian, Indonesia dapat menjadi pusat inovasi semikonduktor yang kompetitif.
Dampak Ekonomi dan Peningkatan Daya Saing Nasional
Pengembangan industri semikonduktor diyakini akan memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian nasional. Produk lokal dengan nilai tambah tinggi dapat meningkatkan ekspor dan mengurangi ketergantungan impor.
Sektor otomotif dan elektronik diproyeksikan berkembang lebih cepat berkat ketersediaan chip lokal. Selain itu, kehadiran industri chip domestik dapat memacu hilirisasi dan inovasi teknologi baru, memperkuat posisi Indonesia di mata investor global.
Dengan fondasi yang kuat, pemerintah menargetkan Indonesia tidak hanya menjadi konsumen teknologi tinggi. Negara ini juga siap menjadi produsen dan inovator yang berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi dan kemandirian teknologi nasional.