JAKARTA - Pasar energi global kembali dikejutkan oleh lonjakan harga batu bara yang signifikan.
Kenaikan ini dipicu secara langsung oleh sentimen dari Indonesia—sebagai eksportir batu bara termal terbesar di dunia—yang tengah mengevaluasi kuota produksi dan memperketat pengawasan terhadap rencana kerja emiten tambang.
Di tengah ketidakpastian pemangkasan produksi yang sempat dibahas sebelumnya, pasar merespons dengan kekhawatiran akan pengetatan suplai global.
Penyebab Utama Lonjakan Harga
Beberapa faktor internal dari Indonesia yang menjadi penggerak harga dunia meliputi:
Ketidakpastian RKAB: Proses persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) yang lebih selektif oleh pemerintah menimbulkan kekhawatiran akan melambatnya aliran ekspor ke pasar internasional.
Fokus Pasokan Dalam Negeri (DMO): Langkah pemerintah untuk memastikan kedaulatan energi domestik (termasuk proyek hilirisasi dan kebutuhan PLN) membuat porsi batu bara untuk pasar ekspor diprediksi berkurang.
Sentimen Spekulatif: Para pelaku pasar global mulai melakukan aksi beli guna mengamankan stok sebelum kebijakan pembatasan produksi benar-benar difinalisasi.
Dampak bagi Emiten dan Portofolio Investasi
Kenaikan harga batu bara dunia ini menjadi angin segar bagi sektor pertambangan di bursa domestik:
Margin Laba Meningkat: Emiten seperti ADRO, PTBA, dan ITMG berpotensi mencatatkan peningkatan pendapatan jika mampu menjaga volume produksi di tengah harga yang melambung.
Sentimen Sektor Energi: Bersama dengan ANTM yang menjadi andalan investasi global (JP Morgan), sektor komoditas secara keseluruhan kini mendominasi pergerakan positif IHSG di awal Februari 2026.
Daya Tarik Saham: Investor kembali melirik saham batu bara sebagai aset yang mampu memberikan capital gain cepat di tengah tren kenaikan harga komoditas energi (minyak, gas, dan batu bara).
Korelasi dengan Kondisi Ekonomi Lainnya
Menariknya, lonjakan harga batu bara ini terjadi di tengah dinamika domestik yang kontradiktif:
BBM Turun: Di satu sisi, harga BBM nonsubsidi di SPBU RI justru turun per hari ini (6 Februari), yang membantu menekan biaya logistik perusahaan tambang.
Produksi Minyak Pertamina: Upaya Pertamina menambah 100.000 barel minyak menunjukkan bahwa Indonesia sedang berusaha mengoptimalkan seluruh lini energi, baik fosil maupun terbarukan.