JAKARTA - Transformasi layanan jalan tol di Indonesia semakin terasa seiring berkembangnya teknologi digital dalam sistem pembayaran. Pengguna jalan kini tidak hanya menginginkan perjalanan yang aman, tetapi juga cepat, praktis, dan tanpa hambatan di gerbang tol.
PT Jasa Marga (Persero) Tbk menargetkan sebanyak 700 gerbang tol dapat melayani transaksi tanpa sentuh kartu pembayaran atau e-toll pada 2026. Layanan tersebut akan dihadirkan melalui aplikasi Travoy dengan fitur Travoy Go, yang memungkinkan kendaraan melintas tanpa harus berhenti di gerbang tol.
Direktur Utama Jasa Marga, Rivan Achmad Purwantoro, mengatakan saat ini sudah terdapat 97 gerbang nirsentuh di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Jumlah tersebut akan terus ditambah secara bertahap hingga mencapai target nasional yang telah ditetapkan perusahaan.
Masyarakat diimbau untuk memastikan kecukupan saldo uang elektronik atau e-toll yang digunakan dalam perjalanan. Imbauan ini menjadi bagian dari kesiapan pengguna agar dapat menikmati layanan tanpa henti secara optimal.
“Saat ini di Jakarta ada 97 gate nirhenti, di tahun ini akan kita tambahkan 700 gate nirhenti. Jadi nanti ada kombinasi yang sebagian besar adalah tanpa harus tap, cukup lewat dengan kecepatan 20 kilometer per jam sudah bisa melakukan pembukaan secara otomatis menggunakan Travoy Go,” ucapnya di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Senin (9 Februari 2026).
Pernyataan tersebut menegaskan komitmen Jasa Marga dalam menghadirkan transformasi besar pada layanan transaksi tol nasional. Inovasi ini juga diharapkan mampu menjawab kebutuhan masyarakat yang semakin menuntut efisiensi perjalanan.
Transformasi Sistem Transaksi Tol Tanpa Sentuh
Melalui fitur Travoy Go, pengguna cukup melaju dengan kecepatan sekitar 20 kilometer per jam saat melintas di gerbang tol. Sistem secara otomatis akan membuka palang tanpa perlu melakukan tap kartu pembayaran.
Konsep ini dirancang untuk mengurangi antrean panjang yang kerap terjadi di pintu tol, terutama pada jam sibuk dan musim libur panjang. Dengan demikian, arus kendaraan dapat bergerak lebih lancar dan waktu tempuh perjalanan menjadi lebih singkat.
Rivan menjelaskan, layanan transaksi tanpa henti ini didukung teknologi Radio Frequency Identification atau RFID yang terhubung dengan aplikasi Travoy. Pengendara yang telah memasang stiker RFID dan mengaktifkan fitur Travoy Go dapat melintas sambil saldo terpotong secara otomatis.
Stiker RFID sendiri telah diperkenalkan Jasa Marga sejak 2017 melalui aplikasi Let It Flo dan diuji coba secara terbatas pada 2020 hingga 2021. Kini, layanan tersebut terintegrasi dalam aplikasi Travoy sebagai pengembangan dari platform sebelumnya.
Integrasi ini menandai evolusi teknologi pembayaran tol di Indonesia yang semakin canggih dan adaptif. Jasa Marga menilai bahwa kemudahan transaksi merupakan salah satu kunci peningkatan kualitas layanan kepada masyarakat.
Selain itu, penerapan teknologi RFID juga diharapkan mampu meminimalkan kesalahan transaksi yang kerap terjadi pada sistem manual. Dengan sistem otomatis, proses pembayaran menjadi lebih akurat, cepat, dan efisien.
Perusahaan juga menargetkan bahwa ke depan sebagian besar gerbang tol akan mengadopsi sistem tanpa sentuh ini. Dengan begitu, pengalaman berkendara di jalan tol dapat semakin nyaman dan bebas hambatan.
Travoy Sebagai Asisten Digital Pengguna Jalan
Selain mendukung transaksi tol, Travoy juga dikembangkan sebagai asisten pribadi bagi pengguna jalan. Aplikasi ini menyediakan informasi kepadatan lalu lintas berbasis data radar dan sekitar 3.500 kamera CCTV yang terpasang di berbagai ruas tol.
“ Kepadatan jalan ini bukan dilihat dari berapa yang lewat dengan menggunakan ponsel, tapi betul-betul pure dilihat dengan menggunakan radar maupun 3.500 kamera. Jadi validasinya adalah persis saat dilihat secara live,” ucap Rivan.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa data yang disajikan dalam aplikasi Travoy memiliki tingkat akurasi yang tinggi. Informasi real time ini diharapkan membantu pengguna dalam mengambil keputusan perjalanan yang lebih tepat.
Melalui aplikasi tersebut, pengguna dapat memantau kondisi lalu lintas di seluruh ruas tol Jasa Marga Group secara langsung. Hal ini memungkinkan pengendara mengantisipasi kepadatan atau memilih jalur alternatif yang lebih lancar.
Selain itu, aplikasi ini menyediakan informasi pendukung perjalanan, seperti lokasi rest area, Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum atau SPKLU, hingga titik rawan kecelakaan atau black spot. Fitur-fitur tersebut direncanakan meluncur menjelang periode Lebaran.
“Ini penting bagi para masyarakat agar pada saat melakukan perjalanan untuk memastikan bahwa ketika melewati daerah yang rawan lebih berhati-hati,” imbuhnya.
Dengan adanya fitur ini, pengguna jalan tidak hanya mendapatkan kemudahan transaksi, tetapi juga dukungan keselamatan dan kenyamanan selama perjalanan. Jasa Marga menilai bahwa layanan digital terpadu menjadi kebutuhan penting dalam pengelolaan jalan tol modern.
Ke depan, Travoy diharapkan berkembang menjadi platform utama bagi pengguna tol di Indonesia. Aplikasi ini tidak hanya berfungsi sebagai alat pembayaran, tetapi juga sebagai pusat informasi perjalanan yang komprehensif.
Target Nasional 700 Gerbang Nirsentuh Tahun 2026
Target 700 gerbang nirsentuh pada 2026 mencerminkan ambisi besar Jasa Marga dalam mendorong transformasi layanan tol secara nasional. Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam menghadapi pertumbuhan volume kendaraan yang terus meningkat.
Dengan semakin banyaknya kendaraan yang melintas di jalan tol, sistem transaksi konvensional dinilai tidak lagi cukup efektif. Oleh karena itu, inovasi berbasis teknologi menjadi solusi utama untuk menjaga kelancaran arus lalu lintas.
Saat ini, 97 gerbang nirsentuh telah beroperasi di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Jumlah tersebut akan terus ditambah secara bertahap hingga mencapai target nasional yang telah dicanangkan.
Implementasi bertahap ini dilakukan untuk memastikan kesiapan infrastruktur dan pengguna. Jasa Marga juga terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar lebih memahami cara penggunaan teknologi RFID dan aplikasi Travoy.
Selain itu, perusahaan menyiapkan berbagai langkah mitigasi untuk memastikan sistem tetap stabil saat digunakan secara masif. Hal ini penting agar layanan nirsentuh dapat berjalan optimal tanpa gangguan teknis yang berarti.
Pengembangan teknologi ini juga sejalan dengan tren global dalam pengelolaan transportasi modern. Banyak negara telah lebih dulu mengadopsi sistem pembayaran tol otomatis sebagai bagian dari konsep smart mobility.
Di Indonesia, langkah Jasa Marga ini menjadi tonggak penting dalam transformasi layanan publik berbasis digital. Masyarakat diharapkan dapat merasakan langsung manfaat dari inovasi tersebut dalam aktivitas perjalanan sehari-hari.
Keberadaan sistem nirsentuh juga diyakini mampu meningkatkan efisiensi operasional perusahaan. Dengan transaksi yang lebih cepat dan minim interaksi manual, proses pelayanan dapat berjalan lebih efektif dan hemat biaya.
Selain itu, sistem ini berpotensi mengurangi risiko kemacetan akibat antrean panjang di gerbang tol. Hal tersebut menjadi nilai tambah penting, terutama saat musim mudik dan libur panjang nasional.
Jasa Marga juga menilai bahwa keberhasilan program ini sangat bergantung pada partisipasi aktif pengguna. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk memastikan saldo e-toll mencukupi dan perangkat RFID terpasang dengan benar.
Dengan kesiapan teknologi dan dukungan pengguna, perusahaan optimistis target 700 gerbang nirsentuh pada 2026 dapat tercapai. Langkah ini sekaligus menjadi bukti nyata komitmen Jasa Marga dalam menghadirkan layanan jalan tol yang modern, aman, dan efisien.
Transformasi ini juga diharapkan mampu meningkatkan citra layanan transportasi Indonesia di mata internasional. Dengan sistem yang semakin maju, pengelolaan jalan tol nasional dapat sejajar dengan praktik terbaik di berbagai negara maju.
Ke depan, Jasa Marga membuka peluang untuk terus mengembangkan fitur-fitur baru dalam aplikasi Travoy. Pengembangan ini diarahkan agar aplikasi semakin relevan dengan kebutuhan pengguna dan dinamika transportasi masa depan.
Selain transaksi tol, Travoy juga berpotensi menjadi platform integrasi layanan transportasi lainnya. Hal ini sejalan dengan visi perusahaan dalam menciptakan ekosistem mobilitas yang terhubung dan berkelanjutan.
Melalui inovasi ini, Jasa Marga berharap dapat memberikan pengalaman berkendara yang lebih nyaman, aman, dan efisien bagi masyarakat. Transformasi layanan tol tanpa sentuh menjadi salah satu langkah penting dalam mewujudkan tujuan tersebut.
Dengan semakin dekatnya target 2026, berbagai persiapan terus dimatangkan di lapangan. Jasa Marga memastikan bahwa setiap gerbang nirsentuh yang dioperasikan telah melalui uji coba dan evaluasi menyeluruh.
Upaya ini dilakukan untuk menjamin bahwa layanan dapat digunakan secara optimal oleh masyarakat luas. Dengan demikian, transisi menuju sistem tol nirsentuh dapat berlangsung secara mulus dan berkelanjutan.