Waskita Karya

Waskita Karya Catat Lonjakan Kontrak Baru Rp12,52 Triliun di Tengah Restrukturisasi 2025

Waskita Karya Catat Lonjakan Kontrak Baru Rp12,52 Triliun di Tengah Restrukturisasi 2025
Waskita Karya Catat Lonjakan Kontrak Baru Rp12,52 Triliun di Tengah Restrukturisasi 2025

JAKARTA - Upaya pemulihan kinerja yang dilakukan perusahaan konstruksi pelat merah mulai menunjukkan arah yang jelas sepanjang tahun 2025. Di tengah tekanan finansial dan restrukturisasi, PT Waskita Karya (Persero) Tbk tetap mencatatkan pertumbuhan kontrak baru yang signifikan.

Langkah agresif namun selektif dalam memperoleh proyek menjadi strategi penting yang dijalankan perseroan. Hasilnya, nilai kontrak baru yang diraih pada 2025 menunjukkan peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya.

Perusahaan BUMN sektor konstruksi PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) mencatatkan nilai kontrak baru senilai Rp12,52 triliun sepanjang 2025. Angka ini tumbuh dibandingkan perolehan tahun 2024 yang sebesar Rp9,55 triliun.

Kenaikan ini menjadi sinyal bahwa kepercayaan terhadap perseroan masih terjaga. Selain itu, pertumbuhan tersebut juga menunjukkan adanya peluang proyek yang masih terbuka luas.

Dominasi Proyek Pemerintah dan Dukungan Program Nasional

Nilai kontrak baru perseroan didominasi oleh proyek pemerintah di berbagai sektor strategis. Proyek tersebut mencakup pembangunan jaringan irigasi, sekolah rakyat, serta konstruksi Rumah Sakit Umum Daerah di sejumlah wilayah.

Pengerjaan proyek-proyek tersebut bertujuan untuk mendukung Program Hasil Terbaik Cepat. Program ini menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

"Pengerjaan proyek-proyek itu merupakan wujud kontribusi Waskita dalam mensukseskan upaya pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan yang menjadi fokus Presiden saat ini. Kami akan terus mendorong sekaligus membantu keberhasilan program pemerintah," ujar Corporate Secretary WSKT Ermy Puspa Yunita dalam keterangan resmi di Jakarta, Kamis.

Pernyataan tersebut menegaskan komitmen perseroan dalam mendukung agenda pembangunan nasional. Selain itu, peran aktif perusahaan juga terlihat dalam proyek-proyek yang berdampak langsung pada masyarakat.

Fokus pada proyek pemerintah dinilai memberikan kepastian dalam keberlangsungan pekerjaan. Hal ini juga membantu perusahaan dalam menjaga stabilitas pendapatan.

Kinerja Operasional dan Pendapatan Perusahaan

Dari sisi operasional, perseroan telah mengelola sebanyak 63 proyek di berbagai wilayah di Indonesia. Total nilai kontrak dari proyek-proyek tersebut mencapai Rp31,7 triliun per 31 Desember 2025.

Sepanjang tahun 2025, perseroan membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp8,85 triliun. Pendapatan tersebut berasal dari kontribusi induk usaha sebesar Rp5,75 triliun dan anak usaha sebesar Rp3,1 triliun.

Pembagian kontribusi ini menunjukkan peran penting anak usaha dalam mendukung kinerja perusahaan. Selain itu, sinergi antar entitas juga menjadi faktor pendukung dalam pencapaian pendapatan.

Berdasarkan segmentasi usaha, pendapatan perseroan berasal dari beberapa lini bisnis utama. Hal ini mencerminkan diversifikasi usaha yang dimiliki oleh perusahaan.

Berikut rincian sumber pendapatan berdasarkan segmentasi usaha:
? Segmen konektivitas: Rp3,3 triliun
? Sumber Daya Air (SDA): Rp1,4 triliun
? Gedung: Rp1,2 triliun
? Segmen lainnya: Rp900 miliar

Komposisi tersebut menunjukkan bahwa sektor konektivitas masih menjadi kontributor terbesar. Sementara itu, sektor lainnya tetap memberikan dukungan yang signifikan terhadap total pendapatan.

Efisiensi Operasional dan Peningkatan Profitabilitas

Beban pokok pendapatan perseroan tercatat sebesar Rp7,2 triliun atau sekitar 82 persen dari total pendapatan usaha. Kondisi ini menggambarkan struktur biaya yang masih cukup besar dalam operasional perusahaan.

Meski demikian, perseroan berhasil membukukan laba bruto sebesar Rp1,58 triliun pada tahun 2025. Angka ini tumbuh 12 persen dibandingkan laba bruto tahun 2024 yang sebesar Rp1,41 triliun.

Peningkatan ini juga tercermin pada Gross Profit Margin yang mencapai 18 persen pada 2025. Nilai tersebut membaik dibandingkan margin tahun 2024 yang sebesar 13 persen.

"Peningkatan laba bruto itu berhasil diraih Waskita berkat strategi efisiensi operasional proyek yang dijalankan. Tidak hanya di induk perusahaan tapi juga pada anak usaha," ujar Ermy.

Efisiensi operasional menjadi kunci utama dalam menjaga profitabilitas perusahaan. Langkah ini dilakukan secara menyeluruh di berbagai lini bisnis.

Selain itu, perusahaan mencatat biaya operasional sebesar Rp1,7 triliun sepanjang tahun 2025. Dari jumlah tersebut, sekitar 76,6 persen merupakan biaya operasional berbasis kas.

Sementara itu, sisanya sebesar 23,4 persen merupakan biaya non-cash seperti penyusutan dan amortisasi aset. Komposisi ini menunjukkan adanya pengelolaan biaya yang cukup terstruktur.

Strategi Penurunan Utang dan Restrukturisasi Keuangan

Secara keseluruhan, perseroan berhasil menurunkan liabilitas sebesar Rp2,21 triliun sepanjang tahun 2025. Langkah ini menjadi bagian dari fokus utama perusahaan dalam memperbaiki kondisi keuangan.

Ermy menjelaskan bahwa penurunan liabilitas dilakukan melalui sejumlah rencana strategis. Strategi tersebut mencakup percepatan divestasi jalan tol dan optimalisasi aset perusahaan.

Pada tahun 2025, Waskita telah menyelesaikan sejumlah aksi pelepasan saham. Salah satunya adalah divestasi PT Waskita Sangir Energi sebesar 94,7 persen melalui PT Waskita Karya Infrastruktur pada September 2025.

Selain itu, pelepasan 35 persen saham PT Cimanggis Cibitung Tollways dilakukan oleh PT Waskita Toll Road pada November 2025. Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperkuat likuiditas perusahaan.

Kemudian pada Desember 2025, melalui PT Waskita Karya Realty, perseroan mendivestasikan 20 persen saham PT Waskita Modern Realty. Tujuan dari langkah ini adalah mengoptimalkan portofolio investasi.

Selain itu, langkah tersebut juga bertujuan untuk memperkuat likuiditas keuangan WSKT. Dengan likuiditas yang lebih baik, perusahaan diharapkan mampu menjalankan operasional secara lebih stabil.

"Selama 2025 kami juga terus menambah kontrak baru namun lebih selektif, seperti adanya monthly payment dan menghindari proyek turnkey. Melalui Komite Manajemen Konstruksi, perseroan memastikan proyek yang akan dikelola tidak membebani dari segi keuangan dan rendah risiko," ujar Ermy.

Strategi selektif ini menjadi pendekatan baru dalam memperoleh proyek. Perusahaan berupaya menghindari risiko yang dapat membebani keuangan di masa depan.

Selain itu, fokus utama perseroan saat ini adalah menurunkan total utang. Upaya ini dilakukan melalui berbagai skema restrukturisasi yang telah disepakati.

Salah satunya adalah Master Restructuring Agreement dan Kredit Modal Kerja Penjaminan 2021. Kesepakatan ini telah disetujui oleh 22 kreditur perbankan pada Oktober 2024 dengan nilai outstanding Rp31,65 triliun.

Restrukturisasi juga dilakukan pada obligasi non-penjaminan senilai Rp3,35 triliun. Persetujuan telah diperoleh untuk tiga seri obligasi melalui Rapat Umum Pemegang Saham Obligasi.

Langkah-langkah tersebut menunjukkan keseriusan perusahaan dalam memperbaiki struktur keuangan. Proses ini dilakukan secara bertahap dan terencana.

Arah Baru Bisnis dan Komitmen Keberlanjutan

Ermy mengatakan bahwa upaya penurunan utang sejalan dengan strategi Rencana Penyehatan Keuangan yang telah disahkan. Program tersebut menjadi pedoman utama dalam pemulihan perusahaan.

“Ke depan, kami berkomitmen untuk kembali ke core business sebagai kontraktor murni, demi menciptakan kegiatan operasional yang lebih sustainable. Inovasi dalam memperkuat tata kelola dan manajemen risiko melalui pembentukan berbagai komite juga dilakukan, baik pada dewan komisaris maupun direksi, diharapkan langkah ini dapat membuat perusahaan lebih adaptif dalam menghadapi berbagai tantangan ke depan," jelas Ermy.

Komitmen tersebut menunjukkan arah baru perusahaan dalam menjalankan bisnis. Fokus pada core business diharapkan mampu meningkatkan efisiensi dan stabilitas operasional.

Selain itu, penguatan tata kelola dan manajemen risiko menjadi langkah penting dalam menghadapi dinamika industri. Dengan strategi yang terarah, perusahaan diharapkan mampu bangkit dan berkembang secara berkelanjutan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index