WIKA

WIKA Genjot Proyek Tol Harbour Road II Senilai Rp5,82 Triliun, Progres Sudah Tembus 32 Persen

WIKA Genjot Proyek Tol Harbour Road II Senilai Rp5,82 Triliun, Progres Sudah Tembus 32 Persen
WIKA Genjot Proyek Tol Harbour Road II Senilai Rp5,82 Triliun, Progres Sudah Tembus 32 Persen

JAKARTA - PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. (WIKA) terus mempercepat pengerjaan proyek strategis nasional di sektor infrastruktur. Salah satu proyek yang menjadi perhatian adalah pembangunan Tol Harbour Road II di kawasan Jakarta Utara.

Proyek ini memiliki nilai kontrak yang cukup besar dan menjadi bagian penting dalam portofolio perusahaan. Nilai kontrak pengerjaan proyek Tol Harbour Road II (HBR II) mencapai Rp5,82 triliun.

Hingga kuartal I tahun 2026, progres fisik proyek yang ditangani perseroan telah menunjukkan perkembangan signifikan. Perseroan telah merealisasikan progres fisik sebesar 32,31% untuk porsi pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya.

Proyek ini tidak hanya berperan sebagai infrastruktur transportasi. Kehadirannya juga diharapkan mampu mengurai kepadatan lalu lintas di kawasan utara ibu kota.

Manager Proyek Pembangunan Jalan Tol Ancol Timur - Pluit (Harbour Road II) Wijaya Karya, Hari Purnama, menjelaskan bahwa proyek ini merupakan salah satu order book besar yang menjadi tumpuan kinerja operasional perseroan. Hal ini menunjukkan peran penting proyek dalam mendukung keberlangsungan bisnis perusahaan.

Dengan skema design & build, WIKA bertanggung jawab penuh terhadap seluruh tahapan proyek. Tanggung jawab tersebut mencakup aspek teknis hingga pembangunan konstruksi jalan tol layang di Jakarta Utara.

“Nilai kontrak untuk HBR II ini adalah Rp5,82 triliun di luar PPN. Saat ini progres yang ditangani oleh WIKA berada di angka 32,31%,” ujar Hari saat ditemui di lokasi proyek, Jakarta Utara, Senin (06/04/2026). Pernyataan tersebut menggambarkan capaian proyek yang terus bergerak maju.

Tantangan Pembebasan Lahan Masih Membayangi Proyek

Di balik capaian progres yang cukup baik, proyek ini masih menghadapi sejumlah kendala. Salah satu tantangan utama yang dihadapi adalah proses pembebasan lahan yang belum sepenuhnya rampung.

Hingga saat ini, pembebasan lahan baru mencapai sekitar 45% dari total kebutuhan. Kondisi ini menjadi perhatian serius karena dapat memengaruhi target penyelesaian proyek.

Hari menyebutkan terdapat sisa lahan sepanjang 1 kilometer di sisi Selatan yang perlu segera dibebaskan. Penyelesaian lahan tersebut menjadi kunci agar proyek dapat berjalan sesuai jadwal yang telah ditetapkan.

Apabila proses pembebasan lahan berjalan lancar, target operasional pada akhir tahun dapat tercapai. Namun, jika terjadi hambatan, maka penyelesaian proyek berpotensi mengalami penundaan.

Situasi ini menggambarkan bahwa proyek infrastruktur tidak hanya bergantung pada aspek teknis. Faktor non-teknis seperti administrasi lahan juga memiliki peran yang sangat krusial.

Meski demikian, WIKA tetap berupaya menjaga ritme pengerjaan proyek. Koordinasi dengan berbagai pihak terus dilakukan untuk mempercepat penyelesaian kendala yang ada.

Strategi WIKA Kembali ke Bisnis Inti Konstruksi

Direktur Utama WIKA, Agung Budi Waskito, menyampaikan bahwa pengerjaan proyek infrastruktur strategis seperti Tol HBR II sejalan dengan misi penyehatan perseroan. Langkah ini merupakan bagian dari upaya perusahaan untuk kembali fokus pada bisnis inti sebagai kontraktor murni.

Strategi tersebut diambil untuk mengurangi beban risiko investasi jangka panjang. Dengan demikian, kondisi keuangan perusahaan diharapkan menjadi lebih sehat dan stabil.

Fokus pada proyek konstruksi murni menjadi arah baru yang ditempuh perusahaan. Hal ini sekaligus memperkuat posisi WIKA di industri jasa konstruksi nasional.

Per Februari 2026, WIKA tercatat mengelola total 85 proyek yang sedang berjalan. Total nilai kontrak dari seluruh proyek tersebut mencapai Rp31,35 triliun.

Jumlah proyek yang besar ini mencerminkan kepercayaan pasar terhadap kemampuan WIKA. Di sisi lain, hal ini juga menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga kualitas dan ketepatan waktu pengerjaan.

“Tahun 2026 adalah tahun kebangkitan. Setelah tahun 2025 masa pemerintahan baru, ada efisiensi, saya meyakini bahwa 2026 akan lebih baik dibandingkan dengan tahun sebelumnya,” pungkas Agung. Pernyataan ini menunjukkan optimisme perusahaan terhadap prospek ke depan.

Kinerja Keuangan dan Prospek Pertumbuhan Perseroan

Sepanjang tahun sebelumnya, WIKA berhasil mencatatkan kinerja yang cukup solid. Perseroan membukukan kontrak baru sebesar Rp17,46 triliun.

Perolehan tersebut melengkapi total kontrak berjalan atau order book menjadi Rp50,52 triliun. Angka ini menjadi indikator kuat atas keberlanjutan bisnis perusahaan.

Dari sisi pendapatan, WIKA mencatatkan penjualan sebesar Rp20,45 triliun. Pendapatan tersebut berasal dari berbagai segmen proyek yang dijalankan oleh perseroan.

Rinciannya terdiri dari penjualan non-Kerja Sama Operasi (KSO) sebesar Rp13,33 triliun. Sementara itu, penjualan dari skema KSO tercatat sebesar Rp7,12 triliun.

Capaian ini menunjukkan bahwa diversifikasi proyek memberikan kontribusi positif terhadap pendapatan perusahaan. Hal ini juga menjadi bukti bahwa strategi bisnis yang dijalankan cukup efektif.

Dengan kombinasi antara proyek besar seperti HBR II dan portofolio proyek lainnya, WIKA optimistis dapat meningkatkan kinerja di tahun 2026. Momentum ini diharapkan menjadi titik balik bagi pertumbuhan perusahaan.

Rincian Proyek Tol Harbour Road II

? Nilai Kontrak

  • Rp5,82 triliun (di luar PPN)

? Progres Pengerjaan

  • 32,31% hingga kuartal I tahun 2026

? Skema Proyek

  • Design & Build

? Lokasi

  • Ancol Timur hingga Pluit, Jakarta Utara

? Tantangan Utama

  • Pembebasan lahan baru mencapai 45%
  • Sisa lahan 1 kilometer di sisi Selatan

? Target

  • Operasional pada akhir tahun 2026

Langkah dan Strategi Percepatan Proyek

? Koordinasi lintas pihak untuk pembebasan lahan
? Optimalisasi manajemen proyek dan sumber daya
? Penguatan pengawasan teknis di lapangan
? Penyesuaian jadwal kerja secara adaptif

Dengan berbagai langkah tersebut, WIKA berupaya menjaga agar proyek tetap berjalan sesuai rencana. Perusahaan juga terus mengantisipasi berbagai potensi hambatan yang mungkin muncul.

Keberhasilan proyek ini nantinya akan menjadi salah satu pencapaian penting bagi perusahaan. Selain itu, proyek ini juga diharapkan memberikan dampak positif bagi mobilitas masyarakat Jakarta.

Pada akhirnya, Tol Harbour Road II tidak hanya menjadi proyek konstruksi biasa. Infrastruktur ini diharapkan mampu menjadi solusi jangka panjang bagi permasalahan transportasi di kawasan utara ibu kota.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index