Cara Menentukan Target Gym Tanpa Harus Mengejar Beban yang Berat

Cara Menentukan Target Gym Tanpa Harus Mengejar Beban yang Berat
Ilustrasi angkat beban.

JAKARTA - Sebagian besar pegiat olahraga menjadikan angka timbangan pada barbel sebagai tolok ukur utama keberhasilan saat beraktivitas di gym. Ketika sudah terbiasa menahan beban tertentu, menaikkan bobot beberapa kilogram kerap dianggap sebagai pembuktian bahwa stamina tubuh kian meningkat.

Padahal, kapasitas fisik untuk mengangkat beban tidak bisa disaratkan secara merata pada setiap orang. Kondisi stamina, riwayat jam latihan, target olahraga, hingga efektivitas masa pemulihan sangat menentukan batas aman beban yang sanggup ditopang.

Oleh sebab itu, target latihan fisik tidak melulu harus bertumpu pada pencapaian angka yang kian membengkak.

Di platform media sosial, sempat marak patokan bahwa seseorang idealnya sanggup mengeksekusi gerakan deadlift setara dua kali berat badan serta squat hingga satu setengah kali berat badan.

Namun demikian, angka-angka tersebut sejatinya merujuk pada standar performa para atlet angkat beban berpengalaman, sehingga tidak tepat dijadikan acuan universal bagi khalayak umum.

Melansir Woman's Health, Fisioterapis Jacob VanDenMeerendonk menerangkan bahwa tingkat kekuatan fisik seseorang berkarakter amat personal. Menurutnya, batas kemampuan angkat beban tidak cukup bila hanya diukur dari variabel berat badan atau tingkatan usia semata.

“Kekuatan sangat individual,” ujar VanDenMeerendonk.

Ia menguraikan bahwa penentuan target beban wajib mempertimbangkan sasaran individu, presisi kualitas gerakan, riwayat medis, serta kemampuan tubuh untuk beralih pulih. Atas dasar itu, dua individu sebaya dengan ukuran tubuh identik belum tentu mengantongi kapasitas angkat beban yang setara.

Latar belakang latihan, volume massa otot, pengalaman cedera, rekam kesehatan, hingga daya adaptasi tubuh terhadap porsi latihan akan melahirkan tingkat kemampuan yang berbeda-beda.

Daripada memaksakan diri mengejar beban berat sejak awal, pelatih pribadi Brittany Watts menganjurkan untuk memulai sesi latihan dengan beban yang tergolong ringan sebagai tahap observasi.

Seseorang dapat mengeksekusi sekitar delapan hingga 12 repetisi, lalu mencermati bagaimana respons serta ketahanan tubuh terhadap skema beban tersebut.

“Pilih beban yang relatif ringan, lakukan sekitar 8 hingga 12 repetisi, lalu nilai berapa banyak repetisi lagi yang sebenarnya masih bisa Anda lakukan,” jelas Watts.

Beban latihan dapat dikategorikan pas bilamana beberapa repetisi akhir mulai terasa menantang, namun teknik serta bentuk gerakan masih sanggup dipertahankan secara utuh.

Sebaliknya, jika seseorang mulai mengandalkan dorongan momentum, memangkas jarak rentang gerak, merasakan nyeri, atau mengorbankan ketepatan teknik, maka beban tersebut diindikasikan terlampau berat.

Kerapihan teknik gerakan harus dijadikan pertimbangan utama sebelum seseorang membulatkan tekad untuk menambah beban.

"teknik seharusnya menentukan beban, bukan sebaliknya," kata VanDenMeerendonk.

Apabila struktur gerakan mulai berantakan saat beban dinaikkan, kondisi tersebut menjadi sinyal jelas bahwa tubuh belum sanggup mengendalikannya dengan baik.

Progresivitas dalam berlatih juga tidak selalu diukur dari kemampuan mengangkat bobot kilogram yang lebih besar. Pelatih dapat memantau perkembangan fisik dari peningkatan jumlah repetisi, keluwesan rentang gerak, kontrol gerakan yang makin stabil, hingga momen ketika porsi latihan yang tadinya berat mulai terasa lebih ringan.

“Melakukan lebih banyak repetisi dengan beban yang sama, meningkatkan rentang gerak, memiliki kontrol dan teknik yang lebih baik, atau merasa latihan yang sebelumnya sulit kini lebih mudah, semuanya merupakan tanda bahwa kekuatan Anda meningkat,” jelas Watts.

Fokus latihan seyogianya ditujukan pada penguasaan gerakan dasar serta pembentukan fondasi kekuatan fisik. Memasuki usia 30-an, kemampuan menjaga konsistensi kekuatan untuk menopang rutinitas harian menjadi hal yang krusial.

Sementara bagi kelompok usia 60 tahun ke atas, tolok ukur keberhasilan olahraga kian bergeser pada tingkat kemandirian fungsional tubuh.

“fungsi lebih penting daripada angka," ucap Watts.

Kemampuan mengangkat barang belanjaan, menaiki anak tangga, memindahkan koper, hingga berdiri mandiri dari posisi duduk di lantai menjadi capaian target kekuatan yang jauh lebih berdaya guna.

Maka dari itu, sebelum terburu-buru menambah beban pada sesi latihan berikutnya, tidak ada salahnya untuk mengevaluasi kembali tujuan berolahraga di gym. Menjadi sosok yang lebih kuat bukan sekadar perihal mengangkat beban paling berat, melainkan bagaimana membentuk tubuh agar kian tangguh menjalani aktivitas harian.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index