JAKARTA - Ketika hubungan mulai mengarah ke pernikahan, pembicaraan antara pasangan biasanya semakin serius. Bukan lagi hanya soal makanan favorit, tempat liburan, atau kegiatan yang ingin dilakukan bersama. Ada persoalan yang jauh lebih besar untuk dibicarakan, seperti keuangan, pekerjaan, anak, hingga tempat tinggal. Hal ini penting karena pernikahan bukan hanya tentang seberapa besar rasa cinta kepada pasangan, tetapi juga tentang bagaimana dua orang membangun kehidupan bersama.
Dikutip dari Psychology Today, psikolog Mark Travers, PhD, menjelaskan bahwa kesamaan tujuan dan nilai hidup menjadi salah satu tanda penting bahwa pasangan memiliki potensi menjalani hubungan jangka panjang.
Lalu, apa saja yang sebaiknya dibicarakan sebelum pasangan memutuskan menikah?
1. Visi tentang masa depan
Pertanyaan mengenai masa depan mungkin terdengar sederhana, tetapi jawabannya dapat menentukan banyak keputusan dalam pernikahan. Pasangan dapat membicarakan apakah mereka ingin menikah, memiliki anak, tinggal di kota tertentu, atau membuka kemungkinan untuk berpindah tempat karena pekerjaan.
Menurut Travers, persoalan seperti pernikahan, relokasi, dan memiliki anak termasuk bagian dari visi masa depan yang perlu diperhatikan ketika menilai kecocokan pasangan. Pasangan tidak harus memiliki rencana yang sama persis. Namun, jika tujuan keduanya benar-benar bertolak belakang, kompromi dapat menjadi jauh lebih sulit.
2. Pandangan tentang keuangan
Uang merupakan bagian tidak terpisahkan dari kehidupan rumah tangga. Karena itu, membicarakan keuangan sebelum menikah dapat membantu pasangan memahami kebiasaan dan ekspektasi masing-masing.
Pembicaraan tidak harus langsung berupa perhitungan detail, tetapi dapat dimulai dari pertanyaan sederhana. Misalnya, bagaimana pasangan memandang menabung, berutang, membeli barang mahal, membagi pengeluaran, atau membantu keluarga masing-masing.
3. Keinginan memiliki anak dan pola pengasuhan
Keputusan mengenai anak merupakan salah satu persoalan yang sebaiknya tidak ditunda pembahasannya hingga setelah menikah. Pasangan perlu mengetahui apakah keduanya menginginkan anak, bagaimana membayangkan kehidupan setelah memiliki anak, serta bagaimana pembagian tanggung jawab pengasuhan.
Pembicaraan juga dapat berkembang ke persoalan yang lebih spesifik, seperti siapa yang akan lebih banyak mengasuh anak, bagaimana membagi pekerjaan rumah, hingga bagaimana menghadapi kemungkinan salah satu pasangan harus mengurangi aktivitas pekerjaan.
4. Hubungan dengan keluarga besar
Menikah berarti membangun keluarga bersama pasangan, tetapi dalam banyak situasi hubungan dengan keluarga besar juga ikut masuk ke dalam kehidupan rumah tangga.
Karena itu, pasangan perlu membicarakan seberapa dekat mereka ingin tinggal dengan orangtua, seberapa sering mengunjungi keluarga, hingga bagaimana memberikan bantuan ketika orangtua atau anggota keluarga membutuhkan dukungan.
5. Cara menghadapi konflik
Bahkan pasangan yang memiliki banyak kesamaan tetap akan menghadapi perbedaan pendapat. Karena itu, persoalan penting lainnya bukan hanya apa yang diperdebatkan, tetapi bagaimana pasangan bertindak ketika konflik terjadi.
Travers menyoroti konsep repair attempts, yakni upaya untuk meredakan konflik dan kembali terhubung setelah terjadi ketegangan. Bentuknya bisa sederhana, seperti meminta maaf, mengubah cara berbicara, meminta waktu untuk menenangkan diri, menunjukkan empati, atau mengajak pasangan memulai kembali pembicaraan dengan lebih tenang.
Penelitian John Gottman dan rekan-rekannya yang diterbitkan dalam Journal of Family Psychotherapy pada 2015 juga menyoroti pentingnya upaya perbaikan dalam konflik pasangan. Upaya tersebut dapat membantu mengurangi emosi negatif dan memulihkan koneksi positif selama konflik.
Dengan demikian, pasangan tidak harus mencari hubungan yang sama sekali bebas dari konflik. Yang lebih penting adalah memastikan keduanya memiliki cara yang sehat untuk menghadapi perbedaan dan memperbaiki hubungan setelahnya.