Kenali Penyebab Pusing dan Berkunang saat Berdiri bagi Kesehatan

Kenali Penyebab Pusing dan Berkunang saat Berdiri bagi Kesehatan
Ilustrasi Hipotensi Ortostatik.

JAKARTA - Pernahkah Anda merasa kepala mendadak ringan, pandangan berkunang-kunang, atau seperti akan tumbang ketika bangkit dari posisi duduk? Sebagian orang kerap mengeluhkan munculnya sensasi ini.

Kondisi pusing atau pandangan yang berkunang-kunang tersebut umumnya hanya berlangsung beberapa detik sebelum tubuh kembali stabil.

Kendati sering dianggap biasa, sensasi itu sesungguhnya berkaitan dengan mekanisme tubuh dalam menyesuaikan diri saat mengalami perubahan posisi. Secara medis, salah satu pemicunya dikenal sebagai hipotensi ortostatik.

Berdasarkan studi dari Academy of Family Physicians, sewaktu seseorang berdiri, gaya gravitasi menarik sekitar 500 sampai 1.000 mililiter darah hingga menumpuk sementara di area tungkai serta perut.

Dampaknya, pasokan darah yang kembali menuju jantung menjadi berkurang. Tubuh semestinya langsung merespons dengan memacu denyut jantung dan menyempitkan pembuluh darah guna menjaga tekanan darah tetap stabil.

Bila respons kompensasi tersebut berjalan lambat atau kurang kuat, aliran darah ke otak dapat menurun seketika. Hal inilah yang memicu rasa pusing, pandangan kabur, lemas, hingga perasaan ingin pingsan.

Gejalanya meliputi kepala terasa melayang, gangguan penglihatan, dada berdebar, sesak, nyeri dada, sampai pingsan. Mengutip The Lancet Neurology, pola dan waktu kemunculan gejala bisa bervariasi pada tiap orang. Sensasi tersebut ada yang timbul sesaat setelah berdiri, tetapi ada pula yang baru terasa beberapa menit kemudian.

Beberapa Kondisi Pemicu Turunnya Tekanan Darah saat Berdiri

Terdapat beberapa faktor yang membuat tubuh kewalahan mempertahankan kestabilan tekanan darah ketika bertukar posisi.

Berdiri Terlalu Cepat

Tubuh memerlukan jeda untuk beradaptasi terhadap perubahan posisi. Apabila seseorang langsung beranjak bangun dari posisi duduk atau tidur, perubahan tekanan darah dapat terjadi sangat cepat sebelum mekanisme alami tubuh bekerja maksimal.

Kekurangan Cairan

Dehidrasi merupakan penyebab yang amat lazim. Saat tubuh kekurangan cairan, volume darah ikut merosot sehingga tubuh lebih payah dalam menjaga kestabilan tekanan darah ketika berdiri.

Hal ini bisa dipicu oleh keringat berlebih, muntah, diare, atau kurangnya asupan air minum.

Anemia atau Kekurangan Darah

Rendahnya jumlah sel darah merah, seperti pada kasus anemia, menyulitkan tubuh menyalurkan oksigen ke jaringan. Defisit darah juga memangkas volume darah sehingga gejala lebih gampang mencuat sewaktu berdiri.

Oleh sebab itu, pemeriksaan darah oleh dokter dapat dilakukan bila keluhan ini terjadi terus-menerus guna mendeteksi potensi anemia atau faktor lain.

Efek Penggunaan Obat Tertentu

Menukil jurnal JAMA Internal Medicine, sejumlah obat mampu menurunkan tekanan darah atau mengacaukan respons tubuh terhadap perubahan posisi. Di antaranya yakni obat peninggi tekanan darah, diuretik, pelebar pembuluh darah, dan obat-obatan medis tertentu lainnya.

Jika keluhan mulai muncul setelah rutin mengonsumsi obat tertentu, jangan menghentikannya secara sepihak. Konsultasikan kepada dokter guna memastikan keterlibatan obat tersebut.

Diabetes

Diabetes turut berhubungan erat dengan hipotensi ortostatik. Tingginya kadar gula darah dalam durasi panjang dapat merusak jaringan saraf yang mengendalikan fungsi otomatis tubuh, termasuk dalam merespons perubahan posisi. Alhasil, pembuluh darah tak selalu mampu menyempit secara optimal sewaktu berdiri.

Gangguan pada Jantung

Masalah berupa gangguan irama jantung atau kondisi yang menghambat daya pompa jantung juga dapat memperburuk keluhan saat berdiri.

Gangguan Sistem Saraf

Bagi sebagian orang, kendalanya bukan sekadar akibat dehidrasi atau berdiri terlalu cepat. Sistem saraf otonom yang mengontrol tekanan darah serta denyut jantung mengalami gangguan. Kondisi ini dapat terhubung dengan penyakit saraf seperti Parkinson maupun neuropati.

Merasa sedikit berkunang-kunang sesekali akibat berdiri terlalu cepat merupakan hal wajar. Namun, apabila keluhan berulang sangat sering, memburuk, memicu jatuh pingsan, atau mengganggu rutinitas harian, kondisi tersebut perlu diperiksakan secara medis.

Dokter akan mengevaluasi kondisi tekanan darah dan denyut jantung pada posisi berbaring maupun berdiri, lalu menelusuri pemicunya seperti dehidrasi, anemia, efek obat, diabetes, gangguan jantung, atau kelainan sistem saraf.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index