Perluas Portofolio BUMI Akuisisi Tiga Perusahaan Tambang Australia

Perluas Portofolio BUMI Akuisisi Tiga Perusahaan Tambang Australia
Ilustrasi pertambangan milik PT Bumi Resources Tbk.

JAKARTA — PT Bumi Resources Tbk (BUMI) terus memperluas portofolio bisnis pertambangannya di luar sektor batu bara. Dalam kurun waktu dua tahun terakhir, perseroan tercatat menjalankan empat transaksi akuisisi saham, di mana tiga di antaranya menyasar perusahaan pertambangan asal Australia.

Tiga transaksi akuisisi yang telah berhasil dirampungkan mencakup Loyal Metals Ltd., Jubilee Metals Limited (JML), dan Wolfram Limited. Sementara itu, satu transaksi lainnya, yakni akuisisi 45% saham PT Laman Mining Indonesia, saat ini masih dalam proses penyelesaian.

Teranyar, BUMI melalui anak usahanya, Bumi Resources Australia Pty Ltd. (BRA), telah merampungkan akuisisi 100% saham Loyal Metals Ltd. pada 4 September 2026. Dalam transaksi tersebut, BRA mengambil alih sekitar 175,71 juta saham Loyal Metals dengan nilai transaksi mencapai AUD79,07 juta atau sekitar Rp1,004 triliun.

Direktur BUMI R.A. Sri Dharmayanti menyampaikan bahwa transaksi tersebut dilakukan pada 4 September 2026 melalui BRA, yang merupakan anak usaha BUMI dan seluruh sahamnya dimiliki perseroan.

“Perseroan melalui anak usahanya di Australia yaitu Bumi Resources Australia Pty Ltd, yang merupakan anak usaha Perseroan yang didirikan berdasarkan hukum Australia, yang 100% sahamnya dimiliki oleh Perseroan, telah melakukan transaksi akuisisi atas sejumlah 175.710.515 saham yang merupakan 100% saham yang telah ditempatkan dan disetor penuh pada Loyal,” demikian keterangan BUMI dalam keterbukaan informasi, Jumat (4/9/2026).

Melalui transaksi tersebut, BUMI secara tidak langsung menjadi pemegang 100% saham Loyal Metals Ltd., perusahaan yang didirikan berdasarkan hukum Australia. Adapun nilai pasti transaksi akuisisi tersebut mencapai Rp1.004.742.244.136,50 atau setara dengan AUD79.069.731,75.

Loyal Metals merupakan perusahaan tambang tembaga dan emas asal Australia yang memegang proyek eksplorasi mineral kritis, termasuk litium, emas, dan tembaga. Akuisisi ini menjadi langkah terbaru BUMI dalam memperluas portofolio mineral non-batu bara.

Salah satu aksi korporasi sebelumnya adalah akuisisi Jubilee Metals Limited (JML). BUMI menyelesaikan tahap terakhir akuisisi saham JML pada 18 Desember 2025 dengan nilai transaksi AUD31,47 juta atau sekitar Rp346,93 miliar.

Melalui keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), BUMI menjelaskan bahwa pada 18 Desember 2025 perseroan telah melakukan pengambilan 3.312.632 saham baru yang diterbitkan JML senilai Rp346,93 miliar atau setara AUD31,47 juta.

“Pelaksanaan Transaksi merupakan rangkaian penyelesaian rencana pengambilalihan JML oleh perseroan,” kata Direktur BUMI, RA Sri Dharmayanti, Jumat (19/12/2025).

Dengan rampungnya transaksi tersebut, per 18 Desember 2025 BUMI telah memegang 5.734.770 saham JML atau setara dengan 64,98% kepemilikan. Langkah ini sejalan dengan rencana transformasi dan program diversifikasi usaha perseroan.

“Transaksi ini akan memberikan dampak positif terhadap kegiatan usaha yang dijalankan oleh Perseroan serta memberikan nilai tambah bagi pemegang saham Perseroan,” ucap Dharmayanti.

Sebelumnya, Direktur BUMI Rio Supin menjelaskan BUMI akan mengakuisisi maksimal 65% saham Jubilee Metal Limited (JML) di Australia.

“Belum ada rencana lebih lanjut apakah kami akan menambah kepemilikan di JML atau tidak,” tutur Rio akhir tahun lalu.

Rio Supin menuturkan, saat ini fokus manajemen BUMI adalah bagaimana tambang JML bisa segera beroperasi sesuai rencana. JML sendiri merupakan perusahaan tambang emas yang sudah masuk tahap produksi, di mana per akhir September 2025 BUMI telah menggenggam 41,36% sahamnya.

Selain JML, BUMI merampungkan akuisisi Wolfram Limited pada November 2025. Perseroan mengambil alih 99,68% saham Wolfram pada 7 Oktober 2025, sebelum menuntaskan sisa 0,32% saham pada 7 November 2025. Total nilai akuisisi Wolfram mencapai AUD63,50 juta atau sekitar Rp698,98 miliar.

Direktur BUMI R.A. Sri Dharmayanti menjelaskan, pada 7 November 2025, perseroan telah menuntaskan pembelian sisa 0,32% saham WFL senilai Rp2,21 miliar atau AUD200.335, melengkapi pengambilalihan tahap pertama sebesar 99,68% saham yang dilakukan awal Oktober.

“Dengan demikian, perseroan telah menjadi pemegang 100% saham di WFL, dengan total nilai keseluruhan Rp698,98 miliar atau setara AUS$63,5 juta,” ujar Sri Dharmayanti dalam keterbukaan informasi, Senin (10/11/2025).

Aksi korporasi pengambilalihan ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang perusahaan dalam melakukan diversifikasi bisnis di luar sektor batu bara.

“Pengambilalihan WFL merupakan langkah strategis yang sejalan dengan rencana transformasi perseroan dan bagian dari program diversifikasi usaha di luar batu bara,” kata Sri Dharmayanti.

Sri Dharmayanti menambahkan, akuisisi tambang emas Wolfram diharapkan memberikan dampak positif terhadap kegiatan usaha serta meningkatkan nilai tambah bagi pemegang saham.

Sebelumnya, Presiden Direktur Bumi Resources Adika Nuraga Bakrie mengatakan proses akuisisi ini menandai fase baru dalam perjalanan diversifikasi perseroan menuju sektor mineral strategis dan mineral kritis, yang tengah mengalami peningkatan permintaan global.

“Dengan selesainya transaksi ini, Bumi Resources mengambil langkah penting dalam perjalanan diversifikasinya. Ekspansi ke mineral strategis dan mineral kritis sejalan dengan tren permintaan global serta memperkuat komitmen kami terhadap pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan,” ujar Adika Oktober lalu.

Akuisisi ini merupakan tindak lanjut dari term sheet agreement yang ditandatangani awal 2025 dan difinalisasi usai memperoleh persetujuan dari Foreign Investment Review Board (FIRB) di Australia. BUMI kini memperoleh akses langsung ke potensi produksi emas dan tembaga dari tambang Wolfram di Australia Barat.

Vice President Investor Relations & Chief Economist Bumi Resources Achmad Reza Widjaja menyebut bahwa tambang Wolfram diharapkan mulai berproduksi dalam satu hingga dua tahun pertama setelah akuisisi.

“Kami harap tahun depan atau tahun berikutnya tambang Wolfram sudah dapat berproduksi. Produksi emas dari tambang ini diharapkan dapat menambah pendapatan perseroan dalam jangka pendek,” ujar Reza.

Tambang Wolfram ditargetkan beroperasi kembali pada Juni 2026 dan diperkirakan menghasilkan 9.334 ton tembaga ekuivalen pada 2026. Sebagai pendukung pendanaan akuisisi, BUMI sebelumnya telah menerbitkan surat utang senilai Rp350 miliar.

Di dalam negeri, BUMI juga tengah memperluas portofolio mineralnya melalui rencana akuisisi 45% saham Laman Mining Indonesia. Rencana tersebut tertuang dalam term sheet bersama PT Supreme Global Investment pada 25 September 2025.

Nilai pembelian 45% saham Laman Mining mencapai US$59,10 juta atau sekitar Rp988,86 miliar. BUMI membayar US$20 juta sebagai uang muka, dan US$39,10 juta sisanya dilunasi usai persyaratan transaksi terpenuhi. Transaksi perusahaan tambang bauksit ini ditargetkan tuntas paling lambat 30 Oktober 2026.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index