JAKARTA - Dalam situasi gawat darurat, tiap detik menjadi penentu keselamatan pasien. Akibatnya, pasien memerlukan respons medis yang cekatan dan terkoordinasi.
Sebab itu, rumah sakit menerapkan Code Blue, yakni sistem aktivasi kegawatdaruratan yang menandakan keberadaan pasien dalam kondisi kritis, seperti henti jantung atau henti napas yang memerlukan penanganan segera. Saat Code Blue diaktifkan, tim medis khusus yang terlatih akan langsung bergerak menjalankan tindakan sesuai kondisi pasien.
Dokter Agung Fabian Chandranegara, Sp.JP(K), FIHA dari Mayapada Hospital Jakarta Selatan dan Tangerang menjelaskan, pada kondisi henti jantung, aliran darah yang membawa oksigen menuju otak serta organ vital lainnya terhenti. Tanpa intervensi langsung, peluang pasien untuk bertahan hidup dapat merosot secara signifikan.
"Karena itu, kecepatan respons, ketepatan tindakan, serta koordinasi tim medis menjadi faktor penting dalam upaya menyelamatkan nyawa pasien," kata dia, dalam keterangan resmi, Senin (7/9/2026).
Penanganan Code Blue pada dasarnya melibatkan tim medis yang terdiri atas dokter, perawat, tenaga anestesi, atau tenaga medis lain yang telah mengantongi kompetensi Bantuan Hidup Dasar (Basic Life Support/BLS) serta Bantuan Hidup Kardiovaskular Lanjut (Advanced Cardiovascular Life Support/ACLS).
Dalam praktiknya, tim medis dapat menjalankan beragam tindakan, mulai dari resusitasi jantung paru (RJP/CPR), pemberian bantuan napas, penggunaan kejut jantung (defibrilator) guna mengembalikan irama jantung bila diperlukan, hingga pemberian obat-obatan dan penanganan lanjutan sesuai kondisi pasien.
Rangkaian tindakan tersebut memerlukan koordinasi tim yang solid serta sistem penanganan terstruktur supaya tiap langkah terlaksana secara cepat dan tepat.
Dokter Rerdin Julario, Sp.JP(K) dari Mayapada Hospital Surabaya memaparkan, pada kasus henti jantung, setiap tahap resusitasi harus dikerjakan sesuai standar agar sirkulasi darah dan pasokan oksigen ke organ vital bisa dipulihkan secepat mungkin.
Oleh sebab itu, Code Blue tidak cuma mengandalkan kecepatan respons, tetapi juga kesiapan sistem secara menyeluruh mulai dari protokol kegawatdaruratan yang jelas, tenaga medis yang kompeten, peralatan resusitasi siap pakai, hingga pelatihan serta simulasi rutin.
"Dengan begitu, setiap tim medis dapat mengambil keputusan dan memberikan tindakan secara cepat, tepat, sesuai standar internasional," terang dia.
Mayapada Hospital Surabaya (MHSB) dikenal menjadi contoh rumah sakit yang menerapkan Code Blue dan berhasil menyabet Juara Utama Kompetisi Code Blue dan Bantuan Hidup Dasar (BHD) tingkat Jawa Timur. Pada ajang tersebut, MHSB menampilkan keunggulan dalam aspek kecepatan respons, ketepatan klinis, koordinasi tim, serta kesiapan menghadapi situasi darurat.
Sebagai wujud kesiapsiagaan dalam menghadapi situasi darurat, Mayapada Hospital menyediakan layanan Emergency 24/7 yang didukung fasilitas lengkap serta tim dokter spesialis dan subspesialis yang standby onsite, termasuk Dokter Spesialis Anestesi yang siaga 24 jam untuk menangani kasus yang memerlukan tindakan operasi. Layanan ini tersedia di seluruh unit Mayapada Hospital di Jakarta (Lebak Bulus, Kuningan, dan Cakung), Tangerang, Bogor, Surabaya, Bandung, hingga Nusantara, serta dapat diakses melalui emergency call 150990 atau aplikasi MyCare.
Informasi lengkap mengenai layanan kegawatdaruratan di seluruh unit Mayapada Hospital dapat diakses melalui fitur Health Articles & Tips pada aplikasi MyCare, serta fitur Personal Health yang terhubung dengan Google Fit dan Health Access untuk memantau detak jantung, kalori, langkah, hingga Body Mass Index (BMI).