JAKARTA - Kebiasaan mengenakan bantal saat memejamkan mata untuk tidur sering kali dianggap sebagai elemen yang tidak terpisahkan dalam mendukung kenyamanan beristirahat. Meskipun demikian, tidak sedikit pula orang yang justru lebih memilih tidur tanpa bantal karena menilai posisi tersebut jauh lebih bersahabat bagi kesehatan bagian punggung dan leher.
Lantas, opsi manakah yang sebenarnya jauh lebih baik, tidur dengan memakai bantal atau justru tanpa bantal sama sekali? Kalangan tenaga medis profesional yang berkecimpung menangani problem gangguan tulang belakang dan leher menegaskan bahwa posisi postur tulang belakang tatkala tidur merupakan aspek krusial yang wajib mendapat perhatian khusus.
Bantal membantu menjaga posisi leher tetap sejajar Berdasarkan pandangan Mara Vucich, D.O., selaku dokter spesialis tulang belakang yang berpraktik di Maryland Spine Center at Mercy, secara dunia medis memang belum teridentifikasi secara pasti ihwal kepastian apakah tidur memakai bantal atau tanpa bantal merupakan keputusan yang paling ideal.
“Secara medis, kami sebenarnya tidak benar-benar tahu jawaban dari pertanyaan tersebut,” ujar Vucich, seperti dikutip Prevention, Jumat (11/9/2026).
Kendati demikian, para praktisi dokter sepakat penuh bahwa posisi struktur tulang belakang yang netral terbukti ampuh membantu meredakan potensi risiko munculnya keluhan nyeri pada area leher maupun punggung.
Posisi netral yang dimaksud merepresentasikan kondisi di mana bagian kepala, leher, serta punggung berada dalam satu garis lurus yang selaras sempurna bersama lengkungan natural anatomi tubuh.
Dokter spesialis bedah tulang belakang yang bertugas di Hackensack University Medical Center, Ari R. Berg, M.D., memaparkan bahwa mayoritas orang justru akan merasakan jauh lebih banyak keuntungan tatkala tidur dengan mengenakan bantal.
“Untuk sebagian besar orang, tidur dengan bantal secara signifikan lebih baik. Apa pun posisi tidur kamu, bantal seharusnya menopang kepala dan leher dengan cara yang mempertahankan posisi tulang belakang tetap netral,” kata Berg.
Keberadaan bantal terbukti membantu memelihara lengkungan alami leher agar senantiasa berada dalam posisi sejajar dengan rangkaian tulang belakang. Sebaliknya, kebiasaan tidur tanpa sokongan penyangga justru berisiko membuat struktur leher terjebak dalam sudut kemiringan yang tidak ergonomis selama berjam-jam lamanya.
Ketebalan bantal perlu disesuaikan dengan posisi tidur Besaran manfaat optimal dari fungsi bantal sangat bergantung pada ketepatan proses pemilihan jenis serta dimensi ketebalannya. Penggunaan bantal yang kondisinya terlalu tinggi, terlalu tipis, terlampau lunak, ataupun justru terlalu keras malah berpotensi merusak kesejajaran postur leher.
Bagi individu yang memiliki kebiasaan tidur dengan posisi menyamping, Berg merekomendasikan penggunaan jenis bantal yang memadai guna mengisi celah jarak kosong antara daun telinga dengan garis luar bahu. Berbekal cara tersebut, posisi kepala tidak akan merosot jatuh ke permukaan kasur.
Di sisi lain, kelompok orang yang terbiasa tidur dengan posisi telentang memerlukan bantal yang sanggup menopang kurva lengkung natural leher tanpa memicu kepala mendongak secara berlebihan. Varian jenis bantal berukuran tingkat ketebalan sedang umumnya jauh lebih kompatibel untuk menunjang posisi tidur ini.
Adapun bagi kalangan yang gemar tidur dalam posisi tengkurap, mereka mutlak memerlukan bantal dengan profil tingkat ketebalan yang paling tipis. Pemilihan kriteria tersebut dimaksudkan agar postur leher tidak semakin terdorong terangkat ke atas manakala posisi kepala sudah harus menoleh menghadap ke arah samping.
Jason A. Smith, M.D., dari Atlantic Health menyampaikan pandangan bahwa pemanfaatan bantal terbukti secara efektif mampu mempertahankan keselarasan struktur tulang belakang bagian leher.
“Tidur dengan bantal memungkinkan posisi tulang belakang leher tetap sejajar,” ungkap Smith.
Tidur tanpa bantal lebih sesuai untuk posisi tengkurap Walaupun secara umum penggunaan bantal jauh lebih direkomendasikan, opsi tidur tanpa bantal tetap bisa dijadikan alternatif pilihan bagi individu yang sudah telanjur terbiasa tidur dengan posisi tengkurap. Di dalam posisi tersebut, bagian kepala wajib diputar menghadap ke salah satu sisi demi kelancaran proses bernapas.
“Ketika Anda tidur tengkurap, kepala harus diputar ke satu sisi selama berjam-jam. Jika ditambah bantal, kepala akan terdorong ke atas sekaligus tetap dalam posisi berputar,” jelas Berg.
Oleh sebab itu, bagi kalangan orang yang tidur tengkurap serta mengalami kesulitan merubah kebiasaan posisinya, tidur tanpa menggunakan bantal ataupun memilih bantal yang berkarakter sangat tipis dan datar terbukti mampu mereduksi tekanan beban pada area leher.
Kendati demikian, metode tidur tanpa bantal juga menyimpan potensi risiko tersendiri. Pada orang yang tidur menyamping, posisi kepala bisa melorot turun jauh di bawah garis bahu sehingga memicu timbulnya tekanan berlebih pada leher.
Sementara itu, pada individu yang tidur telentang, kepala berisiko mendongak terlalu ekstrem yang pada akhirnya memaksa otot serta sendi leher bekerja jauh lebih keras.
Pada fase akhir, pemilihan jenis bantal yang ideal sudah sepatutnya disesuaikan secara personal dengan kebiasaan posisi tidur serta struktur bentuk anatomi tubuh masing-masing.
Target esensial utamanya bukanlah sekadar memakai atau menghindari bantal semata, melainkan konsistensi menjaga agar susunan tulang belakang senantiasa berada dalam posisi netral sepanjang durasi tidur.