Alasan Ketombe Lebih Mudah Muncul Saat Seharian Pakai Hijab atau Helm

Alasan Ketombe Lebih Mudah Muncul Saat Seharian Pakai Hijab atau Helm
Ilustrasi Rambut Ketombe.

JAKARTA - Penggunaan penutup kepala seperti hijab maupun helm dalam waktu lama sudah menjadi bagian dari rutinitas harian masyarakat. Namun, pada penghujung hari sebagian orang kerap mengeluhkan kulit kepala menjadi lebih lembap, berminyak, gatal, hingga muncul serpihan putih atau ketombe.

Kondisi tersebut sering dituding sebagai dampak langsung dari penggunaan hijab atau helm. Padahal, kedua penutup kepala itu bukanlah penyebab utamanya. Masalah sebenarnya berakar pada perubahan kondisi kulit kepala saat tertutup rapat dalam durasi panjang, terutama ketika bercampur keringat, sebum, polusi, serta sisa produk perawatan rambut.

Menurut Dermatologist sekaligus Dermascalp Expert Trichologist Board, dr. Ardhiah Iswanda Putri, Sp.D.V.E., M.Ked.Klin, kondisi kulit kepala sangat dinamis dan beradaptasi terhadap lingkungan sekitar.

“Kulit kepala adalah lingkungan yang dinamis. Kondisinya dapat berubah mengikuti aktivitas, cuaca, keringat, polusi, dan produk yang digunakan,” kata dr. Ardhiah dalam siaran resmi yang diterima Kompas.com, Jumat 11 September 2026.

Saat seseorang beraktivitas di ruang terbuka atau saat cuaca panas, produksi keringat akan meningkat. Ketika kulit kepala tertutup, kelembapan itu terperangkap lebih lama, terlebih jika bercampur dengan minyak alami.

Dokter Ardhiah menjelaskan bahwa ketombe dipengaruhi oleh beragam faktor, mulai dari produksi sebum, keberadaan mikroorganisme Malassezia, kondisi microbiome, hingga ketahanan scalp barrier. Lingkungan yang lembap dan berminyak membuat kulit kepala yang rentan menjadi mudah terasa gatal dan berketombe.

Meski demikian, bukan berarti setiap pengguna hijab atau helm pasti akan mengalami masalah ketombe.

“Ketombe yang terlihat di permukaan bisa menjadi tanda dari kondisi scalp yang belum seimbang. Karena itu, kami tidak hanya melihat flakes-nya, tetapi juga lingkungan tempat masalah itu muncul,” ujar dr. Ardhiah.

Oleh karena itu, penanganan ketombe tidak cukup sekadar membersihkan serpihan yang tampak, melainkan harus memperhatikan kesehatan kulit kepala secara menyeluruh.

Perhatian terhadap kondisi kulit kepala pengguna hijab juga pernah diteliti oleh tim dermatologi FKUI–RSCM yang dipimpin Prof. Dr. dr. Sandra Widaty, Sp.D.V.E., Subsp.D.T., FINSDV, FAADV. Penelitian yang rilis di jurnal Scientific Reports pada 2023 itu menemukan perbedaan komposisi scalp microbiome antara perempuan berhijab dan non-hijab.

Pada pengguna hijab, keberadaan Malassezia restricta dan Staphylococcus capitis ditemukan lebih dominan. Hal ini membuktikan bahwa area kulit kepala yang tertutup memiliki karakteristik microbiome yang berbeda, walau studi cross-sectional ini tidak menunjukkan hubungan sebab-akibat secara langsung.

Untuk perawatan harian, sekadar mencuci rambut tidaklah cukup jika masalah gatal dan ketombe terus berulang. Pemilihan sampo dengan bahan aktif seperti Piroctone Olamine dapat diandalkan untuk mengontrol pertumbuhan Malassezia dan minyak berlebih.

Salah satu produk yang memanfaatkan formulasi tersebut adalah Dermascalp Expert Dandruff Relief Shampoo. Sampo ini mengusung Biomimetic ScalpTech™ powered by Molecular Amino untuk menjaga hidrasi kulit kepala serta mengurangi ketombe hingga 92 persen setelah 14 hari pemakaian.

Langkah perawatan kulit kepala sebenarnya tergolong sederhana. Pengguna disarankan memastikan rambut kering sebelum memakai penutup kepala, rutin mencuci inner hijab, menjaga kebersihan bagian dalam helm, serta tidak membiarkan kulit kepala lembap terlalu lama seusai berkeringat.

Saat mengaplikasikan sampo antiketombe, fokuskan usapan pada area kulit kepala sambil dipijat perlahan dengan gerakan melingkar, lalu bilas hingga bersih. Apabila masalah ketombe menetap disertai kemerahan dan kerontokan parah, segera konsultasikan ke dokter spesialis kulit.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index