JAKARTA - Pergerakan konsumsi rumah tangga kembali menjadi sorotan menjelang pergantian tahun. Data terbaru Bank Indonesia menunjukkan adanya akselerasi penjualan ritel yang mencerminkan daya beli masyarakat masih terjaga.
Di tengah momentum perayaan akhir tahun, aktivitas belanja masyarakat mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Namun demikian, otoritas moneter juga mengingatkan adanya potensi perlambatan laju pertumbuhan pada bulan berikutnya.
Bank Indonesia merilis laporan penjualan eceran terbaru yang menggambarkan kondisi konsumsi domestik. Laporan tersebut menjadi indikator penting untuk membaca arah ekonomi nasional dalam jangka pendek.
Kinerja Penjualan Ritel November 2025 Mengalami Akselerasi
Pada November 2025, penjualan ritel tercatat tumbuh lebih cepat dibandingkan bulan sebelumnya. Hal ini terlihat dari peningkatan Indeks Penjualan Riil yang menjadi tolok ukur utama Bank Indonesia.
Berdasarkan laporan yang disampaikan pada 12 Januari 2026, Indeks Penjualan Riil November 2025 berada di level 222,9. Angka ini mencerminkan pertumbuhan tahunan sebesar 6,3 persen.
Pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan capaian Oktober 2025 yang hanya tumbuh 4,3 persen secara tahunan. Kondisi ini menunjukkan adanya perbaikan aktivitas belanja masyarakat.
Bank Indonesia menjelaskan bahwa peningkatan tersebut ditopang oleh beberapa kelompok komoditas utama. Di antaranya adalah kelompok suku cadang dan aksesori, makanan, minuman, dan tembakau.
Selain itu, kelompok barang budaya dan rekreasi juga memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan penjualan ritel. Meningkatnya aktivitas hiburan dan kebutuhan rekreasi menjadi faktor pendukung.
Secara bulanan, penjualan eceran pada November 2025 juga menunjukkan tren positif. Penjualan ritel tumbuh sebesar 1,5 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Pertumbuhan bulanan ini didorong oleh meningkatnya penjualan pada sejumlah kelompok barang. Kelompok peralatan informasi dan komunikasi menjadi salah satu pendorong utama.
Selain itu, penjualan bahan bakar kendaraan bermotor turut mengalami peningkatan. Kondisi ini sejalan dengan meningkatnya mobilitas masyarakat.
Kelompok suku cadang dan aksesori juga mencatatkan pertumbuhan yang cukup baik. Kebutuhan perawatan kendaraan menjadi faktor yang mendukung kinerja kelompok ini.
Makanan, minuman, dan tembakau kembali menjadi penopang utama penjualan ritel. Permintaan meningkat seiring persiapan masyarakat menghadapi perayaan Natal dan Tahun Baru.
Proyeksi Penjualan Ritel Desember 2025 Mulai Melandai
Meski kinerja November menunjukkan akselerasi, Bank Indonesia memperkirakan adanya perlambatan pertumbuhan pada Desember 2025. Proyeksi ini disampaikan berdasarkan survei dan ekspektasi pelaku usaha.
Indeks Penjualan Riil Desember 2025 diperkirakan berada di level 231,7. Angka tersebut menunjukkan pertumbuhan tahunan sebesar 4,4 persen.
Laju pertumbuhan ini sedikit lebih rendah dibandingkan capaian November 2025. Namun demikian, kinerja tersebut masih mencerminkan aktivitas konsumsi yang relatif kuat.
Bank Indonesia menyebut bahwa penopang utama penjualan eceran pada Desember tetap berasal dari kelompok tertentu. Kelompok suku cadang dan aksesori kembali menjadi salah satu pilar pertumbuhan.
Selain itu, kelompok makanan, minuman, dan tembakau tetap mencatatkan kinerja positif. Permintaan masyarakat masih tinggi selama periode libur panjang.
Kelompok barang budaya dan rekreasi juga berkontribusi terhadap pertumbuhan penjualan ritel. Aktivitas rekreasi keluarga meningkat menjelang akhir tahun.
Bahan bakar kendaraan bermotor turut menopang kinerja penjualan eceran Desember 2025. Tingginya aktivitas perjalanan menjadi faktor pendorong.
Secara bulanan, penjualan eceran Desember 2025 diprakirakan tumbuh sebesar 4 persen. Pertumbuhan ini lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya.
Peningkatan bulanan tersebut didorong oleh kinerja mayoritas kelompok barang. Peralatan informasi dan komunikasi menjadi salah satu penyumbang utama.
Barang budaya dan rekreasi kembali mencatatkan peningkatan penjualan. Hal ini mencerminkan meningkatnya konsumsi berbasis hiburan dan gaya hidup.
Kelompok perlengkapan rumah tangga lainnya juga mengalami kenaikan penjualan. Kebutuhan rumah tangga meningkat seiring aktivitas berkumpul keluarga.
Makanan, minuman, dan tembakau kembali mencatatkan pertumbuhan signifikan. Momentum Hari Natal dan Tahun Baru menjadi faktor utama pendorong permintaan.
Dinamika Inflasi dan Ekspektasi Harga ke Depan
Selain kinerja penjualan, Bank Indonesia juga mencermati perkembangan tekanan harga. Fokus utama diarahkan pada ekspektasi inflasi dalam beberapa bulan mendatang.
Untuk periode tiga bulan ke depan, tekanan inflasi diperkirakan mengalami peningkatan. Periode yang dimaksud mencakup bulan Februari 2026.
Kenaikan tekanan harga ini tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum. Pada Februari 2026, indeks tersebut tercatat sebesar 168,6.
Angka ini lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya yang berada di level 163,2. Peningkatan ini mencerminkan ekspektasi kenaikan harga di masyarakat.
Bank Indonesia menjelaskan bahwa faktor musiman menjadi penyebab utama. Ekspektasi kenaikan harga menjelang Ramadan 1447 Hijriah turut memengaruhi persepsi pelaku ekonomi.
Sementara itu, untuk periode enam bulan mendatang, tekanan inflasi diperkirakan akan menurun. Periode ini mencakup bulan Mei 2026.
Indeks Ekspektasi Harga Umum Mei 2026 tercatat sebesar 154,5. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya yang mencapai 161,7.
Penurunan ekspektasi ini menunjukkan adanya keyakinan bahwa tekanan harga akan lebih terkendali. Stabilitas pasokan dan kebijakan pengendalian inflasi menjadi faktor pendukung.
Bank Indonesia terus memantau perkembangan konsumsi dan inflasi secara berkelanjutan. Data penjualan ritel menjadi salah satu indikator penting dalam perumusan kebijakan.
Dengan dinamika tersebut, arah konsumsi domestik diperkirakan tetap solid meski menghadapi tantangan. Keseimbangan antara pertumbuhan dan stabilitas harga menjadi fokus utama ke depan.