JAKARTA - Perubahan struktur kepemilikan saham di PT Multi Garam Utama Tbk (FOLK) kembali menjadi perhatian pelaku pasar.
Emiten yang bergerak di bidang investment holding ini mencatat masuknya nama baru dalam daftar pemegang saham signifikan. Investor asal Jambi, Djoni, resmi menambah porsi kepemilikannya hingga menembus ambang 5 persen. Langkah ini memunculkan beragam spekulasi mengenai arah strategis yang mungkin diambil perseroan ke depan.
Berdasarkan laporan perubahan struktur pemegang saham, Djoni secara pribadi tercatat mengempit 201 juta saham FOLK per 9 Januari 2026. Jumlah tersebut setara dengan 5,09 persen dari total modal ditempatkan dan disetor perseroan.
Posisi ini menempatkan Djoni sejajar dengan pemegang saham besar lainnya yang telah lebih dulu bercokol. Masuknya Djoni sekaligus mempertegas minat investor terhadap prospek jangka panjang FOLK.
Komposisi pemegang saham utama terkini
Dengan kepemilikan tersebut, nama Djoni kini berdampingan dengan PT Garam Ventura Indonesia sebagai pemegang saham mayoritas. Entitas tersebut tercatat menggenggam sekitar 1,65 miliar saham atau setara dengan 42,19 persen. Selain itu, PT Sumber Garam Pratama juga masih tercatat sebagai pemegang saham besar dengan kepemilikan 970,07 juta saham atau sekitar 24,57 persen.
Namun, struktur kepemilikan tersebut mengalami pergeseran dibandingkan akhir 2025. Saham PT Sumber Garam Pratama terpantau mengalami penyusutan sekitar 178,44 juta saham. Pada posisi 30 Desember 2025, kepemilikan entitas ini masih berada di level 1,14 miliar saham atau setara 29,09 persen. Perubahan ini menjadi salah satu faktor yang turut memengaruhi dinamika pemegang saham FOLK.
Profil Djoni sebagai investor strategis
Djoni dikenal luas sebagai investor strategis dengan pendekatan berbasis fundamental. Ia mengedepankan disiplin dalam pengelolaan kapital serta memiliki orientasi investasi jangka panjang. Karakter ini membuat langkah investasinya kerap diperhatikan oleh pelaku pasar. Masuknya Djoni ke FOLK dinilai sejalan dengan rekam jejaknya dalam memilih emiten berpotensi.
Selain FOLK, saham WIFI dan TRUE juga tercatat masuk dalam daftar portofolio investasinya. Diversifikasi tersebut menunjukkan preferensi Djoni terhadap perusahaan yang dinilai memiliki peluang pertumbuhan berkelanjutan. Kehadiran investor dengan profil seperti ini kerap diartikan sebagai sinyal kepercayaan terhadap fundamental perseroan. Meski demikian, pasar tetap menanti realisasi kinerja yang sejalan dengan ekspektasi.
Latar belakang aksi korporasi FOLK
Sebelum perubahan kepemilikan ini terjadi, FOLK telah lebih dulu menggelar aksi korporasi strategis. Perseroan melaksanakan Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu atau PMTHMETD yang dikenal sebagai private placement. Dalam aksi ini, FOLK menerbitkan saham baru dengan jumlah maksimal 394,81 juta saham atau setara 10 persen.
Aksi korporasi tersebut telah memperoleh persetujuan dari Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa yang digelar pada 12 Desember 2025. Manajemen kemudian mengeksekusi private placement ini pada awal 2026. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan dalam memperkuat struktur permodalan. Realisasi aksi ini juga membuka ruang bagi masuknya investor baru.
Detail harga dan potensi dana segar
Mengacu pada keterbukaan informasi yang dirilis pada Kamis (8/1/2025), manajemen FOLK menetapkan harga pelaksanaan private placement sebesar Rp 398 per saham. Dengan harga tersebut, perseroan berpotensi mengantongi dana segar sekitar Rp 56,99 miliar. Nilai ini diharapkan mampu memberikan fleksibilitas finansial bagi perusahaan.
Harga pelaksanaan tersebut ditetapkan paling sedikit sebesar 90 persen dari rata-rata harga penutupan saham FOLK di Pasar Reguler. Perhitungan dilakukan selama 25 Hari Bursa berturut-turut sebelum penetapan harga. Skema ini dirancang agar tetap memberikan perlindungan terhadap kepentingan pemegang saham lama. Transparansi penetapan harga menjadi salah satu poin penting dalam aksi ini.
Rencana penggunaan dana dan jadwal pelaksanaan
Berdasarkan skenario yang dipaparkan manajemen, dana hasil private placement akan dialokasikan untuk beberapa keperluan utama. Pertama, untuk pengembangan usaha melalui investasi yang diharapkan memberi nilai tambah bagi FOLK atau entitas usaha ke depan. Langkah ini sejalan dengan posisi FOLK sebagai perusahaan investment holding.
Kedua, dana tersebut akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan modal kerja. Selain itu, sebagian dialokasikan untuk kegiatan umum usaha perseroan atau general corporate purposes. Jika tidak ada aral melintang, pelaksanaan private placement dijadwalkan berlangsung pada 8 Januari 2026. Selanjutnya, pencatatan saham hasil private placement direncanakan dilakukan pada 15 Januari 2026.