Kemdiktisaintek-Pertamina Garap Bioetanol dari Tandan Sawit

Kamis, 20 Agustus 2026 | 20:08:02 WIB
Pada industri bioetanol di Mojokerto, Jawa Timur, PT Energi Agro Nusantara (Enero), anak perusahaan PTPN I, mengolah gas karbon dioksida (CO2) dari proses fermentasi menjadi CO2 Cair (Food Grade Liquid CO2) [FOTO: NET].

JAKARTA - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) bersama PT Pertamina (Persero) tengah menjajaki pengembangan bioetanol generasi kedua berbahan tandan kosong kelapa sawit (TKKS), sebagai bentuk ikhtiar mengembangkan teknologi energi berbasis potensi sumber daya domestik.

Mendiktisaintek memperkenalkan hasil jajak pendapat bersama Praj Industries asal India, yang menyuguhkan tawaran teknologi serta opsi pembangunan pilot plant skala kecil. Teknologi tersebut kelak bakal dikaji lebih dalam dari sudut pandang teknis, alokasi kebutuhan investasi, nilai ekonomi, hingga potensi penerapannya di tanah air.

"Kita coba dulu dalam skala kecil, supaya kita bisa memahami betul parameter tandan kosong kelapa sawit Indonesia dan memastikan bahwa inovasi yang dikembangkan benar-benar dapat memberikan nilai tambah bagi sumber daya yang kita miliki," kata Mendiktisaintek dalam keterangan di Jakarta, Kamis (20/8/2026).

Menteri Brian berpandangan bahwasanya Indonesia mengantongi potensi ketersediaan bahan baku TKKS yang melimpah, termasuk yang bersumber dari area perkebunan rakyat. Pemanfaatan TKKS sebagai bahan baku utama bioetanol berpotensi menghadirkan nilai tambah pada hasil sampingan industri kelapa sawit tanpa perlu melakukan pembukaan lahan baru.

Pengembangan inovasi ini juga selaras dengan agenda prioritas nasional Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia (RI) pada sektor ketahanan energi, hilirisasi, serta pengoptimalan sumber daya domestik sebagaimana tertuang dalam kerangka Astacita.

"Pengembangan teknologi berbasis sumber daya yang tersedia di dalam negeri diharapkan dapat mendukung upaya memperkuat kemandirian energi, sekaligus menciptakan nilai tambah dari potensi yang dimiliki Indonesia," ujar Brian Yuliarto.

Di sisi lain, Wakil Direktur Utama (Wadirut) PT Pertamina (Persero) Oki Muraza membeberkan rekam jejak riset mengenai pengolahan TKKS, termasuk garapan pengembangan teknologi yang dijalankan bersama deretan mitra.

"Tujuan kami, kalau bisa kami punya teknologi sendiri. Kami punya potensi bahan baku yang besar, sehingga teknologinya juga perlu kami kuasai," ucap Oki Muraza.

Sebagaimana diketahui, kedua belah pihak menegaskan krusialnya keberlanjutan proses dari fase riset menuju tahap hilirisasi serta komersialisasi di ranah industri. Di luar sisi teknologi, ketersediaan beserta manajemen tata kelola bahan baku turut menjadi fokus utama.

TKKS tersebar luas di pelbagai daerah sentra kelapa sawit, termasuk di kawasan perkebunan rakyat, sehingga skema mekanisme pengumpulan, penentuan harga, hingga alur distribusinya perlu dirancang matang agar proses pemanfaatannya berlangsung secara berkelanjutan.

Dalam konteks demikian, pengembangan industri bioetanol juga dinilai wajib memperhitungkan kemaslahatan masyarakat serta para pelaku usaha di sepanjang rantai pasok, guna menghadirkan kemanfaatan ekonomi yang adil bagi segenap pihak penyedia bahan baku.

Melalui sinergi antara jajaran pemerintah, perguruan tinggi, lembaga riset, hingga sektor industri, Kemdiktisaintek mendorong agar inovasi pengembangan teknologi tidak mandek di tahap penelitian semata, melainkan terus diakselerasi dan memberikan faedah nyata bagi perekonomian serta ketahanan energi nasional.

Terkini