JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) meresmikan Dimulainya pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) di Kelurahan Ciketing Udik, Kecamatan Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat. Langkah ini menjadi strategi utama demi menekan lonjakan volume sampah di tanah air.
"Kami sudah di Bali, Jawa Barat di Bandung dan Bekasi ini sudah yang ketiga. Wilayah-wilayah tersebut yang masuk kategori darurat sampah," kata Zulhas, di Bekasi, Rabu.
Ia menyampaikan bahwa proyek pengolahan sampah yang menggaet pihak ketiga tersebut ditargetkan rampung dalam kurun waktu dua tahun. Fasilitas ini diproyeksikan sanggup mengolah hingga 1.000 ton sampah per hari menjadi pasokan energi listrik.
Di samping keterlibatan swasta, pemerintah bersama jajaran TNI Angkatan Darat menyatakan kesiapannya untuk mengolah sampah di Kota Bekasi menjadi bahan bakar minyak dengan kemampuan daya olah mencapai 1.500 ton sampah saban hari.
"Mudah-mudahan dalam waktu beberapa tahun ke depan kami akan menghabisi gunung-gunung sampah di Kota Bekasi yang timbulan terbarunya sampai 60 meter. Kalau sampah baru sampai 1.500 ton kemudian sampah lama 1.000 ton," ujarnya lagi.
Menurutnya, krisis sampah dapat teratasi secara menyeluruh jika warga bersedia mengambil peran aktif dengan cara memilah sampah langsung dari rumah tangga. Zulhas meyakini sedikitnya 70 persen volume sampah sanggup terurai dalam dua hingga tiga tahun ke depan.
Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak menegaskan skema konversi sampah menjadi bahan bakar minyak ditujukan khusus untuk mengurai tumpukan sampah lama yang telah menggunung di Kota Bekasi.
"Mudah-mudahan segera ya, awal tahun depan kami sudah bisa beroperasi, satu-dua bulan pembangunan fasilitasnya dan kalau proses pengolahan sampah sudah mulai, berkurang sampahnya, kami tambah lagi pabriknya," katanya lagi.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengutarakan bahwa penanganan sampah di daerahnya untuk jangka pendek akan ditangani oleh TNI AD di bawah arahan KSAD guna diubah menjadi solar. Langkah ini menjadi solusi cepat sembari menantikan operasional penuh program PSEL.
"Artinya dalam jangka pendek kami sudah ada gambaran untuk menyelesaikan. Dan hal-hal teknis seperti di Bandung, Bandung Barat, ada area Perhutani. Kalau perlu Pemprov Jabar mengeluarkan biaya sewa untuk 30 tahun ke depan terhadap tanah itu, kami bersedia," katanya.
Adapun untuk rencana jangka panjang, kehadiran industri PSEL diyakini dapat memperkuat ketersediaan pasokan listrik di Jawa Barat, sehingga beban tarif listrik bagi warga berpotensi diturunkan.
"Dua hal ini kami menyambut gembira dengan harapan ke depan rakyat juga berkesadaran untuk tidak membuang sampah di mana saja. Disiapkan tempat sampah di rumah masing-masing. Dan atas inisiatif dari Pak Kemenko Pangan, sampahnya sudah terolah dari tingkat rumah tangga," kata dia pula.