JAKARTA - Tim Ahli Pertambangan dan Mineral Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Nataneil Adhynegara Horansil mengungkapkan bahwa estimasi total nilai cadangan nikel serta kobalt milik Indonesia mampu menembus angka 800 miliar dolar AS.
Dalam diskusi Reformasi Pengolahan Nikel Demi Mendorong Pertumbuhan Industri Hijau di Jakarta, Kamis, Nataneil memaparkan akumulasi angka itu bertumpu pada ketersediaan cadangan nikel Indonesia sebanyak 52 juta ton dan kobalt mencapai 1,2 juta ton.
"Ini kalau kami estimasi nilainya dengan nilai pasar LME saat ini, itu valuasinya untuk cadangan, itu untuk nikel sekitar 700 miliar dolar AS, kalau kobalt sekitar 50-an miliar dolar AS," katanya.
"Jadi di sini bisa dilihat untuk total nikel dan kobalt itu sekitar 800 miliar US dollar," katanya lagi.
Nataneil menerangkan bahwa estimasi fantastis tersebut merupakan kalkulasi murni dari cadangan yang siap dimonetisasi secara ekonomis, dan bukan menghitung total keseluruhan sumber daya mineral yang dikuasai Indonesia.
Kondisi sumber daya masih sebatas potensi mentah yang belum seluruhnya dapat ditambang secara komersial karena amat bergantung pada berbagai variabel, termasuk pergerakan pasar serta dinamika daya dukung lingkungan.
“Kalau kami mau berbicara tentang minable, yang sudah bisa di-value, dimonetisasi, itu kami lihatnya nilai cadangannya saja,” katanya.
“Bayangkan itu seberapa banyaknya ya manfaat yang bisa kami dapatkan dari sumber daya ini. 800 miliar dolar (AS) kalau kami convert ke rupiah mungkin sekitar Rp15.000 triliun,” ujarnya lagi.
Nataneil menegaskan bahwa konsistensi arah kebijakan hilirisasi nikel sejauh ini berhasil menghadirkan dampak positif signifikan bagi percepatan industri pengolahan mineral di kawasan domestik.
Indonesia yang pada era sebelumnya cenderung mengekspor komoditas bijih mentah, saat ini terbukti sanggup mencetak berbagai produk antara yang bernilai tambah tinggi seperti nickel pig iron (NPI).
Pihaknya menaruh harapan besar agar rantai nilai sektor industri terus diperkuat secara berkala hingga berujung pada pembuatan produk akhir, seperti komponen baterai hingga manufaktur kendaraan listrik.
Lebih lanjut, Nataneil menandaskan bahwa kebijakan hilirisasi terbukti memacu ekspansi kapasitas pengolahan nikel secara nasional. Daya tampung smelter nikel di Indonesia saat ini telah menyentuh kisaran 1,8 juta ton dengan konsentrasi terbesar berada di Sulawesi.
Dari sisi neraca perdagangan, nilai pengapalan ekspor olahan nikel melonjak drastis hingga 12 kali lipat sejak 2014, beranjak dari 3 miliar dolar AS per tahun menjadi 37 miliar dolar AS pada kurun tahun lalu.
Di samping itu, arus investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI) pada sektor base metal mencatatkan rekor tembus melebihi 71 miliar dolar AS sepanjang kurun waktu 2015 hingga 2025.