Gerhana Bulan Total Terjadi Pekan Ini Amerika Serikat Jadi Lokasi Terbaik

Kamis, 27 Agustus 2026 | 03:36:31 WIB
Ilustrasi Blood Moon.

JAKARTA — Peristiwa alam berupa gerhana bulan total atau 'blood moon' diproyeksikan bakal mewarnai angkasa pada pengujung Agustus ini. Sejumlah daerah di belahan dunia menjadi titik pengamatan terbaik untuk mengamatinya.

Gerhana bulan total tersebut diperkirakan berlangsung selama kurun dua hari, yakni Kamis (27/8) dan Jumat (28/8). Kemunculannya bakal tampak paling jernih dari kawasan Amerika Utara, sebagian area Eropa, serta Inggris.

Berdasarkan data Time and Date, fase purnama akan mulai bersinggungan dengan area luar bayangan Bumi pada Kamis (27/8) pukul 01.23 UTC atau 08.23 WIB. Tahapan awal ini kerap disapa sebagai gerhana penumbra.

Berkisar satu jam berselang, permukaan bulan merambat masuk ke zona bayangan yang kian pekat dan padat, yakni umbra. Di tahap inilah penampakan gerhana mulai tampak eksplisit, persisnya sekitar pukul 04.12 UTC atau 11.00 WIB.

Sementara itu, bagi masyarakat di pesisir barat Amerika Serikat dan Kanada, urutan fase gerhana baru dimulai pada malam 27 Agustus pukul 19.33 waktu setempat. Adapun wilayah Pantai Timur bakal menyaksikannya mulai pukul 22.33 waktu lokal.

Beralih ke benua Eropa, peristiwa langit ini terjadi pada Jumat (28/8) saat dini hari sebelum fajar menyingsing. Di lain sisi, sebagian zona Eropa, Afrika, hingga Timur Tengah baru dapat mengamati blood moon setelah mentari terbit.

Sayangnya, pemandangan langka ini sama sekali tak sanggup dipantau dari wilayah Indonesia. Hal tersebut lantaran prosesi gerhana bertepatan dengan waktu siang hari di kawasan tanah air.

Sebutan blood moon sendiri disematkan bilamana kedudukan planet Bumi tepat terapit sejajar di antara matahari dan bulan. Kedudukan simetris ini memaksa bulan tenggelam seutuhnya ke dalam umbra, yaitu bagian bayangan bumi paling pekat, hingga memancarkan rona kemerahan pada paras bulan.

Hadirnya nuansa warna merah itu dipicu oleh masih adanya bagian pendar sinar matahari yang berhasil menembus bulan. Meski begitu, berkas spektrum berwarna ungu lebih dulu tersaring oleh lapisan atmosfer bumi, sehingga mayoritas pantulan cahaya yang sampai ke permukaan bulan didominasi sinar merah.

Terkini