ENERGINEWS.ID — Indonesia akhirnya memiliki proyek hilirisasi batu bara skala besar yang mengubah batu bara kalori rendah menjadi metanol. Groundbreaking proyek ini berlangsung di kawasan Batuta Chemical Industrial Park (BCIP), Kecamatan Bengalon, Kutai Timur, dan akan menjadi yang pertama di dalam negeri.
Proyek ini digarap PT Bumi Etam Chemical (BEC), perusahaan patungan antara PT Arutmin Indonesia dan PT Kaltim Prima Coal (KPC). Lahan seluas 93 hektare disiapkan untuk menampung fasilitas pengolahan yang ditargetkan menyerap 7,7-7,78 juta ton batu bara berkalori 3.400 kcal/kg setiap tahun.
Kebutuhan Domestik dan Potensi Penghematan Devisa
Metanol yang dihasilkan akan memenuhi kebutuhan industri dalam negeri, terutama sektor petrokimia dan formaldehida. Saat ini, Indonesia masih mengimpor sekitar 1,3 juta ton metanol per tahun dengan nilai mencapai Rp7,1 triliun—jumlah yang bisa ditekan signifikan begitu proyek ini beroperasi penuh.
Wakil Menteri ESDM Yuliot menegaskan proyek ini merupakan bagian dari strategi hilirisasi yang menjadi prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. "Proyek ini merupakan bagian dari upaya kita untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, memperkuat industri dalam negeri, mengurangi ketergantungan terhadap impor, serta mendukung ketahanan dan kemandirian energi nasional," ujarnya Selasa (1/9).
Produk metanol yang dihasilkan akan berstandar internasional IMPCA Grade, sehingga bisa bersaing di pasar global sekaligus menjadi bahan baku pengembangan FAME dan program biodiesel B50.
Proyek Gasifikasi Pertama yang Turun ke Lapangan
Presiden Direktur BEC Rio Supin menyebut perusahaan telah menuntaskan tahap engineering dan siap memasuki implementasi. Perjanjian kerangka kerja EPCC telah disepakati bersama PT Istana Karang Laut dan China National Chemical Engineering Co., Ltd. sejak 29 Juli 2026.
"Proyek gasifikasi batu bara pertama di Indonesia siap memasuki implementasi, target commissioning tahun 2029 sesuai arahan Pak Menteri. BEC siap mendukung kemandirian dan ketahanan energi nasional," jelas Rio.
Fasilitas yang dibangun meliputi unit gasifikasi, reaktor sintesis, pembangkit listrik, pengolahan air, dan terminal pelabuhan. Teknologi yang dipasang juga dirancang untuk mengendalikan emisi dan terintegrasi dengan sistem Carbon Capture and Storage (CCS).
Mengolah Batu Bara Kalori Rendah yang Selama Ini Kurang Dimanfaatkan
Kehadiran proyek ini penting karena memanfaatkan batu bara kalori rendah yang selama ini jarang diolah optimal. Indonesia memiliki cadangan besar batu bara jenis ini di Kalimantan dan Sumatera, dan Yuliot berharap proyek BEC menjadi model bagi perusahaan tambang lain.
"Kita akan terus mendorong hilirisasi ini yang telah ditetapkan oleh Presiden Prabowo Subianto sebagai prioritas pembangunan semasa kepemimpinan Beliau dalam program Asta Cita," tegas Yuliot.
Menanti Efek Berantai Ekonomi
Selain menekan impor, proyek ini diharapkan membuka lapangan kerja baru dan menumbuhkan industri pendukung di sekitar kawasan Bengalon. Efek berganda dari pembangunan pabrik ini akan dirasakan langsung oleh ekonomi lokal di Kalimantan Timur, yang selama ini lebih banyak mengandalkan ekspor batu bara mentah.
Dengan target commissioning pada 2029, proyek ini menjadi tonggak baru hilirisasi energi Indonesia yang selama ini lebih banyak mengandalkan ekspor bahan mentah. Produksi metanol 2 juta ton per tahun juga akan memperkuat posisi Indonesia di industri petrokimia regional.