Ketahui 6 Tips Psikolog agar Kakak Adik Tidak Terus Bertengkar Ini

Jumat, 04 September 2026 | 04:30:51 WIB
Ilustrasi Kakak dan Adik Bertengkar.

JAKARTA — Perselisihan antara kakak dan adik kerap kali membuat orang tua merasa kewalahan. Meski demikian, konflik antarsaudara sebenarnya merupakan bagian yang lumrah dalam fase tumbuh kembang anak.

Psikolog Susan Albers menjelaskan bahwa interaksi antarsaudara menjadi salah satu wahana awal bagi anak untuk belajar berbagi, berkomunikasi, bersaing, serta menyelesaikan perbedaan pendapat.

Menurut Albers, persaingan kerap menjadi akar utama perselisihan. Namun, persaingan tidak selalu berdampak buruk selama tidak berlebihan atau dipicu oleh sikap orang tua.

“Persaingan dapat membuat seseorang bekerja lebih keras. Namun, persaingan menjadi beracun dan merusak ketika sudah berlebihan atau orangtua mendorongnya,” jelas Albers.

Berikut enam tips dari psikolog agar anak-anak tidak terus-menerus bertengkar:

Tetap Tenang Saat Konflik Terjadi

Ketika percekcokan mulai memanas, orang tua diimbau untuk tetap tenang serta mencermati situasi sebelum mengambil tindakan penanganan.

Jika ada anak yang mulai melakukan tindakan fisik, orang tua harus menegaskan bahwa hal tersebut tidak dibenarkan dan mengarahkan mereka agar berdiskusi menggunakan kata-kata.

Orang tua tidak perlu terburu-buru menentukan siapa yang salah atau benar. Sikap tenang membantu meredakan emosi dan memberi ruang bagi anak untuk belajar mencari solusi.

Jangan Membandingkan atau Menunjukkan Keberpihakan

Perbedaan usia, kepribadian, hingga kebutuhan perhatian turut memengaruhi dinamika hubungan kakak dan adik. Oleh sebab itu, hindari membandingkan atau mengistimewakan salah satu anak.

Albers menyarankan orang tua untuk menciptakan momentum kerja sama antar-anak lewat kegiatan bersama, seperti makan malam, berekreasi, atau bermain board game.

Aktivitas bersama ini memberi ruang bagi anak-anak untuk menjalin kedekatan sekaligus menikmati waktu bersama orang tua tanpa perlu berebut perhatian.

Hargai Keunikan Setiap Anak

Setiap anak memiliki minat, bakat, dan karakter yang unik. Orang tua perlu menunjukkan apresiasi kepada setiap anak sebagai individu yang utuh.

Albers menganjurkan agar orang tua meluangkan waktu khusus secara personal dengan masing-masing anak sesuai dengan kegemaran mereka.

Selain itu, hindari menyematkan label tertentu berdasarkan satu karakteristik saja. Orang tua disarankan untuk menyebutkan beragam pencapaian serta sifat positif yang dimiliki anak.

Perlakukan Anak Secara Adil

Sikap adil tidak selalu diartikan sebagai pemberian hal yang sama secara kuantitas maupun bentuk kepada tiap anak.

“Penghargaan dan hukuman harus disesuaikan dengan kebutuhan anak,” pesan Albers.

Sebagai contoh, orang tua tidak harus membelikan jenis mainan yang sama, melainkan menyesuaikannya dengan tingkat usia serta minat masing-masing anak.

Dengarkan Perasaan Anak

Saat pertengkaran pecah, fokus orang tua sebaiknya tidak hanya mencari pihak yang bersalah. Mengajak anak berdiskusi dapat dilakukan setelah suasana hati mereka mereda.

“Bertanyalah kepada anak bagaimana konflik tersebut membuat mereka merasa,” saran Albers.

Mendengarkan pandangan tiap anak akan membuat mereka merasa dihargai. Meskipun perasaan emosional tidak membenarkan tindakan agresif, anak akan lebih kooperatif apabila merasa didengarkan.

Ajarkan Cara Menyelesaikan Konflik dan Buat Aturan Bersama

Momen pertengkaran dapat dimanfaatkan sebagai sarana melatih anak untuk bertoleransi, berkompromi, dan menyampaikan keinginan dengan baik.

Albers mendorong keluarga untuk merumuskan aturan bersama. Adanya kesepakatan tertulis membantu orang tua merujuk pada aturan yang ada, ketimbang terkesan memihak salah satu anak saat konflik timbul.

Kapan Perlu Meminta Bantuan Profesional?

Perselisihan antarsaudara memerlukan penanganan ahli jika mulai mengganggu keharmonisan keluarga atau keselamatan anak.

Orang tua disarankan berkonsultasi dengan profesional apabila konflik memengaruhi prestasi sekolah, hubungan sosial, atau dipicu oleh peristiwa traumatis.

“Seorang terapis dapat membantu mencari tahu cara menghadapi persaingan antarsaudara. Itu berarti mengidentifikasi batasan, gaya komunikasi, dan pemicu masing-masing anak, lalu mencari cara untuk mengatasi konflik sekaligus emosi yang muncul karenanya,” tutur Albers.

Terkini