JAKARTA - Anggota Komisi IV DPR RI Rokhmin Dahuri mengutarakan, Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) mendesak guna mengaplikasikan rantai dingin demi mendongkrak derajat kesejahteraan nelayan sekaligus daya saing ekspor Indonesia.
Menurut pandangannya, ketersediaan rantai dingin yang hemat konsumsi energi merupakan pilar infrastruktur krusial dalam merawat mutu kualitas ikan sejak fase ditangkap atau dipanen hingga sampai ke tangan konsumen, maka dari itu sistem tersebut menjadi langkah strategis untuk menaikkan kesejahteraan nelayan serta daya saing ekspor Indonesia.
"Saya sangat menyambut baik dan mengapresiasi diselenggarakannya semacam simposium atau lokakarya sistem rantai dingin yang mendukung keberhasilan program Kampung Nelayan Merah Putih," kata Rokhmin Dahuri dalam keterangan resminya di Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (12/9/2026).
Rokhmin membeberkan, dari kisaran 15 juta ton total hasil produksi perikanan Indonesia tiap tahunnya, tercatat kurang dari 12 persen yang sanggup ditangani mengandalkan sistem rantai dingin.
Keterbatasan sarana tersebut menjadi satu di antara muara masalah yang memicu sebagian hasil tangkapan perikanan mengalami penurunan mutu bahkan terbuang percuma sebelum menjangkau pihak konsumen.
"Kalau kualitas atau mutu ikan dan seafood sudah menurun, bukan hanya berdampak ekonomi, yaitu harga jualnya rendah atau bahkan tidak laku. Ada juga dampak terhadap kesehatan dan rendahnya nilai ekspor kami," ujarnya.
Menurut penjelasannya, masalah tersebut memicu efek domino berantai. Sewaktu mutu kualitas ikan merosot, angka harga jual nelayan ikut tergerus. Di sisi lain, komoditas produk yang tidak dikelola dengan benar sanggup memicu risiko gangguan kesehatan dan sulit memenuhi kualifikasi standar pasar ekspor.
Muatan kondisi ini turut memperjelas penyebab Indonesia, sekalipun menyandang status salah satu produsen perikanan raksasa dunia, masih tertinggal dalam perolehan nilai ekspor bila disandingkan dengan deretan negara seperti Vietnam, Thailand, hingga Norwegia.
Guna menjawab tantangan tersebut, Rokhmin memacu pemanfaatan teknologi rantai dingin yang jauh lebih efisien serta ramah bagi lingkungan.
Menurut dirinya, terobosan teknologi low carbon bahkan zero carbon perlu mulai diterapkan dalam lingkup sistem perikanan nasional, terkhusus berbekal pemanfaatan potensi energi surya Indonesia.
"Teknologi yang semakin canggih, terutama terkait teknologi low carbon atau zero carbon, harus kami manfaatkan. Indonesia ini gudangnya sumber energi matahari," katanya.
Optimalisasi energi matahari, lanjut Rokhmin, sanggup diaplikasikan secara bertahap pada pelbagai kebutuhan sektor perikanan, mulai dari armada kapal penangkap ikan, fasilitas cold storage, refrigerator hingga kotak cool box. Ia mengingatkan supaya sistem pendinginan di ranah sektor perikanan secara berangsur tak lagi menggantungkan diri pada energi fosil atau BBM.
Sementara itu, tingginya kebutuhan terhadap ketersediaan teknologi rantai dingin yang efisien turut menyedot perhatian kalangan industri.
PT DS Solutions International selaku perwakilan resmi TITAN Containers di Indonesia, memperkenalkan teknologi cold storage portable pada ajang pameran RHVAC Indonesia 2026 yang dihelat pada 9–11 September 2026 di Nusantara Indonesia Convention Exhibition (NICE), PIK2, Hall 5 & 6.
Dalam arena perhelatan yang mempertemukan jajaran pelaku usaha, engineer, serta operator industri refrigerasi, HVAC, dan cold chain tersebut, TITAN Containers menghadirkan dua unit cold storage portable secara langsung pada stan pamerannya.
Di samping itu, pihak perusahaan juga menggelar agenda presentasi bisnis pada hari kedua pameran guna mengenalkan opsi solusi penyimpanan berpendingin untuk sektor makanan, minuman, perikanan, hingga industri farmasi.
Dua unit yang dipamerkan yakni ArcticBlast 20FT serta ArcticStore Horizon 40FT. ArcticBlast 20FT merupakan unit khusus yang dirancang untuk alur proses rapid chilling dan blast freezing, dengan sokongan sistem mesin ganda yang sanggup menekan suhu hingga -40°C.
Peranti teknologi itu disasarkan bagi komoditas layaknya daging, unggas, serta seafood yang menuntut proses pendinginan atau pembekuan secara kilat demi menjaga mutu kualitas produk.
Sementara itu, ArcticStore Horizon 40FT menjadi generasi paling mutakhir dari lini keluarga ArcticStore yang diperkenalkan untuk kali pertama di Indonesia dalam ajang tersebut. Unit ini mengantongi rentang suhu -30°C hingga +30°C dan diklaim sanggup menekan tingkat konsumsi energi rata-rata sampai 55 persen bila dibandingkan reefer konvensional.
Tingkat efisiensi tersebut ditopang oleh hadirnya panel insulasi generasi teranyar serta bahan refrigeran berparameter Global Warming Potential (GWP) di angka 0,5. Unit Horizon juga dapat dilengkapi komponen panel surya opsional yang secara tipikal mampu menghemat konsumsi energi hingga 25 persen lebih jauh.
Kendati membuka celah peluang kerja sama bersama entitas perusahaan asing, Rokhmin menegaskan jajaran pemerintah wajib mengawal agar kemitraan tersebut menyalurkan faedah maksimal untuk industri nasional.
Satu di antara aspek yang wajib diperkokoh yakni tingkat komponen dalam negeri (TKDN), melingkupi dorongan proses produksi komponen teknologi rantai dingin di dalam negeri.
"Manfaat kerja sama dengan luar negeri itu harus segera kami raih, yaitu manfaat alih teknologi, manfaat nilai tambah harus jatuh di kami, dan manfaat tenaga kerja juga harus di kami. Jangan sampai kami hanya impor gelondongan, tidak ada komponen satu pun yang diproduksi di dalam negeri," tegasnya.
Ia menjamin jajaran Komisi IV DPR RI bakal ikut mengawal pengawasan kebijakan tersebut supaya ikatan kerja sama internasional tak mandek sebatas aktivitas impor teknologi.
Menurut penegasannya, bentuk kerja sama ideal wajib membuahkan proses transfer teknologi, mengerek kapasitas industri nasional, menciptakan nilai tambah di dalam negeri, sekaligus membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat Indonesia.