Suporter Tandang Diizinkan Lagi, Akmal Marhali Minta Konsistensi PSSI

Senin, 31 Agustus 2026 | 16:53:32 WIB
The Jak Mania [FOTO: NET].

JAKARTA - Regulasi mengenai suporter tandang kembali menjadi sorotan utama menyongsong bergulirnya Super League 2026-2027 pada Jumat (6/9/2026). Setelah dalam beberapa musim terakhir akses untuk pendukung tim tamu dibatasi, I.League kini memastikan suporter tandang secara umum diperbolehkan kembali ke stadion untuk mengawal klub kebanggaan mereka.

Meski begitu, aturan tersebut tidak berlaku pada laga dengan level rivalitas tinggi. Laga panas seperti Persija Jakarta vs Persib Bandung serta Persebaya Surabaya vs Arema FC masih ditempatkan dalam daftar pengecualian atas dasar pertimbangan keamanan.

Direktur Utama I.League, Ferry Paulus, menjelaskan bahwa regulasi ini berpatokan pada arahan FIFA serta mempertimbangkan hasil pemetaan potensi kerawanan.

Untuk laga-laga di luar kriteria rivalitas tinggi tersebut, tanggung jawab pengawalan suporter tamu diserahkan kepada pihak klub masing-masing.

Masih Harus Ditunggu Penerapan di Lapangan

Pengamat sepak bola nasional, Akmal Marhali, menilai realisasi kebijakan I.League itu patut dicermati penerapannya di lapangan.

“Beberapa kali, baik PSSI maupun ILeague menyampaikan hal semacam ini," ujar Akmal kepada Kompas.com. "Tahun lalu pun demikian, tetapi konsistensi dari apa yang dinyatakan kadang tidak sesuai dengan fakta di lapangan." "Pada akhirnya, beberapa pertandingan tidak bisa dihadiri suporter tandang. Artinya, keputusan PSSI maupun I.League terkait izin suporter tandang pada musim ini kami tunggu konsistensinya," imbuhnya.

Ia berpandangan, pembukaan pintu bagi suporter tandang semestinya menjadi bagian dari transformasi tata kelola sepak bola nasional.

"Paling penting, seharusnya juga ada edukasi dan sosialisasi mengenai regulasi yang dilakukan I.League kepada kelompok-kelompok suporter," ujarnya. "Sekali lagi, saya berharap bukan sekadar pelarangan suporter tandang, tetapi sudah mulai dibuat langkah-langkah untuk mengaturnya,” tutur pengamat yang biasa disapa Akmal itu. 

“Misalnya dengan jumlah terbatas seperti yang pernah dilakukan di Inggris. Suporter dikawal sejak datang, menonton di stadion, kemudian pulang dalam jumlah terbatas berdasarkan kesepakatan,” sambungnya.

Laga Besar Jangan Selamanya Tanpa Penonton

Apalagi, dua partai berstatus rivalitas tinggi masih mendapat pengecualian. Akmal Marhali beranggapan duel super big match tersebut semestinya justru difungsikan sebagai momentum menguji efektivitas sistem tata kelola suporter yang lebih matang.

“Jangan kemudian laga tanpa penonton untuk dua pertandingan besar ini menjadi sebuah kewajiban yang harus dilakukan sehingga tidak ada pembelajaran," kata pengamat yang juga koordinator Save Our Soccer (SOS) itu.

 "Menurut saya, Persija vs Persib pun sudah waktunya menggunakan penonton dengan kebijakan dan aturan ketat, ditambah kesepakatan yang dibuat oleh suporter keempat tim,” imbuhnya.

Oleh sebab itu, ia berharap pertandingan yang menghadirkan dua basis suporter di Super League 2026-2027 dapat kembali mewarnai atmosfer sepak bola Indonesia, disertai pengawasan dan kesepakatan yang riil.

“Dengan begitu, suporter-suporter lain bisa belajar bahwa pertandingan sepak bola sejatinya bisa dihadiri oleh dua kelompok suporter. Di situ juga menjadi medium bagi suporter untuk memahami bahwa sepak bola adalah hiburan, bukan kuburan,” ujar Akmal Marhali. “Sepak bola adalah tempat menghadirkan kegembiraan, bukan pelampiasan amarah dan kekecewaan,” sambungnya.

Risiko Harus Dipetakan Sejak Awal

Di sisi lain, setiap laga sepak bola mengusung tingkat risiko berbeda sehingga penanganannya tak dapat dipukul rata.

“Tentunya, kalau ada potensi masalah, harus dilakukan langkah-langkah antisipasi. Ada istilah low risk, middle risk, dan high risk atau risiko rendah, sedang, dan tinggi yang seharusnya sudah dipetakan,” kata pengamat yang pernah menjabat sebagai anggota Tim Gabungan Pencari Fakta Tragedi Kanjuruhan itu.

Pemetaan tingkat risiko tersebut harus dikombinasikan dengan sinergi antara operator kompetisi, federasi, klub, aparat keamanan, hingga jajaran steward yang bertugas di lapangan.

“I.League juga harus memiliki komunikasi intensif dengan pihak keamanan. Bukan hanya Kepolisian ataupun Tentara Nasional Indonesia (TNI), tetapi juga para steward di lapangan mengenai bagaimana menangani provokasi dan situasi lainnya agar tidak menjadi pemicu masalah,” imbuhnya.

Kini ia berharap skema anyar terkait izin suporter tandang ini bukan sebatas tindakan responsif atas desakan publik, melainkan bagian dari kalkulasi jangka panjang demi mewujudkan kompetisi yang profesional.

“Intinya, semoga kebijakan yang dikeluarkan PSSI tahun ini benar-benar merupakan hasil analisis yang matang, bukan sekadar upaya untuk melepaskan tekanan dari suporter yang sudah mulai meminta agar laga tandang kembali dibuka,” pungkas Akmal Marhali.

Saudara-saudara kami di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kami mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT

Terkini