Penyebab Anak Suka Memukul dan Solusi Bijak untuk Orang Tua

Senin, 14 September 2026 | 21:32:01 WIB
Ilustrasi anak memukul orang lain.

JAKARTA - Melihat anak memukul orang lain tentu membuat orang tua kaget dan bingung menentukan respons terbaik. Kekhawatiran juga kerap muncul saat perilaku tersebut sering terjadi, terutama jika orang tua khawatir anak terbiasa menggunakan kekerasan ketika marah atau menginginkan sesuatu.

Pada usia tertentu, memukul menjadi cara anak meluapkan emosi yang belum bisa disampaikan lewat kata-kata. Anak masih belajar mengenali rasa marah, kecewa, dan frustrasi, sekaligus melatih diri mengendalikan dorongan untuk bertindak impulsif.

Lantas, bagaimana langkah orang tua dalam menghadapi anak yang suka memukul? Berikut beberapa cara yang dapat diterapkan:

1. Hentikan dengan tenang dan tegas

Saat anak memukul, orang tua tetap wajib memberikan batasan yang jelas. Sampaikan secara tenang dan singkat bahwa memukul merupakan tindakan yang tidak diperbolehkan.

Orang tua tidak perlu berteriak, mengancam, atau mempermalukan anak. Sikap yang tenang membantu orang tua menunjukkan batasan sekaligus memberi contoh cara mengelola emosi tanpa kekerasan.

Panduan pengasuhan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) turut menegaskan pentingnya aturan yang jelas, arahan positif, dan disiplin tanpa kekerasan dalam pola asuh anak.

2. Jangan membalas dengan pukulan

Membalas pukulan anak dengan pukulan bukanlah cara yang tepat untuk mengajarkan kedisiplinan. Hukuman fisik tidak membawa manfaat bagi anak dan justru memicu dampak negatif, termasuk peningkatan sifat agresif serta perilaku bermasalah.

Anak meniru apa yang mereka lihat. Ketika orang tua memakai kekerasan saat emosi, anak dapat menangkap pesan bahwa memukul adalah cara yang wajar untuk menghadapi hal yang tidak disukai.

3. Bantu anak mengenali emosinya

Setelah anak kembali tenang, orang tua dapat membantunya memahami perasaan yang dialami. Anak perlu belajar bahwa marah, kecewa, dan frustrasi adalah hal alami, namun tidak semua tindakan boleh dilakukan untuk meluapkannya.

Orang tua bisa membantu dengan memberi nama pada emosi anak serta menawarkan alternatif cara lain untuk mengekspresikannya.

Sebagai contoh, "Kalau marah, bilang, 'Mama, kami tidak suka.' Kamu juga bisa panggil Mama. Tangannya tidak untuk memukul."

Pendekatan pengasuhan berbasis bukti juga menekankan pentingnya komunikasi, regulasi emosi, pemecahan masalah, dan hubungan positif antara orang tua dengan anak.

4. Ajarkan apa yang boleh dilakukan sebagai gantinya

Anak tidak cukup hanya dilarang dengan ucapan "Jangan memukul." Mereka perlu tahu apa yang seharusnya dilakukan saat sedang marah atau kecewa.

Orang tua dapat mengajari anak untuk mengekspresikan perasaannya melalui kata-kata, meminta bantuan, menjauh sejenak dari situasi yang memicu emosi, atau menerapkan cara lain yang sesuai usianya untuk menenangkan diri.

Langkah ini sejalan dengan parent management training, yakni metode yang membantu orang tua mengubah pola interaksi dengan anak, memberikan arahan yang jelas, dan memperkuat perilaku yang diharapkan.

Riset dalam Journal of the American Academy of Child & Adolescent Psychiatry menunjukkan bahwa pendekatan ini memiliki bukti kuat dalam mengatasi sifat agresif dan perilaku disruptif pada anak.

5. Puji ketika anak berhasil menahan diri

Jangan hanya fokus saat anak berbuat salah. Orang tua juga harus memberikan perhatian ketika anak mampu merespons situasi dengan cara yang lebih baik.

Contohnya, saat anak kesal namun memilih berbicara daripada memukul, orang tua dapat memberikan apresiasi sederhana seperti, "Tadi kamu marah, tapi kamu mau bilang. Itu bagus."

Apresiasi atau positive reinforcement membantu anak memahami perilaku yang diharapkan sekaligus mendorong mereka untuk mengulanginya.

6. Perhatikan kapan anak biasanya memukul

Orang tua perlu mengamati kondisi yang umumnya menjadi pemicu perilaku memukul. Perilaku ini biasa muncul dalam situasi tertentu, seperti saat anak:

lelah atau lapar;

mainannya diambil;

kalah dalam permainan;

diminta berhenti bermain;

berebut dengan saudara; atau

sedang mencari perhatian.

Memahami pemicu membantu orang tua mengantisipasi keadaan sekaligus mengajarkan respons yang lebih baik. Batasan tetap harus diterapkan tanpa kekerasan. Konsistensi juga sangat penting agar anak memahami bahwa aturan berlaku dalam kondisi apa pun.

Terkini