Logam Mulia

Harga Logam Mulia Naik, Dorong Pergerakan Komoditas Lain di Pasar

Harga Logam Mulia Naik, Dorong Pergerakan Komoditas Lain di Pasar
Harga Logam Mulia Naik, Dorong Pergerakan Komoditas Lain di Pasar

JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya fluktuasi harga komoditas global pada November 2025, baik secara bulanan (month-to-month/mtm) maupun tahunan (year-on-year/yoy). 

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, menyampaikan hal ini dalam Rilis Berita Resmi Statistik BPS.

“Kenaikan harga secara bulanan dan tahunan terjadi pada kelompok logam mulia serta juga logam dan mineral. Peningkatan harga komoditas logam mulia didorong oleh peningkatan harga emas,” ujar Pudji.

Berikut analisis lengkap pergerakan harga komoditas dan neraca perdagangan Indonesia pada November 2025.

Kenaikan Harga Logam Mulia dan Logam Mineral

Kelompok logam mulia mencatat kenaikan signifikan pada November 2025. Harga logam mulia naik 0,87% mtm dan 55,42% yoy. Sementara itu, logam dan mineral lainnya naik 0,47% mtm dan 11,87% yoy.

Lonjakan harga ini dipengaruhi oleh kenaikan harga emas di pasar internasional, yang menjadi indikator utama pergerakan logam mulia secara global. 

Peningkatan harga emas biasanya mencerminkan permintaan investor terhadap aset safe haven, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi dan pasar keuangan.

Kenaikan logam mulia juga berdampak pada komoditas terkait seperti perhiasan, elektronik, dan sektor industri tertentu yang menggunakan logam sebagai bahan baku. Pergerakan harga ini menunjukkan sensitivitas pasar terhadap perubahan harga emas dan logam global.

Pergerakan Komoditas Energi

Berbeda dengan logam, harga komoditas energi mengalami penurunan pada November 2025. Secara bulanan, harga energi turun 0,40%, sedangkan secara tahunan turun 13,02%.

Penurunan ini terutama disebabkan oleh turunnya harga minyak mentah di pasar internasional. Faktor ini memengaruhi harga bahan bakar, listrik, dan biaya transportasi, yang pada gilirannya berdampak pada sektor industri dan konsumen.

Meskipun terjadi penurunan harga, sektor energi tetap menjadi komoditas strategis karena peranannya dalam menjaga stabilitas ekonomi dan memenuhi kebutuhan energi nasional.

Fluktuasi Harga Komoditas Pertanian

Komoditas pertanian menunjukkan dinamika yang berbeda. Harga pertanian naik 0,86% mtm, tetapi menurun 5,42% yoy.

Kenaikan bulanan ini menunjukkan adanya permintaan domestik yang meningkat atau gangguan pasokan tertentu. Sementara penurunan tahunan mencerminkan faktor musiman, perubahan harga komoditas global, atau fluktuasi produksi hasil pertanian.

Dinamika ini penting bagi sektor pangan dan industri olahan, serta menjadi indikator perencanaan ekonomi dan kebijakan pemerintah terkait ketahanan pangan.

Harga Batu Bara di Pasar Internasional

Harga batu bara juga mengalami pergerakan signifikan pada November 2025. Secara bulanan, harga batu bara naik 4,74% mtm, tetapi secara tahunan turun 20,77% yoy.

Pergerakan ini menunjukkan adanya fluktuasi permintaan energi global, terutama dari negara importir utama. Penurunan tahunan yang cukup besar juga bisa terkait dengan transisi energi ke sumber yang lebih ramah lingkungan serta penurunan konsumsi energi tradisional.

Neraca Perdagangan Indonesia Tetap Surplus

Selain harga komoditas, BPS juga merilis data neraca perdagangan Indonesia. Pada November 2025, neraca perdagangan mencatat surplus US$2,66 miliar, memperpanjang catatan surplus selama 67 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

Realiasi ini lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya, Oktober 2025, yang mencatat surplus US$2,39 miliar.

Pudji menambahkan, ekspor Indonesia pada November 2025 mencapai US$22,52 miliar, turun 6,6% yoy. Penurunan ini terutama disebabkan oleh menurunnya ekspor nonmigas, termasuk bahan bakar mineral, lemak nabati, serta besi dan baja.

Nilai impor Indonesia tercatat US$19,86 miliar, turun 0,46% yoy, sehingga neraca perdagangan barang tetap surplus US$2,66 miliar.

Surplus Komoditas Nonmigas sebagai Penopang

Surplus pada November 2025 didorong oleh komoditas nonmigas yang mencatat kontribusi US$4,64 miliar. Komoditas utama penyumbang surplus meliputi:

Lemak dan minyak hewani/nabati

Bahan bakar mineral

Besi dan baja

Kontribusi sektor nonmigas ini menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas neraca perdagangan Indonesia. Keberlanjutan surplus juga menunjukkan daya saing produk nonmigas Indonesia di pasar internasional.

Dampak Kenaikan Harga Logam dan Energi

Kenaikan harga logam mulia tidak hanya memengaruhi sektor logam itu sendiri, tetapi juga industri terkait, pasar investasi, dan perdagangan global. Sementara itu, penurunan harga energi bisa memberikan tekanan pada pendapatan produsen energi, tetapi juga menurunkan biaya produksi bagi industri pengguna energi.

Kombinasi ini mencerminkan dinamika kompleks pasar komoditas global yang perlu diantisipasi oleh pelaku usaha, investor, dan pemerintah.

Data BPS pada November 2025 menunjukkan tren fluktuatif pada harga komoditas global. Kenaikan harga logam mulia dan logam mineral, disertai penurunan harga energi dan fluktuasi pertanian, mencerminkan dinamika pasar yang berbeda antar-sektor.

Di sisi domestik, neraca perdagangan Indonesia tetap surplus, didukung oleh kontribusi besar komoditas nonmigas. 

Hal ini menunjukkan ketahanan ekonomi Indonesia dalam menghadapi perubahan harga komoditas global dan mempertahankan posisi positif di perdagangan internasional.

Ke depan, pemantauan harga komoditas dan strategi ekspor-impor yang tepat menjadi kunci untuk menjaga stabilitas ekonomi serta mendukung pertumbuhan nasional.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index