Menlu Sugiono

Menlu Sugiono Bersiap Bahas Diplomasi Ekonomi dan Isu Gaza dalam Kunjungan Kerja Turki 2026

Menlu Sugiono Bersiap Bahas Diplomasi Ekonomi dan Isu Gaza dalam Kunjungan Kerja Turki 2026
Menlu Sugiono Bersiap Bahas Diplomasi Ekonomi dan Isu Gaza dalam Kunjungan Kerja Turki 2026

JAKARTA - Kunjungan kerja Menteri Luar Negeri Sugiono ke Turki menjadi fokus diplomasi Indonesia di awal 2026, dengan agenda yang jauh lebih strategis daripada sekadar pertemuan bilateral biasa. 

Selain mempererat kerja sama ekonomi dan keamanan, lawatan ini juga memuat pembicaraan isu global yang mendapat sorotan publik, termasuk dinamika di Gaza yang menjadi bagian penting agenda pertemuan kedua negara.

Lawatan Sugiono dirancang tidak hanya sebagai pertemuan formal, tetapi sebagai langkah konkret dalam penguatan hubungan strategis dengan Turki di tengah pergeseran geopolitik global. Indonesia mengambil kesempatan ini untuk memperluas kerja sama di berbagai bidang serta menunjukkan peran aktifnya dalam isu internasional yang sensitif.

Agenda Utama Kunjungan Kerja ke Turki

Menteri Luar Negeri Sugiono dijadwalkan melakukan kunjungan kerja ke Turki pada 8–10 Januari 2026. Dalam lawatan ini, Sugiono akan menghadiri pertemuan perdana format “2+2” antara Indonesia dan Turki yang mempertemukan Menteri Luar Negeri dan Menteri Pertahanan dari kedua negara, sebuah mekanisme dialog strategis yang baru dilaksanakan untuk pertama kalinya oleh kedua negara.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI, Yvonne Mewengkang, menyampaikan bahwa pertemuan tersebut merupakan momen awal untuk melanjutkan kerja sama bilateral dalam skema strategis yang lebih formal dan mendalam. Pertemuan ini dilaksanakan di Ankara dan dipandang sebagai tindak lanjut dari High Level Strategic Cooperation Council antara Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada Februari 2025.

Memperkuat Hubungan Ekonomi dan Keamanan

Dalam pertemuan strategis tersebut, Indonesia dan Turki akan membahas sejumlah isu yang menjadi prioritas kedua negara. Fokus utama mencakup kerja sama strategis di sektor keamanan, perdagangan, ekonomi, pembangunan, serta energi. Isu kerja sama pertahanan dan industri pertahanan juga akan menjadi pokok pembahasan, mencerminkan dinamika hubungan bilateral yang terus berkembang.

Hal ini sejalan dengan komitmen kedua negara untuk meningkatkan kerja sama strategis di berbagai level, tak hanya politik tetapi juga pertumbuhan ekonomi dan industri. Upaya ini diharapkan akan membuka peluang baru dalam investasi, transformasi digital, serta sinergi teknologi yang saling menguntungkan bagi Indonesia dan Turki.

Isu Regional dan Global Termasuk Gaza Dibahas

Selain agenda bilateral, pembicaraan antara Indonesia dan Turki juga akan mencakup isu-isu regional dan global yang tengah menjadi perhatian dunia. Isu Palestina dan situasi di Gaza dipastikan menjadi salah satu topik penting yang dibahas dalam agenda tersebut, sebagai bagian dari komitmen kedua negara dalam menanggapi krisis kemanusiaan yang berkelanjutan di kawasan Timur Tengah.

Pembahasan tentang dinamika regional seperti isu di Eropa, Asia Tenggara, serta kawasan Pasifik juga akan menjadi bagian dialog. Diskusi ini menunjukkan bahwa hubungan Indonesia dan Turki tidak hanya beroperasi pada level bilateral, tetapi juga berkontribusi dalam forum multilateral serta berbagai platform internasional untuk membahas isu-isu strategis lintas benua.

Pertemuan dengan Presiden Erdogan di Istanbul

Setelah dialog 2+2 di Ankara, Sugiono bersama Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin juga dijadwalkan melakukan kunjungan kehormatan kepada Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, di Istanbul pada 10 Januari 2026. Agenda ini menjadi kesempatan Indonesia untuk menyampaikan undangan resmi dari Presiden Prabowo Subianto kepada Presiden Erdogan untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi Developing Eight (KTT D-8) yang direncanakan berlangsung pada April 2026.

Partisipasi Turki dalam D-8 diharapkan dapat memperkuat kerja sama ekonomi dan pembangunan antara negara-negara berkembang, sekaligus menunjukkan solidaritas dalam isu ekonomi global yang kian menantang. Undangan ini mencerminkan strategi diplomasi Indonesia untuk memperluas aliansi dan dukungan dalam forum ekonomi global.

Format 2+2 sebagai Mekanisme Strategis Baru

Dialog “2+2” telah menjadi mekanisme penting yang dimiliki Indonesia dengan sejumlah negara mitra strategis, seperti Australia, Jepang, China, dan Prancis. Turki kini menjadi negara terbaru yang menjalin format dialog ini dengan Indonesia, menandai peningkatan kedalaman hubungan strategis antara kedua negara.

Format dialog ini tidak hanya mencerminkan tingkat kepercayaan yang tinggi antara kedua negara, tetapi juga menandai kesiapan Indonesia untuk memperluas diplomasi strategisnya dengan negara-negara di luar kawasan Asia Tenggara. Pendekatan ini dinilai mampu menghadirkan manfaat jangka panjang dalam hubungan bilateral dan multilateral.

Penguatan Kerja Sama Multilateral di Forum Internasional

Selain hubungan bilateral, pembicaraan antara Indonesia dan Turki juga akan mengulas perkembangan kerja sama multilateral di berbagai forum internasional, termasuk G20, ASEAN, dan BRICS. Indonesia menyampaikan pandangan tentang pentingnya kolaborasi global dalam menjaga stabilitas kawasan dan perdamaian dunia, sebuah pendekatan diplomasi aktif yang terus diperkuat dalam kebijakan luar negeri Indonesia.

Kunjungan Sugiono ke Turki ini menunjukkan status diplomasi Indonesia yang semakin proaktif dan terintegrasi, dengan tujuan strategis bukan hanya memperkuat hubungan bilateral, tetapi juga memainkan peran signifikan dalam tatanan global yang kompleks. Rangkap fungsi diplomasi, pertahanan, dan kerja sama internasional ini menjadi landasan kuat bagi hubungan Indonesia-Turki di masa depan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index