JAKARTA - Kementerian Haji dan Umroh (Kemenhaj) mengingatkan calon jamaah haji yang akan berangkat pada 1447 Hijriah atau 2026 Masehi agar mulai membiasakan diri melakukan aktivitas fisik ringan sejak sekarang.
Kepala Pusat Kesehatan Haji Kemenhaj, Liliek Mahendro, menekankan bahwa olahraga ringan seperti berjalan kaki minimal 30 menit setiap hari sangat dianjurkan untuk menjaga stamina.
Bagi jamaah dengan kondisi fisik terbatas, aktivitas ini dapat disesuaikan. Sementara bagi mereka yang masih sehat, olahraga rutin tetap menjadi bagian penting dari persiapan menjelang keberangkatan.
Tujuannya adalah agar tubuh mampu menyesuaikan diri dengan aktivitas padat selama ibadah haji, mulai dari perjalanan hingga rangkaian ritual yang membutuhkan stamina cukup tinggi.
Pola Hidup Sehat dan Asupan Gizi Jamaah
Selain olahraga, Liliek juga mengingatkan jamaah untuk menerapkan pola hidup sehat. Asupan makanan menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kondisi tubuh. Calon jamaah dianjurkan mengurangi konsumsi gula, garam, dan lemak berlebih.
Makan secukupnya dan tidak berlebihan akan membantu menjaga energi tetap stabil serta mengurangi risiko gangguan kesehatan menjelang keberangkatan.
Tidur dan istirahat yang cukup juga mendapat perhatian khusus. Stamina yang prima bergantung pada pemulihan tubuh yang optimal setiap hari.
Dengan tidur teratur dan cukup, jamaah haji dapat menghadapi persiapan fisik maupun mental dengan lebih baik, sehingga risiko kelelahan saat berada di Tanah Suci bisa diminimalkan.
Walimatussafar Haji dan Aturan Waktu Pelaksanaannya
Kemenhaj juga mengatur pelaksanaan walimatussafar haji, yakni acara tasyakuran sebelum keberangkatan. Walimatussafar dimaksudkan sebagai momen pamitan dan memohon doa agar jamaah diberikan kesehatan dan keselamatan selama menjalankan ibadah haji.
Liliek menekankan agar acara ini dilaksanakan maksimal satu minggu sebelum jadwal keberangkatan. Aturan ini dibuat untuk memastikan jamaah memiliki waktu cukup untuk beristirahat dan menjaga kondisi tubuh.
Jika acara dilakukan terlalu dekat dengan waktu keberangkatan, jamaah berisiko mengalami kelelahan karena harus menerima tamu dan melakukan aktivitas sosial lainnya. Oleh karena itu, pengaturan waktu ini dianggap krusial bagi kelancaran persiapan fisik dan mental jamaah haji.
Menjaga Kesehatan Saat Silaturahmi dan Aktivitas Sosial
Selain membatasi waktu walimatussafar, Liliek juga menekankan pentingnya memperhatikan kondisi selama silaturahmi. Meski acara resmi telah selesai, jamaah sering kali masih menerima kunjungan tetangga atau kerabat.
Aktivitas sosial yang berlebihan bisa menurunkan stamina dan mengganggu persiapan fisik menjelang keberangkatan.
Kemenhaj mengimbau agar jamaah tetap menjaga keseimbangan antara bersosialisasi dan beristirahat. Membatasi interaksi yang tidak perlu serta menjaga pola makan dan tidur adalah bagian dari strategi agar kondisi tubuh tetap prima.
Dengan demikian, jamaah akan lebih siap menghadapi perjalanan panjang, perubahan iklim, serta rangkaian ritual haji yang menuntut ketahanan fisik dan mental.
Persiapan ini menjadi langkah preventif agar jamaah tidak mengalami kelelahan atau masalah kesehatan saat berada di Tanah Suci. Kemenhaj menekankan bahwa kesehatan jamaah adalah prioritas utama.
Menggabungkan olahraga ringan, pola makan sehat, cukup tidur, serta pengaturan aktivitas sosial menjadi kunci agar jamaah dapat menunaikan ibadah dengan lancar, aman, dan khusyuk.