Biji Salak Kenyal

Rahasia Membuat Biji Salak Kenyal Empuk Ala Chef Hotel untuk Takjil Favorit Keluarga

Rahasia Membuat Biji Salak Kenyal Empuk Ala Chef Hotel untuk Takjil Favorit Keluarga
Rahasia Membuat Biji Salak Kenyal Empuk Ala Chef Hotel untuk Takjil Favorit Keluarga

JAKARTA - Takjil berbuka puasa selalu identik dengan hidangan manis yang hangat dan menenangkan. Salah satu yang paling digemari adalah biji salak dengan tekstur kenyal dan rasa legit dari ubi serta gula aren.

Tekstur kenyal menjadi kunci kelezatan biji salak. Takjil favorit saat berbuka puasa ini memiliki rasa manis dari ubi dan campuran gula aren.

Executive Sous Chef HARRIS Suites Puri Mansion, Muhammad Fauzan Adzim, membagikan cara membuat biji salak kenyal, lembut, dan empuk. "Biji salak itu biasanya kita gunakan dari bahan umbi-umbian, pakai tapioka, segala macam ya," kata Chef Zan saat ditemui Kompas.com di sela acara preview iftar buffet di hotel Harris Suites Puri Mansion, Kamis, 29 Januari 2026.

Menurut Chef Zan, penting untuk memperhatikan takaran ubi dan tapioka saat membuat biji salak. Bila salah menakar kedua bahan utama ini, tekstur biji salak bisa terasa keras, bukan kenyal seperti yang diharapkan.

Biji salak yang sudah matang dapat disajikan bersama gula merah cair dan santan atau dicampur ke dalam kolak pisang untuk takjil buka puasa. Sajian ini kerap menjadi pilihan karena rasanya yang manis, gurih, dan mengenyangkan.

Selain rasanya yang lezat, biji salak juga tergolong mudah dibuat di rumah. Bahan-bahannya sederhana dan prosesnya bisa dilakukan oleh siapa saja.

Chef Zan menjelaskan bahwa kunci utama keberhasilan terletak pada teknik dan proporsi bahan. Dengan mengikuti langkah yang tepat, hasil biji salak akan empuk dan tidak mudah keras saat dingin.

Tak heran jika banyak orang menjadikan biji salak sebagai menu andalan berbuka puasa. Teksturnya yang kenyal membuat camilan ini selalu dinantikan setiap Ramadan.

Selain sebagai sajian rumahan, biji salak juga sering hadir dalam menu hotel dan katering berbuka puasa. Hidangan ini dinilai mampu memberikan kesan tradisional sekaligus memanjakan lidah.

Proses pembuatan biji salak pun tidak memerlukan peralatan khusus. Cukup dengan panci, kompor, dan wadah sederhana, sajian lezat ini sudah bisa dinikmati.

Chef Zan menegaskan bahwa meskipun tampak sederhana, biji salak membutuhkan ketelitian. Kesalahan kecil dalam takaran atau teknik bisa memengaruhi hasil akhirnya.

Dengan mengikuti panduan yang tepat, siapa pun bisa menghasilkan biji salak yang kenyal dan empuk. Hal ini menjadikan biji salak sebagai pilihan takjil praktis namun tetap istimewa.

Pentingnya Takaran Ubi dan Tapioka

Menurut Chef Zan, perbandingan bahan adalah fondasi utama dalam membuat biji salak. Jika komposisi ubi dan tapioka tidak seimbang, tekstur yang dihasilkan bisa kurang memuaskan.

Ia menjelaskan bahwa takaran dua banding satu bisa disesuaikan dengan cita rasa biji salak yang diinginkan. Bila lebih menyukai rasa ubi dalam biji salak, sebaiknya gunakan lebih banyak ubi jalar.

Jika ingin mendapatkan tekstur lebih kenyal, silakan gunakan tapioka lebih banyak dibandingkan ubi, seperti saran Chef Zan. "Ketika jumlah tepung lebih banyak, bisa untuk mengikat adonan," kata Chef Zan.

Proporsi ini membantu adonan menjadi lebih elastis dan tidak mudah hancur saat direbus. Dengan komposisi yang tepat, biji salak akan terasa empuk namun tetap kenyal saat digigit.

Takaran yang seimbang juga memengaruhi rasa akhir biji salak. Rasa manis alami dari ubi akan lebih terasa jika komposisinya pas.

Selain itu, tekstur yang kenyal membuat biji salak lebih nikmat saat dipadukan dengan kuah santan dan gula aren. Kombinasi ini menciptakan sensasi lembut dan legit di mulut.

Chef Zan menyarankan agar tidak asal menambahkan tepung tapioka. Penggunaan berlebihan justru dapat membuat rasa ubi tertutupi dan tekstur terlalu padat.

Sebaliknya, jika ubi terlalu dominan, adonan bisa menjadi rapuh dan sulit dibentuk. Oleh karena itu, keseimbangan bahan menjadi kunci utama.

Dengan memahami perbandingan ini, proses pembuatan biji salak akan lebih terkontrol. Hasilnya pun sesuai dengan harapan, yaitu kenyal, empuk, dan lezat.

Takaran bahan juga memudahkan proses pembentukan biji salak. Adonan yang pas akan lebih mudah dipulung dan tidak lengket di tangan.

Kesalahan dalam perbandingan bahan sering kali menjadi penyebab utama gagalnya biji salak buatan rumah. Karena itu, saran Chef Zan ini penting untuk diperhatikan.

Dengan mengikuti panduan tersebut, peluang menghasilkan biji salak sempurna akan semakin besar. Hasilnya bisa dinikmati bersama keluarga saat berbuka puasa.

Teknik Mengolah Ubi agar Adonan Menyatu

Ubi perlu dikukus atau direbus hingga matang sebelum dicampur dengan tapioka. Pastikan mencampur tepung selagi ubi masih hangat.

Cara ini dapat membantu adonan lebih mudah menyatu dan menghasilkan tekstur kenyal. Ubi yang masih hangat membuat tapioka lebih cepat menyerap kelembapan.

Jika ubi sudah dingin saat dicampur, adonan cenderung sulit tercampur rata. Hal ini bisa menyebabkan biji salak menjadi keras atau tidak halus.

Chef Zan menekankan pentingnya tahap ini untuk mendapatkan hasil maksimal. Proses sederhana ini sering kali diabaikan, padahal dampaknya cukup besar.

Ubi yang matang sempurna juga akan lebih mudah dihaluskan. Tekstur yang lembut akan membantu membentuk adonan biji salak yang mulus.

Selain itu, rasa ubi akan lebih keluar jika diolah dengan benar. Hal ini membuat biji salak terasa lebih manis alami tanpa tambahan gula berlebih.

Pengolahan ubi yang tepat juga memengaruhi warna biji salak. Warna alami ubi akan terlihat lebih cerah dan menggugah selera.

Dengan teknik yang benar, adonan tidak hanya mudah dibentuk tetapi juga memiliki tekstur yang konsisten. Hal ini membuat hasil akhir lebih memuaskan.

Chef Zan menyarankan agar ubi dihaluskan selagi hangat menggunakan garpu atau ulekan. Cara ini cukup efektif tanpa perlu alat khusus.

Adonan yang halus dan rata akan menghasilkan biji salak dengan permukaan mulus. Tampilan yang cantik tentu menambah selera makan.

Kesalahan dalam mengolah ubi bisa membuat adonan menggumpal. Oleh karena itu, tahap ini sebaiknya dilakukan dengan teliti.

Dengan mengikuti langkah ini, adonan biji salak akan lebih mudah diproses ke tahap berikutnya. Hasilnya pun lebih lembut dan empuk saat disantap.

Proses Merebus Biji Salak agar Tidak Keras atau Lembek

Terakhir, masukan biji salak yang sudah dibentuk bulat ke dalam air mendidih. Biarkan direbus hingga biji salak mengapung.

Jangan terlalu lama merebus biji salak karena bisa membuat teksturnya lembek. Terlalu sebentar merebusnya juga dapat menyebabkan teksturnya keras.

Chef Zan menjelaskan bahwa tanda biji salak matang sempurna adalah ketika mengapung ke permukaan air. Pada titik ini, biji salak sebaiknya segera diangkat.

Proses perebusan ini menentukan tekstur akhir biji salak. Jika dilakukan dengan tepat, biji salak akan terasa kenyal namun tidak alot.

Air rebusan sebaiknya dalam kondisi mendidih sebelum biji salak dimasukkan. Hal ini membantu permukaan biji salak langsung mengeras dan mempertahankan bentuk.

Jika air belum mendidih, biji salak bisa hancur atau menyerap terlalu banyak air. Akibatnya, teksturnya menjadi lembek dan kurang nikmat.

Chef Zan juga menyarankan agar biji salak tidak ditumpuk terlalu banyak dalam satu panci. Ruang yang cukup membantu proses perebusan lebih merata.

Setelah biji salak mengapung, segera tiriskan agar tidak terlalu matang. Langkah ini membantu mempertahankan kekenyalan alami adonan.

Biji salak yang matang dengan sempurna akan terasa empuk di bagian dalam. Bagian luarnya tetap kenyal tanpa terasa keras.

Teknik merebus yang tepat juga memengaruhi daya tahan biji salak saat disimpan. Tekstur yang pas membuatnya tidak cepat hancur saat disajikan kembali.

Proses ini memang terlihat sederhana, namun memerlukan perhatian khusus. Kesalahan kecil dapat berdampak besar pada hasil akhir.

Dengan mengikuti saran ini, biji salak buatan rumah bisa menyerupai hasil dapur profesional. Rasanya pun lebih memuaskan saat disantap.

Menyajikan Biji Salak dengan Kuah yang Tepat

Terakhir, Chef Zan menyarankan untuk membuat kuah biji salak secara terpisah. Kuah yang dimaksud ialah santan cair dan gula aren.

Jika ingin mencampurnya dengan kolak, kamu tidak perlu membuat kuah terpisah. Biji salak bisa dimasukan langsung ke dalam rebusan kolak.

Kuah terpisah memberikan fleksibilitas dalam penyajian. Kamu bisa menyesuaikan tingkat manis dan kekentalan sesuai selera.

Santan dan gula aren yang dimasak terpisah juga membantu menjaga tekstur biji salak tetap kenyal. Jika langsung dimasukkan sejak awal, biji salak berpotensi menjadi terlalu lembek.

Kuah gula aren memberikan rasa manis legit yang khas. Aroma gula aren yang hangat semakin menggugah selera saat berbuka puasa.

Sementara itu, santan menambahkan rasa gurih yang menyeimbangkan manisnya gula aren. Perpaduan ini membuat biji salak semakin nikmat.

Chef Zan menyarankan agar santan dimasak dengan api kecil agar tidak pecah. Proses ini menjaga tampilan kuah tetap cantik dan lembut.

Kuah gula aren sebaiknya disaring agar bebas dari kotoran. Hal ini membuat sajian terlihat lebih bersih dan menggoda.

Biji salak yang sudah matang dapat langsung dimasukkan ke dalam kuah saat akan disajikan. Cara ini membantu mempertahankan tekstur kenyal lebih lama.

Jika ingin variasi, biji salak juga bisa dicampur ke dalam kolak pisang. Perpaduan pisang, biji salak, santan, dan gula aren menciptakan rasa yang kaya.

Sajian ini cocok untuk menu berbuka puasa keluarga. Rasanya yang manis dan hangat membantu mengembalikan energi setelah seharian berpuasa.

Dengan mengikuti panduan Chef Zan, biji salak buatan rumah dapat memiliki kualitas setara sajian hotel. Tekstur kenyal dan rasa legit menjadi keunggulan utamanya.

Biji salak bukan hanya sekadar camilan tradisional. Hidangan ini juga memiliki nilai nostalgia dan kehangatan yang selalu dirindukan.

Dengan bahan sederhana dan teknik tepat, siapa pun bisa membuat biji salak yang empuk dan lezat. Tak heran jika menu ini selalu menjadi favorit saat Ramadan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index