Bahaya Mastitis yang Tidak Segera Ditangani Mampu Memicu Abses Payudara

Bahaya Mastitis yang Tidak Segera Ditangani Mampu Memicu Abses Payudara
Ilustrasi Gejala Mastitis.

JAKARTA - Mastitis adalah salah satu kendala yang kerap dihadapi ibu menyusui, terutama pada awal-awal masa menyusui. Kondisi peradangan pada payudara ini bisa menimbulkan nyeri, kemerahan, hingga demam.

Sayangnya, jika tidak ditangani secara tepat, mastitis bisa berkembang menjadi kondisi yang lebih serius, yaitu abses payudara.

Hal ini disampaikan oleh dr. Anastasia Lilian S., CBS, IBCLC dari RS Pondok Indah dalam sesi edukasi bersama jurnalis dalam rangka memperingati World Breastfeeding Week 2026, Selasa (4/8/2026).

Menurut dr. Anastasia, abses payudara tidak muncul secara tiba-tiba. Kondisi ini merupakan puncak dari rangkaian masalah yang bermula dari payudara penuh yang tidak segera dikosongkan.

"Kalau dia penuh, lalu pada saat pompa atau menyusui tidak bisa dikeluarkan atau menjadi sedikit, baru kami curiga adanya clogging," jelasnya.

Ia menyebut sejumlah faktor yang membuat kondisi ini makin berisiko berkembang menjadi mastitis, mulai dari posisi menyusui yang kurang tepat, jadwal pengosongan payudara yang terlewat, hingga keberadaan bakteri yang masuk lewat lecet di puting.

"Kalau ada lecet di puting payudaranya, di sekitar payudara itu ada lecet, pada saat bayi menyusui, bakterinya masuk. Nah, jadi itu memang salah satu risiko dari mastitis," ungkap dr. Anastasia.

Gejala awal mastitis biasanya berupa kemerahan, nyeri, dan demam pada satu sisi payudara. Namun, dr. Anastasia mengingatkan terdapat tanda khusus yang perlu diwaspadai apabila kondisi tidak kunjung membaik setelah penanganan awal dilakukan.

"Kalau dilihat setelah dilakukan penanganan yang saya sebutkan sebelumnya, 24 sampai 48 jam setelahnya tidak membaik, malah terjadi benjolan yang lebih besar yang jika ditekan kok seperti ada cairan dan lebih nyeri lagi, kami baru curiga ke arah abses," jelasnya.

Untuk memastikan diagnosis, pemeriksaan lanjutan dengan USG biasanya diperlukan apabila kondisi tidak membaik setelah pemberian antibiotik.

"Ada dua kemungkinan, dengan antibiotik ganti, adakah perubahan perbaikan, kalau tidak ada, mungkin harus dirujuk ke spesialis bedah, di-USG, apakah hanya peradangan biasa atau memang ke arah abses," terangnya.

Jika hasil pemeriksaan menunjukkan abses yang cukup berat, tindakan medis lebih lanjut pun tidak bisa dihindari.

"Kalau memang ke arah abses yang cukup berat, perlu diinsisi dan didrainase. Jadi dikeluarkan cairan yang menumpuk yang curiganya sudah menjadi nanah. Baru kami sebut itu abses," paparnya.

dr. Anastasia menegaskan, tahapan ini sebenarnya bisa dicegah asalkan penanganan mastitis dilakukan sejak gejala awal muncul.

"Jadi benar kalau mastitis tidak ditangani sesegera mungkin, bisa ke arah menjadi abses," tegasnya.

Selain keterlambatan penanganan, dr. Anastasia menyebut sejumlah kebiasaan yang kerap dilakukan ibu menyusui justru bisa mempercepat kondisi mastitis memburuk menjadi lebih serius.

"Biasanya yang memburuk jika pada saat mastitis, payudara dipijit terlalu keras. Jadi dipaksa keluar. Nah, pijatan yang terlalu keras itu justru dia akan merusak jaringan, malah menambah kerusakan," jelasnya.

Kebiasaan menambah frekuensi pompa ASI dengan harapan mempercepat pemulihan pun ternyata bisa berdampak sebaliknya.

"Makin tambah pompanya, dia akan mencoba menaikkan suplai, tapi sedangkan lagi radang. Nah itu malah jadi makin gampang mastitis juga," ungkap dr. Anastasia.

Ia mengingatkan, kebiasaan menangani mastitis sendirian di rumah tanpa mencari bantuan tenaga ahli menjadi salah satu penyebab utama kondisi berkembang lebih jauh.

"Enggak secepat mungkin mencari bantuan, yaitu mencari tenaga ahli untuk menangani mastitisnya. Jadi berusaha kompres sendiri di rumah, makin hangat makin radang," jelasnya.

Sebagai langkah pencegahan utama, dr. Anastasia menegaskan pentingnya tidak menunda pemeriksaan begitu tanda-tanda mastitis muncul, agar kondisi tidak sempat berkembang menjadi abses.

"Kalau sudah muncul ada gejala di payudaranya, seperti ada merah, ada nyeri, produksi turun, segera mungkin langsung ke dokter untuk periksa," pungkasnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index