Proyeksi perlambatan inflasi ini tertuang dalam Survei Penjualan Eceran BI yang dirilis pekan ini. Selain ekspektasi harga yang mereda, bank sentral juga mencatat Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) September 2026 mengalami penurunan ke angka 148,3, dari sebelumnya 159,8 pada periode Agustus.
"Responden menginformasikan bahwa penurunan pada IEP September 2026 dipengaruhi oleh normalisasi pasca kegiatan hari kemerdekaan Republik Indonesia (HUT RI)," tulis survei tersebut.
Penopang Kinerja Penjualan Ritel di Tengah Normalisasi
Kendati ekspektasi melambat, data historis menunjukkan penjualan eceran masih tumbuh solid. Indeks Penjualan Riil (IPR) pada Juni 2026 tercatat di level 225,0. Secara bulanan, realisasi penjualan eceran tumbuh 0,7% (mtm), membalikkan kontraksi 1,5% (mtm) pada bulan sebelumnya.
BI menyebut pertumbuhan ini ditopang oleh tetap tumbuhnya penjualan secara tahunan pada kelompok suku cadang dan aksesori, perlengkapan rumah tangga lainnya, serta barang lainnya. "Perkembangan tersebut sejalan dengan terjaganya permintaan selama periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) dan libur sekolah," jelas BI.
Antisipasi Lonjakan Harga Jelang Nataru 2027
Relaksasi tekanan harga diproyeksikan hanya berlangsung sementara. Bank sentral memperkirakan IEH Desember 2026 akan kembali meningkat ke posisi 168,1, lebih tinggi dibandingkan proyeksi November 2026 yang sebesar 167,5.
Peningkatan ekspektasi harga pada akhir tahun tersebut sejalan dengan periode libur Natal dan Tahun Baru 2027 (Nataru). Pola ini konsisten dengan siklus tahunan, di mana permintaan domestik yang tinggi selama libur panjang biasanya mendorong kenaikan harga barang dan jasa.
Data ini memberi sinyal bahwa daya beli masyarakat masih terjaga, namun tekanan harga diprakirakan akan kembali menguat pada kuartal IV 2026. Pelaku usaha ritel perlu mengantisipasi fluktuasi permintaan antara periode normalisasi pasca-HUT RI dan lonjakan konsumsi menjelang Nataru.