Panduan Mencintai Tanpa Kehilangan Diri Sendiri Menurut Psikolog

Panduan Mencintai Tanpa Kehilangan Diri Sendiri Menurut Psikolog
Ilustrasi self love.

JAKARTA - Mempertahankan batas diri di dalam sebuah relasi sangat penting agar seseorang tetap bisa mencintai dan terikat dengan orang lain tanpa mesti mengesampingkan kebutuhan, nilai hidup, serta kesejahteraan pribadinya.

Psikolog Diana Raab, Ph.D., via Psychology Today, memaparkan bahwa jalinan asmara yang sehat memerlukan keseimbangan antara keintiman bersama pasangan dan kemampuan menjaga kendali diri. Pandangan bahwa mencintai wajib mengorbankan segalanya justru memicu keletihan mental, kecemasan, hingga rasa jengkel.

Kondisi kehilangan identitas diri biasanya timbul sewaktu seseorang terlampau banyak mencurahkan waktu, tenaga, perhatian, maupun sumber daya bagi orang lain hingga tak menyisakan ruang bagi dirinya sendiri. Fenomena ini turut rentan melanda sandwich generation yang mesti merawat anak sekaligus orang tua lanjut usia.

Berdasarkan penuturan Raab, mencintai tanpa kehilangan jati diri berarti tetap membina hubungan hangat sembari memelihara kebutuhan, aspirasi, nilai dasar, dan batasan pribadi.

Salah satu trik utamanya ialah lewat penetapan batasan. Batasan bukanlah bentuk penolakan atas rasa kasih sayang, melainkan bentuk penghormatan terhadap diri sendiri serta sarana mempertegas arah hubungan. Batasan ini mencakup ranah fisik, emosional, alokasi waktu, gaya komunikasi, finansial, ruang digital, hingga urusan teknis harian.

Raab menyarankan agar penyampaian batasan dilakukan secara lugas dan tegas, misalnya, “Saya tidak bisa melakukan itu,” “Saya perlu waktu untuk memikirkan sebelum menjawab,” atau “Saya peduli kepada kamu, tetapi saya juga perlu menjaga diri sendiri.”

Setiap individu juga perlu memegang prinsip ketat (non-negotiable) demi membentengi keamanan, kesehatan, nilai hidup, serta waktu pribadinya. Contohnya, enggan meneruskan pembicaraan sewaktu mendapat bentakan atau makian, serta konsisten menyediakan waktu istirahat tanpa gangguan beban sosial maupun pengasuhan, kecuali situasi darurat.

Proses kehilangan jati diri umumnya menggerogoti secara perlahan. Indikatornya antara lain terlalu gampang mengiyakan sesuatu, merasa wajib selalu siap saat dibutuhkan, mengorbankan prinsip demi meredam konflik, hingga merasa bertanggung jawab atas emosi orang lain.

Beban psikologis ini acap kali dipengaruhi oleh tuntutan keluarga, norma budaya, rasa duka, ketergantungan ekonomi, atau kebiasaan menjadi sosok yang selalu bisa diandalkan.

Kala merasa berada di titik jenuh, Raab menganjurkan untuk memangkas paparan informasi berlebih, mengambil jeda dari gawai, melakoni aktivitas fisik ringan, meluangkan waktu rehat, berdiskusi dengan orang tepercaya, serta menulis jurnal. Pengurangan konsumsi berita negatif di media sosial, televisi, atau radio juga disarankan saat stres memuncak.

Sensasi bersalah seusai menegaskan batasan tidak selalu mengindikasikan bahwa seseorang telah berbuat salah. Perasaan tersebut kerap muncul lantaran seseorang sedang berusaha lepas dari pola lama, utamanya jika selama ini terbiasa menomorsatukan kepentingan orang lain.

Apabila rasa bersalah hinggap, sejenak berhenti dan refleksikan: apakah diri ini benar-benar menyakiti orang lain, atau sekadar tidak memenuhi ekspektasi mereka?

Merawat diri sendiri, menurut Raab, sama sekali tidak mengurangi kapasitas seseorang untuk mencintai. Justru batas diri membantu seseorang menjalani ikatan asmara dengan tetap memegang teguh identitas serta kebutuhan pribadinya.

Bila hubungan sudah mengarah pada ancaman, intimidasi, pemaksaan, tindak kekerasan, kontrol finansial, penguntitan, atau situasi yang mengancam keselamatan, maka keamanan jiwa wajib dijadikan prioritas utama dengan segera mengontak orang tepercaya, tenaga profesional, atau layanan darurat.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index