JAKARTA - PT Bakrie & Brothers Tbk. (BNBR) mencetak lompatan kinerja operasional pada semester I/2026 yang didorong oleh pertumbuhan pendapatan dari seluruh lini bisnis utama perseroan.
Berdasarkan laporan keuangan per 30 Juni 2026, emiten grup Bakrie ini berhasil meraup pendapatan bersih sebesar Rp2,59 triliun. Capaian tersebut melonjak 45,84% secara tahunan (year on year) dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu senilai Rp1,77 triliun.
Sejalan dengan kenaikan topline, laba usaha BNBR melesat 283,21% YoY menjadi Rp301,53 miliar dari sebelumnya Rp78,68 miliar. Adapun EBITDA perseroan ikut terkerek 230,93% YoY menjadi Rp423,04 miliar.
Direktur Utama & CEO BNBR Anindya N. Bakrie menyatakan pertumbuhan kinerja operasional di tengah ketidakpastian ekonomi global tecermin dari eksekusi strategi dan adaptabilitas lini usaha perseroan.
“Hal ini menjadi bukti bahwa strategi, adaptabilitas, serta kerja keras seluruh tim mulai memperlihatkan hasil,” ujarnya dikutip Sabtu (29/8/2026).
Secara terperinci, pendapatan PT Bakrie Indo Infrastructure (BIIN) Group mencatatkan kenaikan tertinggi sebesar 256,1% YoY menjadi Rp626,78 miliar, yang dipicu oleh konsolidasi penuh PT Cimanggis Cibitung Tollways (CCT).
Selanjutnya, PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk. (VKTR) Group menyumbang pendapatan sebesar Rp646,61 miliar atau naik 56,2% YoY berkat lonjakan penjualan kendaraan listrik (EV) serta suku cadang. Sementara itu, PT Bakrie Metal Industries (BMI) Group meraup pendapatan Rp1,3 triliun, tumbuh 10,2% YoY.
Wakil Direktur Utama & Co-CEO BNBR A. Ardiansyah Bakrie menambahkan bahwa perbaikan struktur permodalan perseroan juga diperkuat oleh penuntasan aksi korporasi di pasar modal.
“Perseroan telah menyelesaikan penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu [rights issue] pada akhir Juli 2026 dengan total dana yang berhasil dihimpun mencapai Rp4,76 triliun,” ungkap Ardi.
Di sisi lain, meski kinerja operasional melaju kencang, BNBR menghadapi tantangan pada pos laba bersih akibat faktor beban keuangan eksternal. Sampai dengan semester I/2026, perseroan tercatat membukukan rugi bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk senilai Rp224,81 miliar.
“Penurunan laba bersih yang terutama disebabkan oleh dampak eksternal berupa kenaikan floating rate terhadap beban bunga CCT, khususnya pada tahun-tahun awal setelah akuisisi ketika komponen beban bunga masih relatif tinggi,” pungkas Direktur BNBR Roy Hendrajanto M. Sakti.