JAKARTA — Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengungkap tujuh faktor risiko baru penyebab demensia, yang mana sebagian di antaranya ternyata tergolong dapat dimodifikasi.
Pembaruan pedoman dari WHO mengenai pencegahan penurunan kognitif serta demensia ini menambahkan deretan kondisi kesehatan baru sebagai pemicu.
Penambahan ini mengalikan daftar 12 faktor risiko terdahulu yang meliputi kurangnya aktivitas kognitif, isolasi sosial, minim aktivitas fisik, konsumsi alkohol, penggunaan tembakau, pola makan tidak sehat, obesitas, diabetes, hipertensi, dislipidemia, gangguan pendengaran, serta depresi.
Tujuh faktor risiko baru demensia versi WHO tersebut meliputi stroke, cedera otak traumatis, gangguan penglihatan, masalah tidur, HIV, polusi udara, hingga terapi hormon menopause.
Sampai detik ini belum ditemukan obat untuk menyembuhkan demensia, tetapi data WHO menyebut 45 persen dari total faktor risikonya sebenarnya bisa dicegah seperti kebiasaan merokok, kurang bergerak, polusi, dan penyakit tidak menular.
Mengenai terapi hormon menopause, WHO tidak menyarankannya sebagai langkah pencegahan demensia bagi wanita usia 65 tahun ke atas karena belum ada bukti medis yang kuat.
Risiko stroke juga memperbesar peluang demensia akibat tersumbat atau pecahnya pembuluh darah otak yang merusak jaringan saraf.
Sementara itu, cedera otak traumatis akibat kecelakaan fisik berpotensi memicu masalah emosional hingga depresi jangka panjang yang berakar dari kerusakan fungsi otak.
Gangguan penglihatan turut berdampak buruk pada performa otak karena porsi terbesar organ otak bekerja menopang fungsi indra penglihatan.
Masalah tidur seperti sleep apnea menghambat proses pembersihan limbah alami di otak, sehingga memicu perubahan struktur yang menyerupai gejala penyakit Alzheimer.
Infeksi HIV yang tidak ditangani dengan tepat juga berisiko merusak sistem saraf pusat dan menurunkan fungsi kognitif tubuh.
Adapun paparan polusi udara serta zat beracun jangka panjang terbukti secara klinis menurunkan kesehatan otak, sehingga WHO mengimbau masyarakat meminimalkan paparan udara kotor.