Dampak Anak Bersikap Terlalu Dewasa Menurut Penjelasan Psikolog

Dampak Anak Bersikap Terlalu Dewasa Menurut Penjelasan Psikolog
Ilustrasi Anak Terlalu Dewasa.

JAKARTA - Sebagian orang dewasa kerap memuji anak yang dinilai memiliki sikap lebih matang dibandingkan teman-teman sebayanya. Ungkapan seperti "kamu dewasa untuk usiamu" umumnya dilontarkan sebagai bentuk apresiasi karena anak dianggap mandiri, tenang, atau mampu memahami situasi di sekitarnya.

Akan tetapi, anggapan tersebut ternyata tidak selalu sesederhana sebuah pujian. Dalam kondisi tertentu, sikap anak yang tampak terlalu dewasa dapat berkaitan erat dengan pengalaman yang memaksa mereka menghadapi keadaan lebih cepat dari yang seharusnya.

Dampak Anak yang Dianggap Terlalu Dewasa

Bisa Berkaitan dengan Parentifikasi

Pekerja sosial klinis berlisensi di Philadelphia, Justin Vafa William, menyebutkan bahwa ucapan tersebut memang pada dasarnya berniat memberikan pujian. Namun, menurutnya, ada situasi saat anggapan itu justru membawa dampak kurang baik.

"Saya pikir pada umumnya itu dimaksudkan sebagai pujian. Tetapi terlepas dari niat tersebut, hal itu berpotensi merugikan," ucap William, disadur dari Yahoo Health.

Ia menilai, memandang anak hanya dari kacamata kedewasaannya dapat memicu orang dewasa memberikan beban tanggung jawab yang terlalu besar tanpa disadari.

"Saya pikir hal itu bisa sangat merusak jika memandang anak ini melalui kacamata kedewasaannya, yang kemudian berkontribusi pada proses 'pengasuhan' anak," ujarnya.

Fenomena tersebut berkaitan dengan parentifikasi, yaitu momen ketika anak mengambil alih beban tanggung jawab yang semestinya diemban orang tua atau orang dewasa lain, baik secara fisik, emosional, maupun mental.

Kehilangan Masa Kanak-kanak

Konselor profesional berlisensi di New Jersey, Maggie Lancioni, menyampaikan bahwa beberapa anak terpaksa bertumbuh lebih cepat lantaran situasi yang mereka hadapi.

"Dengan kata lain, mereka tidak dewasa untuk usia mereka atas kemauan sendiri," kata Lancioni.

"Pada dasarnya mereka harus bersikap demikian agar bisa bertahan hidup, agar kebutuhan mereka terpenuhi, agar bisa mengurus diri sendiri dan mengurus orang lain," lanjutnya.

Anak yang terbebani tugas mengurus adik atau menyelesaikan urusan rumah tangga dapat kehilangan momen bermain, menyalurkan hobi, atau berkumpul bersama teman sebaya.

William menambahkan, anak yang terbiasa bertindak terlalu dewasa berisiko kehilangan kesempatan belajar dari pengalaman khas masa kanak-kanak.

"Mereka juga kehilangan kesempatan untuk menjadi anak yang riang gembira, yang belajar, berkembang, membuat kesalahan, dan belajar dari kesalahan tersebut," katanya.

"Ada tekanan untuk selalu terlihat sempurna sepanjang waktu," imbuhnya.

Lancioni turut menggarisbawahi bahwa anak dalam kondisi ini sering kali tidak diberi ruang untuk bersikap spontan maupun melakukan kesalahan.

Bisa Terbawa Hingga Dewasa

William menjelaskan bahwa anak yang tampak dewasa sejak dini sejatinya mempunyai potensi positif, seperti empati dan tingkat kepekaan yang tinggi.

"Jika Anda memiliki watak yang dewasa sejak kecil, kemungkinan besar Anda menunjukkan ketabahan dan kekuatan batin, dan itu sering kali merupakan tanda empati, kepekaan," tuturnya.

Namun, Lancioni mengingatkan bahwa anak dengan kepribadian ini cenderung dianggap lebih gampang diandalkan oleh orang dewasa.

"Mereka lebih patuh, lebih mudah diajak berkomunikasi, dan umumnya lebih suka menyenangkan orang lain karena itulah cara mereka beradaptasi di dunia," katanya.

Dampaknya berpotensi membayangi hingga usia dewasa, seperti sulit mempercayai orang lain, enggan meminta bantuan, atau terkendala dalam menetapkan batasan.

"Anda mungkin merasa sulit untuk meminta bantuan bahkan ketika Anda membutuhkannya. Anda mungkin meremehkan dan mengabaikan perasaan atau kebutuhan Anda sendiri, mungkin lebih kesulitan menetapkan atau membangun batasan," ungkap Lancioni.

Ia juga menandaskan bahwa situasi tersebut berisiko memicu kecemasan dan perilaku people pleasing.

Oleh sebab itu, Lancioni menyarankan agar orang dewasa yang mengalami masa kecil demikian mulai mengalihkan perhatian ke kebutuhan diri sendiri.

"Ini seperti memberi diri sendiri kasih sayang yang tidak Anda terima saat masih kecil," ujarnya.

Ia mengimbau untuk memberikan ruang bagi sisi kepribadian yang ceria, spontan, dan kreatif melalui metode penyembuhan inner child.

"Pada dasarnya, menyembuhkan inner child Anda adalah menghargai sisi kepribadian Anda yang ceria, spontan, dan kreatif yang mungkin tidak sempat Anda alami di masa kanak-kanak, atau bahkan memberi ruang untuk istirahat, relaksasi, dan perawatan diri jika masa kanak-kanak Anda lebih kacau atau disfungsional," pesan Lancioni.

Bagi orang dewasa yang masih dibayangi kesulitan akibat trauma masa kecil, ia menyarankan untuk berkonsultasi dengan tenaga profesional.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index