Prabowo Hidupkan Kembali Bandung Spirit di KTT BRICS Menurut BPIP

Prabowo Hidupkan Kembali Bandung Spirit di KTT BRICS Menurut BPIP
Dewan Pakar BPIP Bidang Strategi Hubungan Luar Negeri Dr Darmansjah Djumala.

JAKARTA - Dewan Pakar Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Bidang Strategi Hubungan Luar Negeri Darmansjah Djumala menganggap pidato Presiden Prabowo Subianto pada KTT BRICS di New Delhi, India, sukses membangkitkan kembali semangat Bandung (Bandung Spirit).

“Pernyataan Presiden Prabowo Subianto di KTT BRICS dapat dimaknai sebagai upaya untuk menghidupkan kembali Bandung Spirit karena masih memiliki relevansi dalam konstelasi geopolitik dunia dewasa ini. Warisan diplomasi Indonesia itu perlu digaungkan kembali di tengah situasi dunia yang semakin terbelah”, kata Djumala dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Selasa.

Tanggapan Djumala tersebut diutarakan merespons penyampaian Presiden Prabowo sewaktu menghadiri KTT BRICS di New Delhi, India, pada 12-13 September 2026.

Menurut pandangan Djumala, pidato Prabowo berhasil menyadarkan masyarakat global bahwa nilai historis Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung pada 1955 memuat nilai strategis jauh melampaui sekadar catatan masa lalu.

Djumala menerangkan bahwa Bandung Spirit membakar semangat negara-negara terjajah kala itu untuk meraih kemerdekaan serta berdiri sejajar dalam panggung hubungan internasional.

Selarás dengan gagasan Presiden, negara-negara yang sempat terjajah kala itu menyadari daya tawar mereka amat lemah bila bergerak sendiri. Namun melalui persatuan dan rasa kesetiakawanan, suara negara berkembang dapat terdengar lebih lantang di kancah global.

Djumala yang sempat memegang jabatan Duta Besar RI untuk Austria dan PBB memandang hal ini sebagai pokok utama Bandung Spirit, yang meliputi prinsip kesetaraan, kebersamaan, kemandirian, perlindungan kedaulatan, hingga penolakan terhadap aksi dominasi dan ketidakadilan global.

Ia menambahkan bahwa gelaran Konferensi Asia Afrika 1955 pada hakikatnya berlandaskan ikhtiar serupa dengan gerakan negara-negara Global South masa kini, termasuk lewat wadah BRICS.

Kendati berada dalam ruang geopolitik yang berbeda, Djumala menyebut terdapat titik temu yang identik: keteguhan negara-negara berkembang untuk mendongkrak posisi tawar, memperluas kemitraan strategis, serta memastikan tata kelola dunia tidak dimonopoli kekuatan besar.

Menurutnya, Bandung Spirit 1955 menjadi tonggak bagi negara-negara yang baru merdeka guna memperkuat posisi di tengah dominasi penjajah dan suasana Perang Dingin.

Di sisi lain, pergerakan Global South beserta BRICS saat ini dipandang sebagai wujud nyata aspirasi serupa guna mengikis ketimpangan struktur perekonomian dan politik internasional.

Djumala menegaskan KAA 1955 membuktikan kekompakan negara berkembang sanggup membuat suara mereka diperhitungkan dalam institusi global seperti PBB.

Dirinya menilai gaung Indonesia di kawasan belahan bumi selatan saat ini, baik lewat BRICS maupun forum Global South lainnya, sejatinya merupakan perpanjangan dari suara yang pertama kali dipancarkan Indonesia melalui Bandung Spirit pada KAA 1955.

Oleh sebab itu, ia menekankan agar pesan Prabowo terkait Bandung Spirit pada KAA BRICS ditindaklanjuti sebagai langkah strategis dan bukan sekadar romantic kenangan sejarah semata.

“Pernyataan Presiden Prabowo tentang Bandung Spirit di BRICS patut ditindaklanjuti sebagai gagasan strategis, bukan berhenti sebagai nostalgia sejarah. Salah satu langkah konkret yang dapat dipertimbangkan Indonesia adalah menggagas Konferensi Asia Afrika ke-2 untuk merevitalisasi Bandung Spirit sesuai tantangan abad ke-21,” tutur Djumala.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index