BSA Logistics Pacu Layanan Multimoda Pasca Akuisisi Bermuda Inovasi

Selasa, 01 September 2026 | 03:15:02 WIB
PT BSA Logistics Indonesia Tbk.

JAKARTA — PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA) membukukan kenaikan pendapatan sebesar 42,6 persen secara tahunan menjadi Rp1,95 triliun pada semester I 2026, walaupun laba bersih perseroan tertekan.

Investor Relations WBSA Ravenal Arvense menjelaskan bahwa peningkatan pendapatan ini menandakan cakupan aktivitas jaringan logistik perusahaan yang makin luas, baik lewat peningkat pesanan dari pelanggan lama maupun tambahan pelanggan baru.

“Pertumbuhan tidak hanya berasal dari penambahan pelanggan baru, tetapi juga dari semakin besarnya kebutuhan logistik pelanggan eksisting yang dapat dilayani melalui beberapa segmen sekaligus,” ujar Ravenal dalam siaran pers, Selasa (1/9/2026).

Mengacu pada laporan keuangan perusahaan, unit bisnis Freight Forwarding menyumbang porsi pertumbuhan paling dominan dengan raihan pendapatan Rp1,17 triliun di semester I 2026, melonjak 78,1 persen dari Rp655,7 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Di samping itu, pendapatan unit Land Transportation terangkat 8,8 persen secara tahunan menjadi Rp648,1 miliar dari Rp595,5 miliar. Segmen Warehousing & Storage turut merangkak naik 15,4 persen menjadi Rp132,8 miliar dari posisi Rp115,1 miliar.

WBSA mengoperasikan bisnisnya melalui tiga segmen utama, yakni Transportasi Darat, Jasa Pengurusan Transportasi atau Freight Forwarding, serta Pergudangan. Seluruh fasilitas ini mencakup angkutan darat, kargo, terminal logistik, pelabuhan, hingga aktivitas pelayaran.

Kendati demikian, tren pertumbuhan omzet tersebut belum diimbangi peningkatan perolehan margin. Laba kotor WBSA tergerus 20,7 persen menjadi Rp139,7 miliar pada semester I 2026 dari sebelumnya Rp176,3 miliar di semester I 2025.

Sementara itu, laba bersih WBSA merosot 95,5 persen menjadi Rp1,018 miliar pada paruh pertama 2026, dibandingkan perolehan Rp22,435 miliar pada periode yang sama di tahun sebelumnya.

Koreksi margin ini di antaranya dipicu penyusutan volume dari sektor tambang imbas imbas penyesuaian Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026, yang berimbas pada makin sengitnya persaingan di jasa logistik komoditas.

Guna mempertahankan pangsa pasar serta hubungan jangka panjang dengan basis konsumen, WBSA memilih menetapkan skema harga yang kompetitif demi kestabilan volume jaringan perseroan.

Manajemen memandang bahwa tekanan kinerja di semester I 2026 ini murni efek dinamika penyesuaian aturan RKAB dan sengitnya kompetisi persaingan pasar, sehingga belum mencerminkan potensi imbal hasil perseroan sesungguhnya.

“WBSA melihat adanya ruang bagi volume dan margin untuk bergerak ke tingkat yang lebih sehat apabila aktivitas produksi kembali meningkat, meskipun waktu dan besarnya penyesuaian akan tetap mengikuti kebijakan pemerintah serta perkembangan aktivitas pelanggan,” kata Ravenal.

Dari aspek pengembangan usaha, WBSA telah menuntaskan akuisisi PT Bermuda Inovasi Logistik (BIL) pada 2026 dengan mengucurkan dana IPO sebesar Rp215 miliar untuk kepemilikan 99,99 persen saham BIL.

Langkah strategis ini memberikan kontrol penuh atas PT Beruang Maritim Indonesia (BMI), pengendali operasional angkutan laut untuk berbagai tipe muatan mulai dari dry bulk, liquid bulk, alat berat, kontainer, hingga general cargo.

Masuknya unit bisnis pelayaran ini melengkapi daya saing layanan multimoda WBSA, sekaligus memperlebar ekosistem operasional di jalur darat dan laut dengan dukungan lebih dari 300 kapal serta 100 pemilik kargo di wilayah Indonesia.

Ke depan, perusahaan bakal memfokuskan optimalisasi kapasitas jaringan lewat ekspansi rute, perluasan basis pelanggan, efisiensi Inland Logistics Terminal (ILT), serta penguatan penetapan cross-selling antarsegmen.

Perseroan juga terus melanjutkan penerapan armad truk listrik pada lini agrikultur, sekaligus menjejaki pemanfaatan instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) pada fasilitas logistiknya.

Terkini