JAKARTA - Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto mendorong agar bantuan pada program pembangunan desa tak sebatas pemberian hibah belaka, melainkan diarahkan guna memperkuat pemberdayaan ekonomi warga secara konkret.
Menurut penjelasan Mendes Yandri, tiap agenda program yang digulirkan semestinya memberikan faedah berkesinambungan serta sanggup memicu produktivitas dan memajukan potensi ekonomi di kawasan perdesaan.
"Kalau program saat ini mesti melakukan pemberdayaan ekonomi, jadi bantuan tidak hilang sekali bantu. Misal jalan, itu dalam ketahanan pangan bisa menunjang ketahanan pangan atau dia menghasilkan produksi, misal desa tematik, desa melon, desa telur, dan lain sebagainya," kata Mendes.
Mendes Yandri menyebutkan bahwa berbagai intervensi bantuan ke desa diharapkan sanggup menjadi pemicu utama bagi pihak desa dalam mengoptimalkan potensi serta produk unggulan daerah setempat. Langkah tersebut penting agar geliat ekonomi produktif mampu terus bertumbuh pesat.
Poin penekanan tersebut turut disampaikan langsung oleh Mendes Yandri sewaktu menyambut audiensi Bupati Aceh Barat Tarmizi di Ruang Kerja Mendes, Jakarta, Kamis (3/9).
Pada pertemuan tersebut, Mendes Yandri menggarisbawahi krusialnya optimalisasi potensi desa guna menyokong pemenuhan pasokan pangan, termasuk menyukseskan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Ia memaparkan bahwa desa bisa diarahkan menjadi pusat komoditas unggulan tertentu yang sesuai karakteristik wilayah, lalu dikelola secara terpadu dalam satu kawasan melalui kolaborasi antardesa.
"Bahan MBG harusnya dari desa. Makanya, desa harus jadi desa petelur, desa cabai, desa tematik intinya. Kalau bisa, satu kawasan, satu jenis desa tematik. Nanti dibuat BUMDesma (Badan Usaha Desa Bersama). Nanti, saling bantu di satu kawasan," kata Mendes Yandri.
Inisiatif pengembangan desa tematik ini diharapkan mampu membentuk rantai pasok ekonomi dari hulu sampai ke hilir secara utuh dengan menempatkan warga lokal sebagai pelaku utamanya.
Lewat penguatan kemitraan antardesa dan BUMDesma, seluruh potensi hasil produksi desa dapat dikonsolidasikan secara efektif, sehingga menciptakan skala ekonomi yang lebih berdaya saing serta membuka akses pasar yang jauh lebih luas.