AWS Kehilangan Data Pelanggan Permanen Akibat Serangan Drone Iran

Jumat, 18 September 2026 | 09:49:00 WIB

ENERGINEWS.ID — Amazon Web Services mengonfirmasi sebagian data pelanggan di pusat data Bahrain dan Uni Emirat Arab hilang permanen setelah serangan drone Iran. Kerusakan meluas ke beberapa zona ketersediaan, dan AWS menyatakan tidak dapat memulihkan akses ke sumber daya yang terdampak di zona mec1-az2 UEA serta seluruh zona di Bahrain. Pemulihan penuh diperkirakan baru tuntas pada awal 2027.

Pengakuan tersebut muncul dalam pembaruan dasbor AWS yang diposting 15 September, sekitar setengah tahun setelah serangan pertama. Reuters melaporkan lebih dulu temuan ini sebelum dikutip sejumlah media teknologi.

Data yang hilang permanen berada di zona ketersediaan mec1-az2, salah satu dari tiga zona AWS di wilayah UEA. Setiap zona ketersediaan dilayani satu atau lebih pusat data.

Kerusakan di Bahrain Lebih Parah

Kondisi di Bahrain jauh lebih buruk. AWS menyatakan tidak dapat memulihkan akses ke sumber daya dan data di ketiga zona ketersediaan di negara tersebut.

"Kerusakan pada infrastruktur kami meluas ke beberapa Zona Ketersediaan dan melebihi kemampuan yang dirancang untuk ditahan oleh layanan regional dan multi-AZ kami," demikian pernyataan pembaruan AWS, dikutip dari Ars Technica.

Perusahaan masih berupaya mengembalikan sumber daya regional di dua zona UEA yang tersisa. AWS juga berjanji mengganti infrastruktur yang terdampak dan memberi kabar soal pemulihan layanan dalam beberapa bulan ke depan.

Kronologi Serangan

Drone Iran pertama kali menyerang pusat data Amazon di Bahrain dan UEA pada 1 Maret, beberapa hari setelah serangan AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari. AWS saat itu langsung meminta pelanggan memindahkan beban kerja ke wilayah cloud lain dan memakai cadangan jarak jauh.

Serangan lanjutan pada 1 April kembali menargetkan pusat data Amazon di Bahrain. Pembaruan AWS terbaru mengakui adanya gangguan di zona ketersediaan kedua wilayah itu pada April, meski sebagian besar pelanggan terdampak sudah mengikuti saran relokasi.

Pada 24 Juli, Korps Garda Revolusi Islam Iran meluncurkan serangan rudal yang menyasar struktur pusat data Amazon yang tersisa di Bahrain. Kerusakan itu dikonfirmasi independen lewat citra satelit.

Kompensasi dan Dampak ke Pelanggan

AWS sebelumnya menangguhkan penagihan pelanggan di wilayah Bahrain dan UEA. Perusahaan juga dilaporkan memberikan kredit senilai USD 150 juta (sekitar Rp 2,4 triliun) setelah serangan awal Maret.

Enam bulan terakhir dihabiskan AWS untuk mencoba memulihkan operasi normal. Namun hasilnya belum sesuai harapan, terutama untuk pelanggan yang datanya tersimpan di zona yang rusak total.

"Kami tetap berkomitmen untuk mendukung pelanggan kami di Bahrain dalam jangka panjang dan akan memberikan informasi terbaru lebih lanjut pada awal tahun 2027," kata AWS.

Efek Domino ke Sektor Lain

Perang AS-Israel dengan Iran berkembang menjadi konflik regional yang lebih luas. Serangan terhadap kapal di Selat Hormuz dan Selat Bab al-Mandeb memicu krisis energi global.

Sisi lain dari krisis ini adalah lonjakan minat global terhadap pembangkit listrik tenaga terbarukan, termasuk panel surya atap rumah. Permintaan energi bersih meningkat seiring kekhawatiran soal pasokan bahan bakar fosil.

Bagi pelanggan cloud di Asia Tenggara, insiden ini jadi pengingat pentingnya strategi multi-region dan pencadangan data di luar zona konflik. Layanan AWS di region SEA sendiri tidak terdampak langsung, tetapi kasus Bahrain dan UEA menunjukkan risiko nyata mengandalkan satu wilayah saja.

Terkini