JAKARTA - Keputusan manajemen Manchester United mengakhiri kerja sama dengan Ruben Amorim menandai berakhirnya sebuah fase yang penuh kekecewaan.
Saat pemecatan diumumkan, klub berada di posisi enam klasemen Premier League dengan tren performa yang menurun drastis.
Sejak awal kedatangannya, Amorim dinilai tidak pernah benar-benar menyatu dengan atmosfer Old Trafford. Hasil di lapangan menjadi cerminan paling nyata, hingga klub menilai perubahan adalah satu-satunya jalan demi peluang finis terbaik di liga.
Awal Kepemimpinan yang Sarat Keraguan
Penunjukan Amorim sejatinya membawa harapan besar. Reputasinya di Portugal dianggap mampu memberi warna baru bagi Manchester United yang tengah mencari identitas permainan.
Namun dalam praktiknya, periode awal justru dipenuhi inkonsistensi. Tim kesulitan menjaga ritme, sementara pendekatan taktik yang diterapkan belum mampu mengangkat performa secara kolektif.
Kondisi ini membuat tekanan datang lebih cepat dari perkiraan. Sorotan tajam mengiringi setiap hasil minor, mempersempit ruang adaptasi sang pelatih.
Statistik Buruk yang Sulit Terbantahkan
Angka-angka menjadi bukti paling telanjang dari kegagalan tersebut. Tingkat kemenangan Amorim hanya 38 persen, terburuk sepanjang era Premier League bagi manajer tetap Manchester United.
United cuma mengoleksi 58 poin dari 47 laga liga, atau rata-rata 1,23 poin per pertandingan. Jika ditarik ke satu musim penuh, capaian itu setara dengan 47 poin.
Dalam periode kepemimpinannya, United hanya menempati peringkat 14 klasemen keseluruhan, kalah poin dari Nottingham Forest, Fulham, Bournemouth, Everton, Brighton, dan Brentford.
Posisi Klasemen yang Terus Merosot
Capaian terbaik Amorim bersama United hanyalah finis di posisi 15 besar dengan 42 poin. Itu menjadi catatan terendah klub sejak degradasi pada musim 1973/1974.
Bagi klub dengan sejarah panjang dan ambisi besar, posisi tersebut jelas sulit diterima. Target kembali bersaing di papan atas terasa semakin menjauh.
Manajemen pun mulai mempertanyakan arah proyek jangka panjang. Evaluasi menyeluruh akhirnya mengarah pada keputusan pahit yang diambil.
Start Musim Paling Mengecewakan
Musim ini dibuka dengan awal terburuk sejak 1992/1993. United hanya meraih tujuh poin dari enam laga awal, membuat kepercayaan publik langsung menurun.
Kekalahan dari Grimsby di Piala Liga bahkan dicatat sebagai kekalahan finansial terbesar dalam sejarah sepak bola Inggris. Nilai skuad United disebut 257 kali lebih mahal dari lawan.
Situasi ini mempertegas kesenjangan antara kualitas pemain dan hasil di lapangan. Kritik terhadap Amorim pun semakin menguat.
Rapuhnya Lini Pertahanan
Masalah besar lainnya terlihat pada sektor pertahanan. Rasio clean sheet hanya 15 persen, terburuk di era Premier League bagi Manchester United.
Rata-rata kebobolan mencapai 1,53 gol per laga, menjadikannya rekor tertinggi yang pernah dicatat manajer United di liga.
Tim juga kebobolan lima gol dari serangan balik pada musim 2025/2026, angka terbanyak di Premier League. Ini menunjukkan lemahnya organisasi saat transisi bertahan.
Konsistensi yang Tak Pernah Terjaga
Selama masa jabatannya, United hanya dua kali mencatat kemenangan beruntun di liga. Satu-satunya rangkaian positif adalah tiga kemenangan beruntun pada Oktober.
Di luar periode singkat itu, performa kembali turun naik tanpa pola jelas. Kondisi ini membuat United sulit bersaing dengan tim papan atas.
Rasio poin per laga Amorim bahkan lebih buruk dibanding Alan Pardew, Sam Allardyce, dan Garry Monk. Sebuah perbandingan yang mempertegas kegagalan tersebut.
Belanja Besar Tanpa Hasil Setimpal
Dari sisi finansial, Amorim menghabiskan sekitar 290 juta poundsterling untuk mendatangkan pemain baru. Namun investasi besar itu tak berbanding lurus dengan hasil.
Jika dihitung kasar, United mengeluarkan sekitar lima juta poundsterling untuk setiap poin yang diraih di Premier League. Angka ini memicu kritik tajam dari publik.
Kebijakan transfer yang tidak efektif semakin memperkeruh suasana. Harapan membangun fondasi kuat justru berubah menjadi beban.
Akhir Era dan Masa Transisi
Setelah pemecatan Amorim, Darren Fletcher ditunjuk sebagai pelatih sementara. Klub kini fokus mencari sosok pengganti yang dianggap mampu membawa perubahan.
Nama Sir Jim Ratcliffe juga ikut disorot dalam proses pengambilan keputusan ini. Arah baru klub dinanti dengan penuh harap.
Warisan Amorim di Manchester United pada akhirnya lebih diingat sebagai deretan statistik mengecewakan. Sebuah periode singkat yang menjadi pelajaran mahal bagi klub sebesar Setan Merah.