JAKARTA - Tren penggunaan stiker kecil berbentuk bintang, hati, atau bulat transparan di wajah kini semakin mudah ditemui.
Banyak orang memakainya dengan harapan jerawat cepat kempis tanpa perlu perawatan rumit. Produk tersebut dikenal sebagai pimple patch atau acne patch, solusi instan yang dianggap praktis dan kekinian.
Di balik tampilannya yang sederhana, pimple patch sebenarnya memiliki fungsi khusus dalam perawatan kulit. Produk ini bekerja dengan cara menutup jerawat, menyerap cairan, serta melindungi area yang meradang dari bakteri luar. Tak heran jika pimple patch sering digunakan siang maupun malam, bahkan saat beraktivitas.
Namun, tidak sedikit pengguna yang mengeluh jerawatnya tak kunjung sembuh meski rutin memakai pimple patch. Alih-alih membaik, sebagian justru mengalami iritasi ringan atau jerawat semakin lama hilang. Kondisi ini kerap terjadi bukan karena produknya gagal, melainkan karena kesalahan dalam cara pemakaian.
Para dermatolog menegaskan bahwa pimple patch tidak bisa digunakan secara sembarangan. Ada aturan, batasan, serta kondisi tertentu agar hasilnya optimal. Berikut lima kesalahan paling sering dilakukan saat menggunakan pimple patch, sebagaimana dirangkum dari Everyday Health.
Pemilihan Jenis Jerawat yang Kurang Tepat
Salah satu kesalahan paling umum adalah menempelkan pimple patch pada semua jenis jerawat. Padahal, produk ini paling efektif bekerja pada jerawat yang sudah matang, seperti jerawat bernanah atau menonjol di permukaan kulit. Pada kondisi tersebut, cairan jerawat dapat terserap dengan maksimal.
Profesor klinis dermatologi dari Weill Cornell Medicine, Marisa Garshick, menjelaskan bahwa plester hidrokoloid bekerja optimal pada jerawat jenis papula dan pustula. Kandungan ini membantu menciptakan lingkungan lembap yang mendukung proses penyembuhan alami kulit.
Sebaliknya, pimple patch kurang efektif untuk komedo hitam, whiteheads, atau jerawat yang menyebar luas. Jenis jerawat tersebut membutuhkan perawatan berbeda dengan bahan aktif seperti asam salisilat atau retinoid. Mengandalkan pimple patch saja pada kondisi ini sering kali tidak memberikan hasil berarti.
Durasi Pemakaian yang Tidak Sesuai Anjuran
Kesalahan berikutnya berkaitan dengan lamanya pimple patch menempel di kulit. Banyak orang melepasnya terlalu cepat karena merasa tidak sabar, atau justru membiarkannya terlalu lama dengan harapan hasil lebih maksimal. Padahal, durasi pemakaian sangat memengaruhi efektivitasnya.
Idealnya, pimple patch digunakan selama enam hingga delapan jam, misalnya saat tidur malam. Dalam rentang waktu tersebut, bahan hidrokoloid bekerja menyerap cairan jerawat secara optimal tanpa mengganggu kulit di sekitarnya.
Jika dilepas sebelum enam jam, proses penyerapan belum berjalan maksimal. Sebaliknya, pemakaian lebih dari delapan jam tidak memberi manfaat tambahan dan pada kulit sensitif justru berisiko menimbulkan iritasi atau pori-pori tersumbat.
Mengombinasikan dengan Produk Aktif Lain
Banyak pengguna menempelkan pimple patch di atas kulit yang sudah dilapisi serum, krim, atau obat jerawat. Kebiasaan ini ternyata termasuk kesalahan serius yang sering tidak disadari. Tidak semua pimple patch dirancang untuk digunakan bersamaan dengan produk lain.
Profesor madya dermatologi dari Icahn School of Medicine di Mount Sinai menjelaskan bahwa ada pimple patch yang mengandung obat dan ada pula yang hanya berbahan hidrokoloid. Menggabungkannya dengan bahan aktif lain bisa meningkatkan risiko iritasi.
Garshick juga menyarankan agar pimple patch diaplikasikan pada kulit yang bersih dan kering. Penggunaan di atas produk aktif dapat menyebabkan penyerapan berlebihan, sehingga memicu kemerahan, kulit mengelupas, hingga rasa perih yang mengganggu.
Dipaksakan pada Kondisi Kulit Sensitif
Tidak semua jenis kulit cocok menggunakan pimple patch. Pemilik kulit sensitif perlu ekstra hati-hati karena perekat atau kandungan tertentu dapat memicu reaksi yang tidak diinginkan. Kesalahan ini sering terjadi karena anggapan pimple patch aman untuk semua orang.
Lamb memperingatkan bahwa penderita eksim atau rosacea sebaiknya menghindari penggunaan pimple patch. Kondisi kulit tersebut lebih rentan mengalami peradangan jika terkena tekanan atau bahan tertentu dalam waktu lama.
Selain itu, individu dengan riwayat alergi terhadap perekat atau bahan seperti benzoyl peroxide juga disarankan untuk tidak menggunakannya. Sebagai alternatif, Garshick merekomendasikan bahan yang lebih lembut seperti azelaic acid atau niacinamide, disertai pelembap bebas pewangi.
Menganggap Pimple Patch sebagai Pencegahan Jerawat
Kesalahan terakhir adalah menggunakan pimple patch untuk mencegah jerawat muncul. Banyak orang menempelkannya di area wajah yang terasa akan berjerawat, padahal fungsi produk ini bersifat reaktif, bukan preventif.
Pimple patch hanya bekerja pada jerawat yang sudah ada, bukan untuk mencegah terbentuknya jerawat baru. Meski beberapa produk mengandung asam salisilat, ukurannya yang kecil tidak mampu melindungi seluruh wajah dari masalah jerawat.
Untuk jerawat yang bersifat menyeluruh atau kronis, konsultasi dengan dokter kulit tetap menjadi langkah paling tepat. Perawatan menyeluruh dan terarah jauh lebih efektif dibandingkan hanya mengandalkan stiker jerawat sebagai solusi tunggal.