Bank Indonesia

Bank Indonesia Sebut Faktor Pelemahan Rupiah Dekati Rp17.000

Bank Indonesia Sebut Faktor Pelemahan Rupiah Dekati Rp17.000
Bank Indonesia Sebut Faktor Pelemahan Rupiah Dekati Rp17.000

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) menyatakan bahwa tekanan pasar keuangan global menjadi faktor utama pelemahan rupiah yang mendekati level Rp17.000 per dollar AS. 

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin G. Hutapea, menegaskan eskalasi tensi geopolitik serta ketidakpastian kebijakan moneter The Fed menjadi penyebab utama. Kondisi ini memicu peningkatan permintaan valuta asing domestik pada awal tahun 2026, sehingga nilai tukar rupiah melemah.

Tekanan Global Dorong Depresiasi Rupiah

Erwin menjelaskan bahwa tekanan pasar global bukan hanya berdampak pada rupiah, melainkan juga sejumlah mata uang regional. Won Korea melemah 2,46% secara year-to-date, sedangkan peso Filipina turun 1,04% dalam periode yang sama. 

“Pergerakan mata uang global, termasuk rupiah, banyak dipengaruhi meningkatnya tekanan di pasar keuangan dunia,” ujarnya. Pelemahan ini mendorong rupiah menutup perdagangan Selasa pada level Rp16.860 per dollar AS, atau terdepresiasi 1,04% secara tahunan.

Kebijakan BI Menjaga Stabilitas Rupiah

Untuk menghadapi tekanan tersebut, BI memastikan akan menjaga stabilitas rupiah melalui kebijakan berkesinambungan. Intervensi dilakukan baik di pasar domestik maupun internasional. Di pasar offshore, BI mengelola Non-Deliverable Forward (NDF) di kawasan Asia, Eropa, dan Amerika Serikat. Sementara di pasar domestik, bank sentral melakukan transaksi spot, DNDF, dan pembelian surat berharga negara (SBN) di pasar sekunder. Langkah ini dimaksudkan agar rupiah bergerak sesuai fundamental dan mekanisme pasar yang sehat.

Selain itu, BI menekankan pentingnya optimalisasi instrumen operasi moneter pro-market untuk memperkuat transmisi kebijakan moneter. Dengan cara ini, likuiditas domestik tetap terjaga, inflasi terkendali, dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dapat didukung. “BI konsisten menjaga stabilitas nilai tukar sehingga dapat menjaga stabilitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi,” kata Erwin.

Rupiah Sejalan Dengan Pergerakan Mata Uang Regional

Depresiasi rupiah sejatinya sejalan dengan tren regional. Erwin menyebutkan pelemahan mata uang Asia akibat sentimen global dan tekanan pasar yang meningkat. 

Faktor geopolitik, ketidakpastian suku bunga di negara maju, serta kebutuhan valas domestik pada awal tahun menjadi penyebab utama. Kondisi ini menunjukkan bahwa pergerakan rupiah tidak terjadi secara isolasi, tetapi terkait dinamika global yang kompleks.

Sejumlah mata uang di kawasan Asia juga tertekan dalam periode yang sama. Won Korea melemah 2,46%, sedangkan peso Filipina turun 1,04%. Hal ini menegaskan bahwa depresiasi rupiah adalah bagian dari pergerakan regional, bukan semata masalah domestik.

Langkah BI Untuk Stabilitas Jangka Panjang

BI menegaskan komitmennya untuk tetap berada di pasar guna menjaga rupiah sesuai nilai fundamental. Bank sentral akan terus memanfaatkan instrumen pasar untuk menjaga kecukupan likuiditas, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi. Penguatan transmisi kebijakan moneter dianggap penting untuk memastikan stabilitas nilai tukar tetap terjaga di tengah volatilitas global.

Selain itu, BI menekankan pentingnya mengoptimalkan mekanisme pasar yang sehat. Transaksi spot dan DNDF menjadi instrumen utama, sementara pembelian SBN di pasar sekunder memberikan fleksibilitas tambahan. Semua langkah ini dirancang agar rupiah tetap stabil dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Pergerakan Rupiah Terkini di Pasar Spot

Meski sempat tertekan, rupiah menunjukkan sedikit penguatan pada perdagangan Rabu pagi. Pukul 10.36 WIB, nilai tukar berada di posisi Rp16.863 per dollar AS, naik 0,08% dibanding penutupan sebelumnya. Penguatan ini bersifat terbatas, namun memberi sinyal bahwa intervensi BI dan sentimen positif domestik mulai menstabilkan rupiah.

Pelemahan rupiah yang terjadi sejak awal tahun menjadi perhatian bagi investor dan pelaku pasar. Namun, BI yakin dengan langkah stabilisasi dan koordinasi kebijakan, rupiah dapat bergerak lebih stabil, mendukung daya saing ekonomi, dan menjaga inflasi tetap terkendali.

Harapan BI dan Pemerintah

Dengan langkah-langkah yang dilakukan, BI optimistis stabilitas rupiah dapat dipertahankan meski tekanan global masih ada. Sentimen positif dari perbaikan ekonomi domestik dan penguatan pasar keuangan diharapkan dapat memperkuat posisi rupiah. Dukungan pemerintah dalam menjaga arus modal dan likuiditas juga menjadi faktor kunci.

Ke depan, rupiah diharapkan bergerak lebih stabil, meskipun tekanan global tetap ada. BI berkomitmen untuk memastikan nilai tukar rupiah mencerminkan fundamental ekonomi dan tetap mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Investor diharapkan tetap memantau kebijakan BI dan perkembangan geopolitik global yang memengaruhi pasar valuta asing.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index