Cara Mengawasi Penggunaan Gawai dan Screen Time Anak dengan Tepat

Cara Mengawasi Penggunaan Gawai dan Screen Time Anak dengan Tepat
Ilustrasi Screen Time Anak.

JAKARTA - Di era digital saat ini, kecemasan orang tua terhadap kebiasaan anak menatap layar gawai kerap berfokus pada durasi waktu pemakaian harian.

Kendati durasi penting, American Academy of Pediatrics (AAP) dan American Academy of Child and Adolescent Psychiatry (AACAP) menyebut hal itu bukanlah satu-satunya fokus.

Anak usia 8 hingga 18 tahun di Amerika Serikat rata-rata menghabiskan 7,5 jam sehari di depan layar, sehingga pengawasan menyeluruh amat diperlukan.

Ada beberapa langkah penting yang perlu diterapkan orang tua dalam mengawasi penggunaan gawai pada anak.

Pertama, tetapkan aturan penggunaan layar yang disesuaikan dengan tingkatan usia anak.

Anak di bawah 18 bulan sebaiknya hanya menggunakan layar untuk panggilan video, sedangkan usia 18–24 bulan boleh menonton tayangan edukatif bersama pendamping.

Untuk usia 2–5 tahun, batasi konten non-edukatif maksimal satu jam pada hari kerja dan tiga jam saat akhir pekan.

Bagi anak usia 6 tahun ke atas, orang tua perlu membangun kebiasaan digital yang sehat serta menetapkan batas area bebas gawai, seperti saat makan atau sebelum tidur.

Kedua, periksa jenis konten yang ditonton anak selain hanya menghitung durasi penggunaannya.

Kandungan bahaya seperti aksi kekerasan, perundungan siber, hingga konten yang tidak sesuai usia tetap bisa mengintai meski durasi main gawai tergolong singkat.

Penggunaan fitur kontrol orang tua dapat membantu, di samping sesekali mengecek aktivitas gawai anak secara langsung.

Ketiga, bangun komunikasi dua arah secara santai mengenai apa yang mereka lihat di media digital.

Orang tua disarankan bertanya tentang hal yang disukai atau ditemukan anak saat bermain gawai untuk melatih keterbukaan komunikasi sejak dini.

Keempat, pastikan anak tetap aktif dalam kegiatan fisik dan sosial di luar dunia digital.

Dorong anak untuk berolahraga, menyalurkan hobi, serta berinteraksi di ruang terbuka hijau atau kegiatan ekstrakurikuler.

Terakhir, bekali anak dengan pemahaman privasi internet dan daya kritis terhadap informasi maupun iklan di ruang digital.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index