Mitos Target 10.000 Langkah per Hari Ternyata dari Pemasaran Pedometer

Mitos Target 10.000 Langkah per Hari Ternyata dari Pemasaran Pedometer
Ilustrasi Jalan Kaki.

JAKARTA - Banyak masyarakat meyakini bahwa target 10.000 langkah per hari merupakan standar ideal untuk menjaga kesehatan. Namun, hasil tinjauan komprehensif terhadap 31 penelitian mengungkapkan bahwa angka tersebut sebenarnya tidak didasari oleh bukti ilmiah yang kuat.

Berdasarkan studi pada 2019, patokan 10.000 langkah tersebut kemungkinan besar berawal dari kampanye pemasaran produk pedometer generasi awal buatan produsen Jepang, Yamasa Clock and Instrument Company. Perangkat tersebut dinamai Manpo-kei, yang berarti meteran 10.000 langkah.

Nama tersebut awalnya dibuat hanya sebagai strategi pemasaran produk yang menarik dan bukan berupa rekomendasi medis. Meski demikian, nama itu melekat kuat dalam budaya kebugaran global hingga jutaan orang menganggapnya sebagai aturan mutlak.

Dr. Sean Heffron dari NYU Center for the Prevention of Cardiovascular Disease menjelaskan banyak pengguna alat pemantau kebugaran menganggap 10.000 langkah sebagai acuan bahwa mereka sudah cukup aktif. Padahal, standar angka tersebut tidak memiliki landasan bukti yang kukuh.

Penelitian yang dianalisis oleh Ding dan timnya terhadap 31 studi mengevaluasi hubungan antara jumlah langkah harian dengan berbagai indikator kesehatan. Hasil riset tersebut resmi dipublikasikan melalui jurnal The Lancet Public Health.

Hasil studi menunjukkan bahwa dibanding orang yang hanya melangkah 2.000 kali per hari, mereka yang mampu mencapai 7.000 langkah per hari memiliki risiko kematian akibat berbagai sebab 47 persen lebih rendah. Kelompok ini juga mencatat penurunan risiko penyakit kardiovaskular sebesar 25 persen serta risiko demensia 38 persen lebih rendah.

Pencapaian 7.000 langkah kira-kira setara dengan berjalan kaki selama 60 menit atau menempuh jarak sekitar 4,8 kilometer. Jumlah tersebut tidak harus diselesaikan dalam satu sesi sekaligus, melainkan dapat dicapai secara bertahap sepanjang hari.

Ding menyebutkan bahwa berjalan lebih dari 7.000 langkah tetap memberi kebaikan tambahan. Namun, poin utamanya adalah menyajikan batas bawah yang lebih realistis bagi masyarakat.

Gulati, direktur kardiologi preventif di Cedars-Sinai Medical Center, menyatakan, "Jumlah langkah menjadi metrik penting bukan karena jalan kaki adalah satu-satunya aktivitas yang dihitung, melainkan karena metrik ini memberikan perkiraan yang cukup akurat mengenai tingkat aktivitas fisik secara keseluruhan."

Ia menambahkan bahwa pelacak pergerakan menyajikan data yang jauh lebih jelas bagi analisis medis dibanding perkiraan waktu olahraga dari pasien semata.

Heffron memaparkan bahwa penurunan pergerakan tubuh membuat otot jarang bekerja, sehingga produksi zat exerkine berkurang. "Seiring menurunnya aktivitas ini, angka kejadian kondisi kesehatan yang merugikan justru meningkat," ungkap Heffron.

Gulati juga menggarisbawahi pentingnya pergerakan fisik dalam meningkatkan kekuatan otot serta menjaga tekanan darah dan kadar kolesterol. Bagi orang yang belum terbiasa aktif, memulai pergerakan secara perlahan sudah mampu membawa perubahan positif yang besar.

Aktivitas seperti menari, berkebun, hingga mendaki dapat dijadikan alternatif pilihan. Selain itu, kebiasaan berdiri dan berjalan singkat di tempat kerja atau menghentikan perjalanan bus lebih awal untuk berjalan kaki dapat terakumulasi menjadi waktu olahraga harian.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index