Karhutla 2026 Disebut Terparah, TAPG Galakkan Penanggulangan di Berau

Rabu, 02 September 2026 | 04:28:31 WIB
Petugas menaiki menara pemantau api yang berada di area konsesi sawit PT Yudha Wahana Abadi di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, Selasa (1/9/2026).

JAKARTA - Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang melanda wilayah Kalimantan pada 2026 diakui sebagai kondisi terberat dalam beberapa tahun terakhir. PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) melalui jajaran anak usahanya di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, turut memadamkan karhutla di sekitar area konsesi perkebunan sawit mereka.

Senior Estate Manager PT Yudha Wahana Abadi (YWA) Jabeglin Purba memaparkan bahwa fenomena kemarau dan Karhutla tahun ini menjadi yang paling parah sejak 2020. Sepanjang 2026 berjalan, tercatat ada 37 insiden kebakaran hutan dan lahan di area sekitar konsesi sawit milik perusahaan.

"Ini yang paling berat, karena satu bulan lebih tidak ada hujan, biasanya satu minggu, dua minggu sudah hujan. Jadi ya, 5 tahun terakhir ini yang paling beratnya," katanya di Berau, Kalimantan Timur, Selasa (1/9/2026).

Puncak kejadian berlangsung sepanjang bulan lalu dengan tiga insiden kebakaran di luar wilayah hak guna usaha (HGU) yang ditangani YWA, yakni pada 12, 21, dan 27 Agustus. Insiden paling masif terjadi pada 12 Agustus 2026 yang menghanguskan lahan seluas sekitar 10 hektare, sedangkan kejadian lainnya rata-rata berdampak pada 0,5 hingga 1 hektare lahan.

Jabeglin menegaskan bahwa langkah penanganan dan pencegahan telah dijalankan sesuai regulasi. Pemantauan titik api terintegrasi dengan teknologi satelit secara real time, ditambah patroli gabungan secara rutin di tengah musim kemarau.

Sarana pencegahan di area konsesi YWA diperkuat dengan dua unit gedung pemadam kebakaran, 16 embung air, 23 menara pemantau api, enam unit drone, serta patroli rutin. Di samping itu, pembentukan Kelompok Tani Peduli Api (KTPA) di empat desa operasional, yaitu Merapun, Merabu, Muara Lesan, dan Lesan Dayak, dilakukan guna mempercepat penanggulangan karhutla.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni sebelumnya menyampaikan bahwa Karhutla tahun ini lebih parah dibanding periode El Nino 2019 dan 2023. Pemerintah mencatat total luas Karhutla di Indonesia mencapai 202.004 hektare per Juli 2026, melonjak dari 137.007 hektare pada 2019 dan 92.924 hektare pada 2023.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur juga menetapkan status siaga darurat kekeringan serta karhutla hingga 30 November 2026 lewat Keputusan Gubernur Kalimantan Timur Nomor 100.3.3.1/K.277/2026 yang ditandatangani Gubernur Rudy Mas'ud.

Terkini