ENERGINEWS.ID — Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo melaporkan realisasi investasi di Jakarta menembus Rp270 triliun pada 2025, melonjak 162% dibandingkan posisi 2021 yang hanya Rp103 triliun. Pertumbuhan itu disampaikan di sela kunjungan ke Stasiun LRT Manggarai, Jakarta Selatan, Rabu (16/9/2026), bersamaan dengan rilis capaian ekonomi triwulan II/2026.
Pramono merinci pertumbuhan ekonomi Jakarta pada triwulan II/2026 mencapai 5,52% dengan tingkat inflasi 2,5%. Ibu kota juga menyumbang 16,32% terhadap perekonomian nasional pada periode yang sama.
"Kami laporkan Jakarta triwulan ini tumbuh 5,52%, inflasi 2,5%, dan Jakarta memberikan kontribusi bagi perekonomian kita 16,32%," kata Pramono di Stasiun LRT Manggarai, Jakarta Selatan.
Lompatan Investasi dari Rp103 Triliun ke Rp270 Triliun
Angka Rp103 triliun yang tercatat sepanjang 2021 menjadi pembanding yang dipakai Pramono. Dalam dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, realisasi investasi Jakarta melesat ke Rp270 triliun pada 2025.
Pada triwulan II/2026, nilai investasi Jakarta sudah mencapai Rp173 triliun. Pramono menilai capaian itu menandakan kondisi ekonomi Jakarta berada di jalur yang baik.
"Yang juga menggembirakan, Bapak Presiden, kalau dulu di tahun 2021 selama satu tahun penuh investasi Jakarta itu 103 triliun. Dalam era 2 tahun ini, dalam kepemimpinan Bapak, Jakarta tumbuh 162%," ujarnya.
Menurut Pramono, rasa aman, kenyamanan, dan kepercayaan investor menjadi penopang utama pertumbuhan tersebut. Faktor-faktor itu disebutnya membuat investor tetap menempatkan Jakarta sebagai tujuan utama penanaman modal di Indonesia.
Transportasi Publik Jadi Penopang Kepercayaan Investor
Konektivitas transportasi publik di Jakarta kini mencapai 93%. Jumlah pengguna transportasi umum juga naik rata-rata 15% setiap tahun selama dua tahun terakhir.
Pramono mengakui kemacetan masih terjadi di sejumlah titik. Meski begitu, ia menilai akses masyarakat terhadap transportasi umum jauh lebih mudah dibandingkan sebelumnya.
"Sehingga walaupun masih ada kemacetan pasti, tapi masyarakat di Jakarta merasakan bahwa sekarang ini jauh lebih mudah untuk menggunakan transportasi umum," tuturnya.
Kontribusi Jakarta terhadap Ekonomi Nasional
Porsi 16,32% terhadap perekonomian nasional menempatkan Jakarta tetap sebagai pusat aktivitas ekonomi terbesar di Indonesia. Pertumbuhan 5,52% pada triwulan II/2026 berada di atas rata-rata nasional pada periode yang sama.
Inflasi Jakarta yang tercatat 2,5% juga berada dalam rentang sasaran Bank Indonesia. Angka itu menunjukkan daya beli masyarakat ibu kota relatif terjaga di tengah tekanan harga global.
Pramono menyampaikan laporan tersebut di hadapan Presiden Prabowo, dengan menekankan bahwa capaian dua tahun terakhir tidak lepas dari stabilitas iklim investasi yang dibangun pemerintah pusat dan daerah.