Kemenkeu Bersiap Terbitkan Sisa Kuota Global Bond US$ 2 Miliar

Kemenkeu Bersiap Terbitkan Sisa Kuota Global Bond US$ 2 Miliar
Kemenkeu [FOTO: NET].

JAKARTA - Pemerintah melalui Kementerian Keuangan menjadwalkan peluncuran surat utang berdenominasi valuta asing atau global bond di sisa periode tahun anggaran ini. Langkah ini diambil mengingat pemerintah masih memegang alokasi kuota penerbitan global bond sebesar kisaran US$ 2 miliar yang belum dieksekusi.

Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Suminto memaparkan bahwa jajaran pemerintah siap merilis SBN valas pada kurun empat bulan pamungkas tahun 2026, walau penentuan tanggal resmi serta jenis mata uang yang dipakai masih menimbang situasi pasar.

“Sisa tahun masih akan menerbitkan valas (global bond). Hanya kapan (Waktu penerbitan) dan currency-nya, nanti sambil lihat dengan market-nya juga,” ujar Suminto, Selasa (15/9/2026).

Suminto membeberkan bahwa instansinya tengah mengkaji opsi sejumlah opsi instrumen mata uang untuk pelepasan global bond mendatang, yang mana masih berkisar pada denominasi dolar AS (USD), euro (EUR), renminbi (RMB), hingga yen Jepang (JPY).

“Fleksibel. Kami ya masih di sekitaran itu, masih USD, EUR, RMB, sama Yen,” katanya.

Saat dimintai konfirmasi mengenai peluang menyasar ceruk pasar negara baru, Suminto mengutarakan bahwa detail teknisnya masih dalam tahap pembahasan.

“Belum. Ya kan kami udah lengkap (denominasi SBN Valas),” ujarnya.

Sebagai catatan, pemerintah sebelumnya sukses melepas instrumen Panda Bond dengan total nilai CNY 7 miliar atau setara US$ 1,03 miliar, yang menembus kisaran Rp 18,53 triliun. Penjualan Panda Bond ini diposisikan sebagai bagian dari taktik pembiayaan untuk memperluas diversifikasi serta memperlebar akses ke pasar modal global.

Berbekal sisa jatah pagu sekitar US$ 2 miliar, jajaran pemerintah masih mengantongi ruang yang lapang untuk kembali mengeksekusi penerbitan SBN valas hingga pengujung 2026, dengan tetap memprioritaskan penyesuaian atas dinamika pasar finansial dan kebutuhan kas negara.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index