PT Timah Naikkan Porsi Timah untuk Industri Domestik dari 3% ke 16%

PT Timah Naikkan Porsi Timah untuk Industri Domestik dari 3% ke 16%

ENERGINEWS.ID — PT Timah Tbk (TINS) menaikkan porsi penjualan logam timah untuk industri dalam negeri dari sekitar 3% menjadi 16%, dengan target mencapai 20% pada akhir 2026. Selama ini hampir seluruh produksi perseroan, sekitar 95%, diekspor ke luar negeri.

Direktur Utama PT Timah Restu Widiyantoro menyampaikan angka tersebut dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI. Peningkatan porsi domestik ini disebut sebagai bagian dari mandat hilirisasi yang diemban perseroan.

Dari 3% Menjadi 16%

Restu menjelaskan bahwa sebelumnya hanya kurang dari 3% hasil produksi PT Timah yang dimanfaatkan sebagai bahan baku industri di dalam negeri. Kini porsi tersebut telah naik menjadi 16%, atau setara sekitar 200 ton logam timah yang diproses menjadi bahan-bahan industri domestik.

"Jadi yang sebelumnya hanya 3% yang diproses di dalam negeri, sekarang menjadi 16% atau dari segi tonasenya sekitar 200 ton logam timah yang diproses menjadi bahan-bahan industri dalam negeri," tuturnya.

Perseroan menargetkan porsi penjualan logam timah untuk kepentingan dalam negeri kembali meningkat hingga sekitar 20% pada akhir 2026. Restu menegaskan tidak semua produk logam akan dijual ke luar negeri, melainkan dilanjutkan melalui hilirisasi di dalam negeri.

Produksi dan Penjualan Melonjak

Hingga semester I-2026, produksi bijih timah TINS tercatat 12.232 ton Sn, naik 75% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 6.997 ton Sn. Lonjakan ini didorong optimalisasi produktivitas dan penambahan unit operasi pada sejumlah objek produksi, termasuk Kapal Isap Produksi (KIP), Ponton Isap Produksi (PIP), serta tambang darat kemitraan.

Sejalan dengan itu, produksi logam timah sepanjang semester I-2026 mencapai 10.865 metrik ton Sn, meningkat 58% dari semester I 2025 sebesar 6.870 metrik ton Sn. Penjualan logam timah tercatat 10.984 metrik ton, melesat 85% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 5.933 metrik ton.

Harga jual rata-rata logam timah sepanjang semester I 2026 mencapai US$ 49.794 per metrik ton, naik 52% dibandingkan semester I 2025 sebesar US$ 32.816 per metrik ton. Kenaikan ini sejalan dengan masih kuatnya harga timah di pasar global.

Pasar Ekspor Masih Dominan

Meski porsi domestik naik, penjualan logam timah perseroan pada semester I 2026 masih didominasi pasar ekspor dengan kontribusi 97%, sedangkan pasar domestik baru 3%. Enam negara tujuan ekspor utama meliputi China 36%, India 12%, Korea Selatan 11%, Singapura 6%, Belanda 5%, dan Italia 5%.

Perseroan optimistis mempertahankan momentum kinerja positif pada semester II 2026 seiring prospek industri timah global yang masih ditopang permintaan dari sektor elektronik, semikonduktor, kendaraan listrik, pusat data, dan teknologi berbasis kecerdasan buatan.

Laba Melampaui Target

Dari sisi kinerja keuangan, TINS mencatat laba bersih Rp2,71 triliun pada semester I 2026. Capaian tersebut melampaui target laba bersih tahun 2026 sebesar Rp1,61 triliun, atau setara 169% dari target.

Laba tersebut ditopang pendapatan hingga semester I 2026 sebesar Rp10,42 triliun, meningkat 247% dibandingkan semester I 2025 sebesar Rp4,22 triliun. Perseroan juga mencatat sumber daya timah 798 ribu ton dan cadangan timah 312 ribu ton sebagai fondasi keberlanjutan operasional.

Pergeseran porsi penjualan timah ke pasar domestik menandai upaya PT Timah memperkuat rantai nilai industri dalam negeri, bukan sekadar mengekspor bahan mentah. Dengan cadangan yang masih besar dan harga global yang kuat, arah hilirisasi ini akan menentukan seberapa besar nilai tambah yang tertinggal di Indonesia.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index